Perubahan Cepat Komunikasi Pemasaran

Ada sejumlah kejadian yang layak ditandai, sehingga lanskap komunikasi pemasaran secara praktis dan teori ikut berubah di Indonesia. Salah satunya adalah demam video blogging (vlog) dari selebriti tanah air. 

Saat masih bersama kala itu, pasangan seleb Gading Marten dan Gisel kerap membuat vlog terkait anak keduanya, Gempi. Impresi muncul relatif baik, karena viewer dan subscriber terus melesat pada saluran mereka. Keberhasilan ini lalu ditiru oleh selebritis lainnya, terutama yang sebelumnya sudah eksis di layar televisi. 

Sambutan audiens yang sebenarnya tak disangka ini kemudian menciptakan proses pembentukan jenama (brand/merek) yang relatif baru di Indonesia. Yakni tak lagi bergantung media massa yang sudah mapan sistemnya, namun hasil kreasi sendiri dengan melampaui banyak hierarkis eksisting. 

Simultan fenomena tersebut, muncul pula para kreator-kreator konten yang berhasil menyita perhatian publik sekalipun mereka berbeda dengan Gading dan Gisel yang lebih dahulu wara-wiri di media massa. Pada titik, sebutlah nama Awkarin, Reza Arap, Atta Halilintar, dan banyak lagi. 

Benang merah keduanya sama yakni mereka "sekedar" berbasis media digital, mencipta konten sendiri tanpa terkekang sistem penyiaran konvensional, dan intens produksi konten dalam gaya yang dihendaki masyarakat digital. 

Situasi ini mengingatkan pada luruhnya taktik lama jenama pada media massa tahun 90 hingga 2000-an.  Dahulu , ketika majalah dan tabloid di Indonesia pada puncak jayanya, sampel kosmetik dan parfum menjadi bonus dari media massa cetak periodikal tersebut. Selepas itu, ada juga bonus gelang yang diberikan media tersebut saat mengampanyekan sebuah program, sehingga kohesi merek dengan audiens tercipta. 

Kini, hal yang dinamakan inovasi kala itu, bukan hanya tak pernah kita lihat lagi. Tapi sekaligus media cetaknya pun satu per satu bergugur digilas era digital yang mengagungkan konten freemium (gratis tapi premium) sekaligus kebebasan kreasi kontennya tersebut.  

Kemudian, 75% konten majalah fesyen dunia dan di Indonesia (sebut saja Vogue, Elle, dan GQ) saat era keemasannya tahun tersebut pun pun berbasis iklan yang menonjolkan Celebrity Endorsement (CE) tersebut. Kini, majalah-majalah tersebut tersisa sedikit bergantikan metode komunikasi pemasaran khas selebgram yang personal, kustomisasi, dan minim hierarkis. 

CE menjadi salah satu strategi baru tapi sebenarnya lama dalam menarik atensi khalayak, terutama ketika media hari ini tak lagi sekedar menjadi pelengkap hidup masyarakat, namun juga telah hadir menyeruak penuh sesak pada keseharian kita (saturated media world).  

Saat media belum begitu sesak karena masih belum banyak media digital saat itu, sebutlah di tahun 90-an, Nike diuntungkan dengan kehadiran sosok CE dari seorang Michael Jordan. Pebasket legendaris Amerika Serikat ini mampu mengintegralkan spirit jenama khas Nike dalam persepsi ideal masyarakat tentang sportivitas, gaya hidup, dan ekslusivitas. 

Lalu, ketika kemudian fase saturated media world terjadi, korelasi CE dengan jenama kemudian kian menarik diperhatikan; Tak selalu keberadaannya menciptakan efek komunikasi pemasaran positif seperti diraih Nike, namun juga bisa bablas. Kate Moss, super model bertubuh kurus berwajah unik, tertangkap basah menggunakan kokain pada 2005 lalu. Namanya juga super model, maka pemberitaan soal itu digeber habis media massa kala itu. Hasilnya, tiga jenema yang gunakan jasanya yakni Channel, H&M, dan Burberry, pun dibuat kelimpungan jadinya.  

Betapa perubahan lanskap komunikasi pemasaran yang demikian cepat ini tak bisa dibendung. Sulit dihentikan. Maka, slogan khas mendiang Steve Jobs, berubah atau mati (innovate or die), kita rasakan makin deras dirasakan sekaligus dipraktekkan pada praktik dan pengetahuan terkait komunikasi pemasaran ini. 

Situasi-situasi semacam inilah yang coba dihadirkan penulis buku Digital Branding ini. Lingkungan yang berkembang dan berproses dalam dunia virtual, terutama yang terkait jenama dan turunannya, dikupas tuntas secara holistik baik dari sisi teori maupun praktik. 

Selain terkait CE, pembaca juga bisa memperoleh pengetahuan komprehensif terkait jenama digital pada bisnis travel agent (hal.151-159), fesyen (hal.177-186), review harga (hal. 189-194), beauty influencer (211-223), hingga dalam praktek keagamaan seperti di komunitas Unlimitted Worship (hal. 163-172). 

Berbekal pengalaman praktis sebagai salah satu manager humas termuda di sebuah jenama multinasional, sekaligus doktor senior di Binus University, buku ini secara pas memadukan pengetahuan praktis dan akademis secara bersamaan. Karena itulah, dengan meminjam testimonial dari salah satu dosen dan atau pakar media digital Indonesia dari UIN Jakarta, Dr. Rulli Nasrullah, maka buku ini, "Tak berlebihan rasanya jika dikatakan harus dibaca kalangan akademisi dan praktisi."  

Muhammad Sufyan Abd, Dosen Digital Public Relations Fakultas Komunikasi Bisnis Telkom University)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)