Perjalanan Hidup 87 Tahun "Manusia Ide" Mochtar Riady

Siapa yang tidak kenal tokoh Dr. Mochtar Riady. Pria kelahiran Batu, Malang 87 tahun silam ini merupakan salah seorang sosok yang disegani di Indonesia. Tidak hanya itu, Mochtar juga dikenal oleh beberapa orang penting di dunia dan dijuluki bankir 'bertangan emas'. Kiprahnya di dunia bisnis dan perbankan tidak bisa dipandang sebelah mata. Apapun yang disentuhnya pasti bisa tumbuh menjadi besar. Sebut saja Bank BCA yang awalnya merupakan bank kecil dan dipandang sebelah mata, saat ini menjadi salah satu bank yang berpengaruh di Indonesia. Ia juga dikenal sebagai pendiri dan Komisaris Utama Group Lippo.

043107800_1453805698-20160126-Mochtar-Riady-Luncurkan-Buku-Manusia-Ide-HEL2

Mengabadikan perjalanan hidup dan kariernya, pendiri Lippo Group ini membukukan kisahnya dalam otobiografi bertajuk 'manusia ide'. Dalam buku tersebut, ia bercerita mengenai perjuangannya selama 87 tahun dalam mencapai sukses.

Merintis bisnis mulai dari nol melintasi zaman, generasi, sektor, industri, negara, dan budaya hanya dengan berbekal ide. Ia juga menceritakan beberapa kisah menantang dalam hidupnya yang inspiratif. Buku ini juga banyak memuat mengenai filosofi hidup Mochtar  seperti 'menangkap kuda dengan menunggang kuda'.

Mochtar membuat dan menyusun sendiri isi bukunya di sela sela waktu kosong. Pada awalnya ia tidak pernah berniat untuk membuat otobiografi. Tajuk 'Manusia Ide'pun bukan merupakan slogan yang ia torehkan, melainkan bantuan dari penerbit.

“Sebenarnya saya tidak ada niat untuk membuat otobiografi. Saya bahkan pernah bicara dengan beberapa teman saya, kalau mau membuat biografi saya, tunggu saya tidak ada lagi di dunia ini. Jangan sekarang. Namun ada hal yang menggerakkan saya. Pada saat itu, saya melakukan perjalanan ke luar negeri selama 14 hari. Di situ saya bercerita dengan salah seorang teman saya mengenai perjalanan hidup saya. Selang 24 hari, ternyata datang kiriman berupa tulisan sebanya 200an lembar. Saya diminta untuk koreksi. Saya tidak mampu untuk mengoreksi, jadi saya tulis saja,” papar Mochtar.

Dalam otobiografinya, Mochtar membagi bagian dari hidupnya dengan 5 fase. Satu fase terdiri dari 20 tahun perjalanan hidupnya. Mochtar memaparkan bahwa fase pertama merupakan fase yang berat baginya. Masa kecil dilalui Mochtar dengan menghadapi empat masa peperangan. Termasuk pada saat ia turut berjuang dalam membela kemerdekaan Indonesia di usianya yang bisa dihitung jari. Namun di stulah ia mulai bermimpi untuk membangun hidupnya. Di 20 tahun berikutnya, Mochtar mulai merintis karier dan rumah tangga. Fase ini bukannya tanpa tantangan. Mochtar mulai belajar dari nol. Ia mewujudkan impian masa kecilnya dengan menjadi bankir. Hingga di fase ketiga, dia mulai mendapat kepercayaan untuk membangun dan membesarkan berbagai bank, termasuk di antaranya Panin Bank dan BCA yang sudah memiliki nama hingga saat ini. Setelah itu, ia keluar dari bankir dan mendirikan Lippo Group hanya bermodalkan ide. Mewarisi 20 tahun berikutnya, mochtar kemudian mendidik anak anaknya dengan pengalamannya agar berkontribusi untuk Indonesia.

“Ide merupakan modal utama bagi saya. Orang miskin itu bukanlah orang yang tidak punya uang. Tapi orang yang tidak punya ide. Namun ide tersebut tentunya harus dijalankan. Tidak disimpan,” ujar Mochtar.

Di samping ide yang terurai serta perjalanan hidupnya, sosok Mochtar juga dikenal sebagai pribadi yang peduli terhadap perekonomian Indonesia. Ia juga menghimbau para generasi muda agar dapat berkontribusi serta tidak pantang menyerah dalam melaksanakan dan mengembangkan idenya. Oleh sebab itu, ia juga menuliskan beberapa pemikiran demi memajukan kondisi perekonomian Indonesia tentang tantangan bangsa serta perekonomian nasional sebagai bentuk sumbangsihnya terhadap Indonesia. Beberapa pemikiran tersebut antara lain mengenai global competition, digital economy, serta service based economy.

“Pemikiran ini merupakan kombinasi dari Das Kapital karangan Karl Marx, Wealth of The Nation karya tulis Adam Smith. Saya melihat ada pergeseran ekonomi Amerika dari utara(manufaktur) ke selatan di sub valey (digital) hal ini mengisyaratkan bahwa nantinya perekonomian tidak lagi ada di manufakturing. Tapi lebih ke informasi,”ujar konglomerat yang masih bugar di usianya yang senja itu. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)