Saatnya yang Muda Tampil ke Depan

Judul : Passion and Purpose, Stories from the Best and Brightest Young Business Leaders

Penulis : John Coleman, Daniel Gulati, dan Oliver Segovia

Penerbit : Harvard Business Review Press, 29 November 2011

Tebal : 320 halaman

ISBN : 978-1422162668

Harga : US$ 25,95

Mereka muda, cerdas, dan berambisi. Sebagian di antara mereka telah merintis bisnis sendiri yang bernilai jutaan dolar, sebagian yang lain ada yang mengelola bisnis keluarga di bidang energi terbarukan di Teluk Persia, dan yang lainnya aktif di kegiatan sosial untuk mengatasi kemiskinan di Kenya dan Tanzania. Mereka adalah generasi muda yang mampu memberikan dampak global. Mereka adalah anak muda pemegang gelar MBA dari berbagai sekolah bisnis ternama di Amerika Serikat (AS).

Melalui buku ini, mereka semua bercerita dan berbagi ide, visi, dan inspirasi untuk mendefinisikan ulang peran kepemimpinan yang dapat membentuk dunia yang lebih baik di masa mendatang. Penulis buku ini adalah tiga orang lulusan MBA dari Harvard Business School (HBS) tahun 2010. Mereka menulis buku ini berdasarkan survei terhadap 500 mahasiswa dari sekolah bisnis ternama di AS, seperti HBS, Stanford, Darden, Tuck, Wharton, dan MIT Sloan. Untuk memperkaya pemahaman tentang visi dunia di masa mendatang, mereka melengkapi survei tersebut dengan mewawancarai pemimpin terkemuka dunia di berbagai bidang seperti Nitin Nohria (Dekan HBS), Dominic Barton (Direktur Pengelola McKinsey), dan David Gergen (Analis Politik CNN, Direktur Center for Public Leadership di Harvard Kennedy School).

Beberapa isu terhangat yang menjadi perhatian utama para pemimpin muda ini adalah globalisasi, perkembangan teknologi, keberagaman, keberlanjutan, proses belajar, dan konvergensi (kerja sama antarsektor). Mereka anak-anak muda yang belajar dari kegagalan kepemimpinan yang mengakibatkan krisis finansial yang dimulai tahun 2008, dan mereka memiliki keyakinan bahwa generasi muda memiliki visi baru yang ditawarkan untuk memperbaiki masa depan. Mereka berharap, kontribusi positif mereka dapat membuat hidup mereka lebih bermakna (meaningful), bergairah (passionate), dan memiliki tujuan (purposeful).

Dalam isu kerja sama lintas sektor (konvergensi), kemampuan dan pengalaman bekerja di berbagai sektor – profit, nonprofit, pemerintah – sangat membantu para pemimpin muda ini dalam mengidentifikasi masalah yang dihadapi sekaligus mengambil keputusan yang tepat dan cepat. Permasalahan paling rumit yang ada di dunia, seperti penyakit AIDS di Afrika, membutuhkan pendekatan kolaboratif lintas sektor dalam merumuskan solusi yang paling tepat. Dalam menangani kasus AIDS di Afrika misalnya, solusi tidak akan didapat dengan hanya mengandalkan peran perusahaan farmasi seperti Glaxo-SmithKline untuk memberikan obat secara langsung kepada pasien. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah setempat, LSM seperti Doctors without Borders, dan yang tak kalah penting peran penyandang dana semisal WHO atau Bill & Melinda Gates Foundation.

Mengenai isu globalisasi, para pemimpin muda ini berpendapat bahwa globalisasi adalah hal yang tak terelakkan di masa mendatang, dan harus disikapi dengan cerdas. Berdasarkan IBM Global Leaders Survey pada 2010 yang menanyakan faktor utama yang memengaruhi organisasi di masa mendatang, 55% pemimpin muda ini menempatkan globalisasi di posisi pertama (halaman 56). Karena semakin vitalnya peran globalisasi di masa depan, mereka berpandangan bahwa bekerja di lingkungan internasional merupakan sebuah kebutuhan bagi para pemimpin masa depan. Dalam survei buku ini disebutkan bahwa rata-rata mayoritas responden telah memiliki pengalaman bekerja di 3,8 negara, termasuk negara asalnya. Bahkan, responden yang lahir di luar AS rata-rata telah bekerja di 5,3 negara.

Mereka berpendapat, memiliki pengalaman bekerja di berbagai negara membuat mereka mampu mengembangkan keahlian, pengetahuan, jaringan, dan beradaptasi di berbagai budaya yang berbeda. Pengalaman ini yang dibutuhkan bagi pemimpin masa mendatang. Dominic Barton berpendapat bahwa pemimpin di era globalisasi adalah pemimpin yang mampu beradaptasi dan memahami keragaman budaya, mengelola tim, dan mengendalikan jaringan yang tersebar di berbagai belahan dunia. Namun, pemahaman akan konteks dan budaya negara asal tetap berperan penting dalam kesuksesan pemimpin masa depan. Those who do not appreciate their roots shall never succeed.

Dalam isu keberagaman (diversitas), 92% pemimpin muda ini setuju bahwa keberagaman di tempat kerja akan meningkatkan outcome dalam dunia bisnis. Isu ini juga menjadi perhatian di berbagai sekolah bisnis ternama. Program MBA HBS misalnya, pada 1975 hanya terdapat 11% mahasiswa perempuan, 6% yang mewakili golongan minoritas AS, dan 23% mahasiswa internasional. Pada 2010, komposisi ini berkembang menjadi 35% perempuan, 23% mewakili minoritas AS, dan 34% mahasiswa internasional. Bahkan, di INSEAD pada 2010, 92% mahasiswanya adalah mahasiswa internasional, dan 33% mahasiswanya adalah perempuan. Keberagaman membuat generasi muda memiliki cara pandang yang inklusif dalam melihat suatu masalah.

Yang menarik, para pemimpin muda ini berpendapat bahwa kepedulian sosial juga menjadi bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab pemimpin masa depan. Ini ditunjukkan langsung misalnya oleh Abigail Falik. Lulusan MBA HBS tahun 2008 ini membentuk Global Citizen Year, social enterprise yang bertujuan mengirimkan para pemuda bertalenta untuk membantu pendidikan di Afrika dan Amerika Latin. Juga ada Kapten Rye Barcott, mantan marinir dan pemegang MBA HBS yang berjuang mengatasi masalah kemiskinan di Kibera, daerah miskin di Kenya.

Buku ini memang kental sekali dengan nuansa Harvard-nya yang penuh percaya diri, disertai sisipan berbagai jargon bombastis yang terdapat di hampir seluruh bab. Beberapa orang mungkin akan mendapati kesan yang cukup arogan dari para lulusan MBA Harvard ini yang seakan-akan mampu mengubah dunia seketika. Namun, jika ditinjau dari sisi yang positif, hal tersebut justru dapat menjadi sumber inspirasi bagi tokoh muda di seluruh dunia, juga di Indonesia, untuk mulai memberikan kontribusi positifnya bagi masyarakat sekitar saat ini.

Menyikapi fenomena tampilnya para pemimpin muda yang marak didapati kini, termasuk yang terjadi di Indonesia, ada sebuah pesan yang harus diperhatikan. It is good to be young on top, but the most important thing is, be passionate and purposeful wherever we are.

 

Yudo Anggoro

Staf pengajar SBM ITB, kandidat doktor

Kebijakan Publik di University of North

Carolina, Charlotte, Amerika Serikat.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)