Tip Praktis Menarik Modal

Judul : Mastering the VC Game

Penulis : Jeffrey Bussang

Penerbit : Portfolio, 2010

Tebal : 246 halaman

Apa persamaan antara Amazon, Facebook, Twitter, Google, Apple, Microsoft dan Starbucks? Bisnis yang luar biasa sukses. Satu hal yang jarang diketahui publik: satu persamaan kunci sukses mereka adalah didanai modal ventura (venture capital atau VC) di masa awalnya.

Penulis buku ini, Jeff Bussang, sendiri adalah bekas start-up entrepreneur dengan dukungan VC yang kemudian menyeberang menjadi seorang VC. Dengan demikian, perspektif yang ditawarkan sangat riil dan berimbang. Kedua sisi pandangan dipaparkan secara jelas: dari sisi entrepreneuryang mencari modal dari VC serta dari sisi VC yang akan memberikan modal kepada entrepreneur.

Faktor sukses yang paling utama dalam menarik dana adalah passion. Dari pengalamannya, Jeff melihat bahwa semua entrepreneur yang sukses pasti memulainya dari passion dan uang tidak pernah menjadi faktor utama. Patut diingat bahwa entrepreneur yang mencari dana VC biasanya ingin menciptakan sesuatu yang belum pernah ada, bahkan mungkin modelnya juga belum ada sama sekali. Dengan demikian, faktor apakah yang dapat dijual kepada pihak pemodal selain passion?

Dr. Christopher Westphal berhasil menarik dana US$ 5 juta untuk mendirikan Sirtris dengan keyakinan akan dapat memperpanjang usia manusia. Untuk mempersingkat waktu risetnya, dia dan timnya tidak ragu-ragu menguji 6 formula ke dalam tubuhnya sendiri. Twitter didirikan Jack Dorsey karena passion-nya untuk memetakan pergerakan manusia dan peristiwa secara real-time. Reid Hoffman menggunakan uang hasil penjualan PayPal untuk mendirikan LinkedIn karena passion-nya untuk menghubungkan manusia guna meningkatkan aktivitas profesional dan kehidupan. Entrepreneur yang sukses adalah mengenai passion, impian dan mengubah dunia. Karena itu jugalah, entrepreneur akan berpaling ke VC untuk modal dan nasihat bisnis.

VC biasanya akan membiayai perusahaan dengan ide terobosan yang berpotensi mengubah permainan bisnis yang sudah ada, tetapi membutuhkan dana yang sangat besar untuk memulainya. VC biasanya membuat keputusan investasi mereka dengan proses yang demokratis, bukan secara hierarki sebagaimana di perusahaan biasa. Keputusan dari diskusi grup dan debat akan memberikan keputusan investasi yang jauh lebih baik daripada keputusan satu orang yang luar biasa smart.

Setiap VC memiliki model investasinya sendiri. Ada yang khusus investasi di perusahaan yang baru dimulai dengan kebutuhan dana yang sangat kecil dan ada yang mengkhususkan diri di perusahaan start-up dengan dana yang sangat besar. VC juga memiliki industri “sweet spot” -- industri khusus yang menjadi kesukaan dan keahlian mereka. Kuncinya, kenali model investasi VC agar efektif dalam mendekati mereka. Selain itu, VC juga menganalisis sebuah prospek investasi dengan melihat visi dan timnya. Singkat kata, formula untuk menghimpun dana yang sukses adalah “Sweet spot + compelling vision + right people”.

Modal VC sendiri biasanya berasal dari dana abadi universitas (endowment), dana pensiun publik dan perusahaan, dana investasi negara (sovereign wealth fund), keluarga kaya ataupun dana khusus (funds of funds).

VC sendiri mendapat management charge sebesar 2%-2,5% dari sumber dana setiap tahun untuk membayar gaji dan pengeluarannya. Management charge bukanlah sumber pendapatan utama bagi VC; sumber laba terbesar (dan terutamanya) adalah dari 20%-25% dari keuntungan apabila dana yang dikelola tersebut berhasil.

