Transformasi Menuju Dunia Digital


Judul: The Network Imperative: How to Survive and

Grow in the Age of Digital Business Models

Pengarang: Barry Libert, Megan Beck & Jerry Wind

Penerbit: Harvard Business Review Press

Cetakan: Pertama, Oktober 2016

Tebal: viii + 230 halaman

EKO WIDODO

Peresensi adalah Dosen Program Studi Administrasi Bisnis, Unika Atma Jaya, Jakarta

Perkembangan jaringan digital telah mengubah banyak aturan di dunia bisnis saat ini. Berbagai perusahaan yang berbasis jaringan seperti Amazon, Google, Uber dan Airbnb mengubah proses bisnis dan peta persaingan secara radikal. Para pemain lama dipaksa menyesuaikan diri untuk menghadapi bentuk bisnis berbasis jaringan yang tumbuh melesat, baik skala bisnis maupun keuntungannya.

Sekitar 30 tahun lalu, ketika semua aset yang dimiliki perusahaan pada hakikatnya barang yang nampak (tangible), pemimpin perusahaan yang dianggap terbaik adalah mereka yang bisa memelihara, memperoleh dan mendanai aset fisik tersebut. Mereka umumnya berkonsentrasi pada hal yang terkait dengan masalah bagaimana mengatur proses manufaktur agar bisa dijalankan seefisien mungkin, pintar dan terampil dalam merekrut dan mengelola ribuan karyawan, menjaga laju operasional perusahaan agar dapat tetap mengalir dengan baik dan menumbuhkembangkan perusahaan hingga berada dalam skala yang kompetitif. Di tahun-tahun sekitar 1985 itu, mantra di bidang pengelolaan bisnis adalah six sigma atau lean manufacturing. IBM, Coca-Cola dan Toyota adalah beberapa contoh perusahaan yang sukses menerapkannya.

Sekarang, terjadi perubahan besar yang memengaruhi bagaimana cara mengatur dan mengelola kehidupan kita bersama. Pertama, tumbuhnya teknologi digital yang telah berkembang dengan cepat dan dalam sekejap telah menyebar ke segala penjuru kehidupan masyarakat. Kedua, perubahan keadaan yang cepat dan besar dalam skala global di segala aspek kehidupan manusia.

Kita telah memasuki zaman digital. Pengelolaan dan keunggulan perusahaan lebih bertumpu pada pengelolaan aset yang tidak nampak (intangible) dan jaringan (network) seperti Apple, Google, Amazon dan Starbucks. Kondisi ini memerlukan perubahan berpikir (mindset) yang berbeda, walaupun kenyataannya berpikir secara berbeda tidaklah mudah. Pasalnya, sebagian besar CEO yang mengelola perusahaan besar adalah mereka yang lahir di zaman pradigital. Pola manajerial dan kebiasaan mereka masih banyak terpengaruh pola pengelolaan di zaman pradigital. Karenanya, segala resep sukses 10 atau 20 tahun lalu sering tak berlaku lagi pada masa kini. Laporan CEO.com menemukan, pada 2015, 61% CEO yang ada tidak terlibat dalam aktivitas media sosial dan yang sejenisnya seperti Twitter, Facebook, Instagram dan LinkedIn. Dengan demikian, mereka tidak berada dalam satu frekuensi dengan generasi milenium yang semakin mendominasi segala wacana yang berlangsung saat ini.

Transformasi digital yang berlangsung ini memengaruhi setiap sektor bisnis. Para investor, karyawan berbakat ataupun pelanggan telah beralih dari bisnis konvensional ke bisnis atau organisasi yang berbasis jaringan. Alhasil, kesenjangan antara pelaku baru dan pelaku lama di bisnis jaringan digital ini kian lama kian melebar. Maka, pertanyaan yang layak diajukan, bukan perlukah organisasi Anda segera berubah menghadapi kondisi ini, melainkan lebih pada kapan dan seberapa besar organisasi Anda hendak melakukan perubahan. Karena, di alam digital ini, agar tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, semua perusahaan harus berubah agar mampu beradaptasi dengan baik. Namun, walau dunia bisnis telah berubah, sering kali kita enggan untuk berubah. Kita malas meninjau kembali apa yang telah dilakukan sebelumnya karena apa yang telah kita lakukan telah mendarah daging dalam diri kita sedemikian rupa, sehingga telah membentuk suatu pola atau kebiasaan tertentu yang sulit diubah. Inilah yang menyulitkan diri kita berubah.

