Taktik Baru Hadapi Era Mobilisasi dan Orkestrasi

Rhenald Kasali saat peluncuran buku #MO di Rumah Perubahan, (13/8). (foto: Jeihan Kahfi/SWA)

Sebagai lanjutan dari buku seri disrupsi, Rhenald Kasali kembali meluncurkan karya terbaru yang dituangkan dalam buku #Mo: Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham. Buku ini meninjau fenomena dan berbagai kasus mobilisasi dan orkestrasi yang belakangan marak di dunia hyperconnected society saat ini.

Dikenal sebagai ‘Bapak Disrupsi Indonesia’, Rhenald mencatat bahwa digitalisasi kehidupan telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap cara setiap orang melakukan konsumsi, kegiatan ekonomi produktif, menyebarkan infomasi dan menjalani kehidupan itu sendiri. Hal ini berpengaruh terhadap banyak hal, mulai dari marketing. komunikasi publik. pelayanan jasa publik, leadership hingga pengelolaan ekonomi.

“Di era sekarang ini banyak perusahaan di berbagai industri mengalami fenomena ‘the main is no longer the main’ atau gejala berupa kehilangan sumber pendapatan utama dari core business-nya,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia tersebut.

Inilah era #MO. Era yang membuat banyak teori-teori bisnis jadi usang dan berbagai model bisnis tak lagi relevan. Banyak orang yang kebingungan. Dan yang pasti, era yang membuat banyak orang yang gagal paham. Termasuk, di kalangan akademisi yang masih berkutat dengan teori dan asumsi lama.

Salah satu ciri era MO adalah munculnya mobilisasi berbagai isu melalui media sosial dengan menggunakan tagar. Dimulai dari hal-hal sepele, kemudian membesar hingga menciptakan gerakan mobilisasi yang diikuti banyak netizen. Ada satu-dua yang dampaknya positif. Namun banyak juga yang bersifat sebaliknya. Upaya mobilisasi ini bisa berakibat gagalnya bangsa-bangsa melanjutkan pembangunan, bahkan kehilangan reputasi dan dukungan publik.

Selain mobilisasi, era MO juga ditandai dengan munculnya cara-cara baru dalam value creation yang menjadi dasar ekonomi produktif. Bila dulu value creation bersifat internal dan didapat dari aset-aset tangible melalui skala ekonomis, kini justru didapat dari sisi permintaan melalui ekosistem.

Karena itulah timbul kebingungan-kebingungan. Salah satunya adalah menentukan siapa pemilik unicorn di Asia Tenggara. Hal lain yang juga memunculkan gagal paham adalah mekanisme valuasi akutansi tentang keuntungan dan kekayaan perusahaan digital, atau perusahaan yang mulai melakukan digitalisasi.

Berbicara mengenal model bisnis yang baru, sebelumnya perusahaan-perusahaan besar yang incumbent cenderung selalu melakukan kontrol resources dalam rantai produksinya. Namun di era sekarang hal itu sudah tak relevan lagi. Saat ini yang diperlukan bukan lagi mengontrol resources, namun bagaimana membangun ekosistem bisnis yang memungkinkan pelaku bisnis bisa melakukan orkestrasi atas berbagai resources yang ada di luarnya.

Di dalam buku setebal 422 halaman yang diterbitkan Penerbit Mizan ini dijelaskan mobilisasi dan orkestrasi tak terjadi begitu saja. Ia muncul sebagai wujud dari revolusi industri 4.0, di mana mesin dan segala benda, baik buatan alam maupun manusia sama-sama terhubung dengan manusia dari segala belahan dunia.

Mobilisasi dan orkestrasi merupakan bagian dari interconnected society yang timbul karena ada enam pilar teknologi, yaitu lnternet of Things (loT), Cloud Computing, Big Data Analytics, Artificial Intelligence, Super Apps, dan Broadband Infrastructure. Meskipun gejala-gejala mobilisasi dan orkestrasi tersebut kian jelas, masih saja ada yang gagal paham karena ketidaktahuan dan terperangkap oleh paradigma lama. “Karena itulah kita membutuhkan lensa baru untuk meneropong apa yang sebenarnya tengah terjadi agar tidak terjadi gagal paham,” ungkap Rhenald.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)