Bab 4, When the Dog Catches the Bus, membahas dengan detail sisi teknis perjanjian dengan VC. Kedua belah pihak mulai mengalami “ujian pertama” pada saat menegosiasikan term sheet. Dari sisi entrepreneur, negosiasi ini dapat diibaratkan negosiasi untuk merekrut seorang bos yang tidak akan pernah bisa kita pecat. Memilih VC yang tepat dengan term yang fair berarti mendapatkan angin di belakang yang akan mendorong kita maju lebih cepat serta membantu kita untuk fokus pada tantangan bisnis dan penciptaan nilai.

Sesudah terjadi deal, VC telah resmi menjadi bagian dari napas perusahaan. Secara umum, VC yang bagus harus memiliki tiga karakter: ahli di bidang tersebut, penyemangat, dan pemberitahu fakta. Dalam menjalankan aktivitas bisnis, seorang entrepreneur harus mengikuti aturan 80/20. Maksudnya, 80% dari waktunya dihabiskan untuk menjalankan bisnis dan 20% untuk memikirkan langkah selanjutnya. Selain itu, entrepreneur juga harus terbuka untuk nasihat dari luar serta mengumpulkan pandangan yang smart dan beragam untuk membentuk pemikiran kita sendiri.

Dalam mengambil keputusan investasi, VC tidak hanya menganalisis potensi keuntungan, tetapi juga kepribadian, karakter dan kimia dengan entrepreneur tersebut. “Mendapatkan dana dari VC sama seperti pernikahan, tetapi tidak untuk seumur hidup.”

Ya, pada akhirnya entrepreneur akan bercerai dengan VC dan “perceraian” ini akan menjadi roller coaster emosi entrepreneur. VC adalah perusahaan investasi yang mengharapkan imbal balik dengan cash out, sementara untuk entrepreneur, cash out menjual bayi yang dikandungnya sendiri. Menarik dana VC artinya harus mempersiapkan diri secara mental di awal untuk cash out. VC biasanya cash out dengan dua jalan: IPO atau penjualan kepada pihak lain, baik perusahaan ataupun investor lain.

Prinsip dasar dalam buku ini dapat diaplikasikan secara universal dalam usaha menarik modal -- ataupun dalam keputusan berinvestasi di bisnis lainnya sekiranya memiliki modal dan kesempatan. Industri VC di Indonesia masih belum sekuat di Amerika Serikat. Walaupun demikian, industri VC juga mulai berkembang secara pesat di Asia seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur perekonomian. Sepuluh tahun lalu industri VC di Cina masih nol, sedangkan saat ini nilainya telah mencapai US$ 2 miliar. Demikian pula Vietnam dengan Henry Nguyen yang didukung IDG yang memiliki investasi di VinaGames. Hebatnya perusahaan dukungan VC terasa jelas untuk VinaGames. Dengan dukungan modal dan nasihat dari VC, saat ini VinaGames telah dimainkan oleh sekitar 14 juta orang -- sekitar separuh rumah tangga Vietnam.

Di AS sendiri diperkirakan hanya ada sekitar 882 VC pada 2008. Sebesar 18% dari PDB AS berasal dari perusahaan yang didukung VC. Hal ini dapat dimengerti karena entrepreneur memiliki ide yang brilian sementara VC memiliki modal yang luar biasa kuat. Perpaduan keduanya menjadi mesin pertumbuhan yang luar biasa. Kisah sukses Microsoft, Cisco, Compaq, Starbucks dan Google adalah contoh nyatanya.

Manusia masih harus menjawab tantangan energi masa depan, obat, sistem telekomunikasi yang dibutuhkan miliaran manusia di dunia ini. Perpaduan visi, passion, inovasi dan sentuhan modal akan menjawab tantangan ini sekaligus menjadi peluang bisnis bagi yang jeli.

Indonesia bukan mustahil akan berada dalam radar pemain VC global. Sama seperti yang ditulis di halaman 198 buku ini, mengapa Anda tidak mencoba memulai “eBay, Google, Amazon or Facebook of Indonesia”?

*) Peresensi adalah konsultan sebuah perusahaan asing.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)