Secara umum, setiap model bisnis berdasarkan empat jenis modal, yaitu modal fisik, modal manusia, modal intelektual dan modal jaringan. Dewasa ini, untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat, titik berat lebih diletakkan pada kuantitas dan kualitas modal jaringan dibanding jenis modal yang lain. Kekuatan pendorong suatu organisasi di balik perubahan yang sangat cepat ini telah beralih dari yang yang bersifat nampak menjadi tidak nampak, dari fisik ke digital, dan dari organisasi yang berpusat pada suatu perusahaan tertentu berubah ke organisasi yang berbasis jaringan.

Buku ini bertujuan membantu perusahaan yang masih menggunakan pola bisnis lama agar memiliki kemampuan untuk menjembatani kesenjangan dan menciptakan pertumbuhan dan nilai yang berharga dalam lingkungan jaringan digital yang sangat besar dewasa ini. Dibahas dalam buku ini kunci-kunci yang diperlukan agar perusahaan dapat cepat beradaptasi dengan situasi alam digital. Terutama, perubahan pola pikir (mindset). Berbagai perubahan pola pikir dalam memandang sesuatu disajikan dalam buku ini. Sebagai contoh, perubahan dalam cara pandang terhadap pelanggan dan sistem akuntansi yang digunakan oleh perusahaan. Contoh pertama, semakin disadari bahwa pelanggan yang paling berharga adalah pelanggan yang tidak hanya memberikan uang pada perusahaan tetapi juga membantu mempromosikan produk dan jasanya, serta menyampaikan berbagai gagasan, wawasan, jasa dan hubungan bagi perusahaan. Pelanggan seperti ini bisa dinamakan sebagai kontributor. Pelanggan, di sisi lain, juga lebih suka diperlakukan sebagai aset yang mampu berbagi nilai dengan perusahaan daripada sekadar sebagai konsumen yang pasif.

Contoh kedua, perubahan cara pandang dari akuntansi menjadi data besar (big data). Menggunakan data yang besar tidaklah harus rumit, perlu banyak sumber daya ataupun waktu bertahun-tahun untuk membangunnya. Dengan perkembangan teknologi saat ini, data dan informasi yang diperlukan dapat tersedia dengan cepat, murah dan lengkap untuk mendukung segala bentuk keputusan. Jika zaman dahulu data hanya digunakan untuk mengukur hal yang sifatnya fisik, sekarang data dapat menyajikan berbagai hal yang lebih lengkap seperti orang, gagasan dan jaringan. Jika dulu data lebih terkait dengan informasi yang berasal dari dalam perusahaan dan bersifat fisik, sekarang data lebih berkaitan dengan hal yang tidak nampak, merupakan aset yang lebih bersifat eksternal dan analisisnya dapat dilakukan secara real time. Contoh nyata yang terkait dengan pembentukan jaringan untuk bisnis adalah Uber Taxi. Perusahaan ini semata-mata mengandalkan jaringan, bukan aset fisik. Terjadi pergeseran dari kepemilikan mobil menjadi berbagi atau sharing aset (mobil) yang dimiliki.

Transformasi perusahaan Anda untuk menjadi perusahaan yang bebasis jaringan sangat bergantung pada transformasi orang yang berada dalam perusahaan. Artinya, jika di dalam organisasi itu bahkan tidak ada yang mulai berubah, Andalah yang dituntut menjadi pionir perubahan. Percayalah, perubahan besar yang terjadi dalam suatu organisasi sering kali dimulai dari hanya seorang individu yang sangat termotivasi untuk berubah. Maka, mulailah perubahan dari diri Anda sendiri.

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)