Waspadai Screen Time pada Anak-anak

Kita dan gawai (gadget), barangkali memang sulit dipisahkan. Namun pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana agar gawai tetap pada fungsinya sebagai alat bantu, dan tidak berbalik menguasai kita. Generasi usia produktif saat ini tak bisa lepas dari gawai. Mulai dari urusan pekerjaan, ataupun sekadar penasaran dengan lini masa social media.

Saat ini kita bisa berlama-lama memandangi monitor gawai, mulai dari memilih jalur yang tak macet, chatting, menjawab email dari bos, hingga bermain game. Aktivitas ini, didefinisikan sebagai Screen Time, tak hanya dilakukan oleh orang dewasa, melainkan juga anak-anak. Gawai mengubah cara hidup kita. Mau tak mau, kita yang tak bisa lepas dari gawai pada akhirnya mencetak anak-anak yang terbiasa melihat orang tuanya asyik bergawai. Mau tak mau, anak-anak pun asyik Screen Time, bahkan sejak kecil.

Tascha Liudmila Tascha Liudmila (kanan)

Banyak penelitian telah memaparkan efek buruk Screen Time terhadap tumbuh kembang anak. Mulai dari potensi obesitas, ketidakpedulian, hingga agresivitas. Pada 2011, American Academy of Pediatrics menekankan rekomendasinya: bayi berusia dibawah dua tahun sama sekali tidak boleh menoton televisi dan anak yang lebih besar hanya boleh Sreen Time maksimal dua jam per hari. Tapi, pada akhirnya semua kembali ke orang tua. Sebab sebetulnya, kecil kemungkinan seorang anak bisa kecanduan Screen Time apabila orang tuanya bijak menggunakan gawai.

“Ada dua faktor yang menyebabkan anak-anak ketagihan berlama-lama Screen Time. Yaitu orang tua yang tak sadar mengabaikan anak akibat sibuk dalam dunia layar elektroniknya, dan orang tua yang kurang memahami bahaya paparan layar elektronik,” jelas Elizabeth Santosa, psikolog anak yang hadir dalam acara peluncuran buku “Screen Time” karya Tascha Liudmila (16/2), di Reading is Fun @ Rumah Baca, Kebayoran Baru, Jakarta.

Menurut Tascha, Buku “Screen Time” merupakan potret budaya kita saat ini. Bagaimana kita bisa dengan mudah mengabaikan orang-orang yang kita cintai untuk sekadar mengintip kehidupan orang lain. Dikemas dalam untaian kisah sederhana dalam ilustrasi menarik karya ilustrator Inez Tiara, “Screen Time” mengenalkan anak pada hak mereka mendapat perhatian lebih dari orang tuanya.

“Mungkin terlalu berlebihan bila menuntut pola hubungan keluarga harus kembali ke pola tradisional di masa
lalu yang tanpa gawai. Tapi melalui Buku “Screen Time” ini saya berharap bisa mengenalkan kepada anak - anak bagaimana perilaku penggunaan gawai yang baik tanpa mengabaikan keluarga di sekitarnya,” jelas Tascha yang juga penyuka kisah dongeng klasik Gadis Korek Api karya Hans Christian Anderson.

Dicetak dan dikemas dalam wujud hardcover, Buku “Screen Time” terbitan ArkeaBooks ini layak untuk dijadikan hadiah, collectible item, ataupun buku yang awet untuk terus dibaca sebagai kisah pengantar tidur. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)