Dampak Pergeseran Ombak Teknologi

Jusman Syafii Djamal, Penulis Buku Notes on the Tides of Technology in Turbulent Times

Pada mulanya, teknologi ditemukan sebagai solusi atas problema yang dihadapi. Tahun 1771, muncul masalah peningkatan permintaan akan baju, kain, dan penutup badan, serta barang menjelang perubahan musim di Eropa. Mesin pintal, mesin perajut benang, dan mesin tenun pun ditemukan untuk melahirkan solusi. Lahirlah industri dan produk tekstil.

Teknologi bahan baku juga berkembang. Dari mulai kapas, katun, dan ulat sutera, lantas menuju kain sutera dan rayon nilon. Semua teknologi itu mengikuti bentuk huruf S. Ada embrio dan valley of death yang dihadapi oleh setiap teknologi baru. Setiap huruf S yang lama akan mengalami tingkat kejenuhan dan kekadaluarsaan.

Solusi teknologi juga sering kali melahirkan problema baru, muncul teknologi yang lebih baru menggantikan yang lama. Arahnya selalu pada dua ujung tombak, yakni peningkatan produktivitas dan efisiensi. Misalnya, Whatsapp telah membunuh BBM dan Blackberry, yang terbiasa menonton DVD kini mulai memanfaatkan Youtube untuk menyaksikan tayangan, dan bahkan Google menggantikan fungsi kamus untuk menemukan kata yang kita cari.

Lanskap inilah yang kemudian mendasari Jusman Syafii Djamal untuk menulis buku Notes on A Tide of Technology in Turbulent Times. “Buku ini ingin mengatakan bahwa semua bangsa, masyarakat, perusahaan yang ingin berubah harus menguasai teknologi, tidak menganggap bahwa teknologi itu sesuatu yang mudah untuk dibeli, tidak menganggap bahwa teknologi itu sesuatu faktor di luar kemajuan. Dia harus menjadi seperti sumber mata air, dari inovasi, dari pertumbuhan yang ada. Kenapa? Karena masa depan itu tidak bisa kita prediksi, masa depan itu berubahnya banyak,” kata Jusman.

Jusman menambahkan, “Jika teknologi kita beli saja, kita akan terperangkap dengan istilah recaution strategy yaitu kita masuk ke dalam tempat, pasar yang sudah banyak sekali pemiliknya, banyak orangnya, jadi kompetisi sangat ketat. Kita paling bisa mencari alternatif, tapi kalau kita menguasai teknologi kita bisa memindahkan, kita bisa mencari tempat yang kosong apa yang disebut sebagai Blue Ocean Symbian, suatu pergeseran ke arah samudera yang lebih luas, sesuatu yang lebih depan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Jusman menjelaskan, generasi saat ini sebetulnya sangat adaptif dan lebih cerdas dibanding generasi yang lain. “Jadi menyesuaikan diri untuk menguasai teknologi baru itu mereka bisa lebih mudah. Dua elemen itu menurut saya, kalau kita ingin menjadi bangsa yang besar, fokuslah pada penguasaan teknologi, fokuslah pada upaya untuk membuat teknologi itu kita miliki sendiri. Kita menjadi bangsa yang produktif, menjadi produsen bukan hanya konsumen,”dia menyarankan.

Komisaris Utama PT Kereta Api Indonesia ini sebelumnya pernah menjabat Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Tbk pada Desember 2014 hingga September 2018, Komisaris Utama Telkom Indonesia Tbk pada 2011-2014, dan Menteri Perhubungan RI tahun 20017-2009. Ia merupakan lulusan dari Institut Teknologi Bandung Jurusan Teknologi Penerbangan. Oleh karena itu, selama 45 tahun pengalamannya dalam dunia penerbangan disarikan Jusman menjadi A tide of technology in turbulace times.

Menurutnya, teknologi itu jalannya seperti gelombang, maksudnya ada teknologi yang lain dari revolusi yang pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Indonesia keempat revolusi itu ada industrinya. Kita menganggap bahwa kita harus langsung menguasai revolusi industri yang keempat, kita langsung mau pindah ke sana.

Akan tetapi, sebetulnya mayoritas masyarakat kita masih pada gelombang kedua dan ketiga teknologi. Kita abaikan itu, padahal itu menjadi kekuatan kesejahteraan kita. Misalnya, petani, nelayan, tekstil, mereka masih menguasai teknologi yang bersifat tradisional di industri katakanlah pertama dan kedua. Kereta api kedua dan ketiga sehingga mereka harus menyesuaikan diri. Itu bisa dilakukan jika menguasai teknologi yang kita miliki.

Pada peluncuran bukunya di Jakarta, Sabtu (26/01/2019), Jusman menjelaskan bahwa buku ini ia tulis dari kumpulan catatan harian dalam jaringan Facebook. Kini, hampir 500 catatan pendek tersimpan dalam notes-nya. “Setiap jam 05.00 setelah shalat subuh ataupun sebelum tidur, saya selalu menyempatkan diri menulis apa yang ada dalam pikiran. Kalau kata orang menulis itu supaya tidak cepat pikun, brain exercise,” ujarnya.

Notes on A Tide of Technology in Turbulent Times ini merupakan buku tetralogi yang diterbitkan Jusman, setelah sebelumnya menerbitkan buku pertama berjudul Notes on Leadership, kedua Notes on Strategy, dan ketiga adalah Notes on the Economic of Innovation.

Buku ini pun diterbitkan sebagai hadiah pernikahan ke-28 Jusman dengan Arita Matthias Aroef. “Setiap tahun satu buku itu lahir untuk hadiah pernikahan saya, dan ini memori supaya mengatakan bahwa jika saya sering tinggal di rumah itu bukan saya tidak kerja. Buku pertama itu tahun 2014, kedua 2015, ketiga 2017, keempat 2018. Lalu ini juga bertepatan dengan ulang tahun istri saya tanggal 23 Januari,” kata Jusman.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)