Kisah Andi Wijaya Membesarkan Prodia Dibukukan

Andi Wijaya( pendiri Prodia) (kedua dari kiri) (ke-2 dari kiri) Andi Wijaya,  pendiri Prodia

Bisnis laboratorum di tahun 1973 masih dilihat sebelah mata oleh sebagian besar orang. Meski demikian, Andi Wijaya dan ketiga temannya tetap bersemangat membangun laboratorium bertaraf internasional. “Dengan uang Rp 180.000 yang kami kumpulkan ber empat saat itu mulai menyewa tempat di pasar Nongko 83 Solo untuk 5 tahun,” kenang  Andi Wijaya,  pendiri Prodia saat peluncuran buku 80 Tahun Andi Wijaya.

Dalam salah satu bagian buku itu diceritakan bahwa Andi bersama Gunawan, Handoko, dan Singgih, bahu-membahu membangun klinik laboratorium Prodia. Kurangnya dana membuat mereka memutar otak untuk memperoleh peralatan tanpa harus mengeluarkan uang. Kebetulan Andi dan Gunawan yang sama-sama dosen di Universitas Atamajaya, rela untuk mengganti uang gaji mereka dengan peralatan bekas laboratorium milik universitas.

Sementara kebutuhan furniture seperti meja dan kursi dibuat sendiri oleh Singgih. Bagi pria kelahiran 2 Juli 1936 ini, mereka berempat termotiviasi untuk dapat memberikan layanan kesehatan yang lebih baik pada masyarakat luas. Motivasi ini diperoleh karena melihat kurangnya perhatian terhadap layanan kesehatan.

Andi bercerita bagaimana golongan darahnya bisa berubah saat akan didonorkan.”Saya tahu betul golongan darah saya itu B, tapi waktu diambil jadi O, padahal yang ngetes itu rumah sakit, ini kan bisa bahaya,” ujarnya serius. Dengan alasan itulah satu tahun sesudahnya, ia dan kawan-kawannya memutuskan untuk membuat sebuah usaha laboratorium yang kini dikenal dengan lab Prodia.

Prodia kini memiliki 266 pusat pelayanan yang terdiri dari 118 cabang, 131 point of care collection centers, dan 17 laboratorium rumah sakit di 104 kota besar di indonesia. Prodia juga melakukan kerja sama dengan ratusan rumah sakit dan 23 fakultas kedokteran di universitas-universitas di Indonesia. Setelah 43 tahun berdiri di Indonesia Prodia juga berhasil menjadi 10 labotaroium terbaik dan terbesar di dunia.

Prodia  memiliki 5 sister company yang masih berhubungan dengan lini kesehatan. Pada 2006 Prodia meraih omset Ro 300 miliar dalam setahun dan Rp 1 triliun pada 2016 dengan 2 juta pelanggan di 30 provinsi. Hal ini diungkapkan dalam buku biografinya yang berjudul Impian Besar si Pengangon Bebek:Karya dan Visi Andi Wijaya untuk Indonesi Sehat, yang ditulis oleh Eka Budianta.

Buku ini diterbitkan di ulang tahunnya yang ke 80, sebelumnya ia juga pernah menerbitkan biografi di usianya yang ke 70 berjudul Andi Wijaya Ilmuwan & Pengusaha. Buku tersebut hanya diedarkan di kalangan terbatas, sementara untuk buku kedua telah dicetak oleh Gramedia sebanyak 1.000 eksemplar.

Buku ini ditujukan untuk para generasi muda, agar mereka bisa terinspirasi dalam memajukan bidang kesehatan di Indonesia. Pria dengan satu anak ini mengaku belajar banyak dari bebek yang kompak dan tangguh, prinsip inilah yang menjadi dasar filosofinya dalam membangun mengembangkan bisnis Prodia.

Selain bercerita mengenai sejarah Prodia dan Andi,  buku ini juga menceritakan mengenai visi Andi ke depannya. Ia ingin agar industri kesehatan bisa mengikuti tren yang ada di luar. Salah satunya adalah pengembangan next generation medicine, obat yang diberikan pada pasien diberikan sesuai dengan penyakit yang diderita, hingga muncul ungkapan one fit for all.

Pada kenyataanya, setiap tubuh manusia memiliki reaksi dan gejala yang berbeda terhadap setiap penyakit dan obat-obatan. Di kalangan dunia medis saat ini, next generation medicine menjadi solusi untuk memberikan perawatan dan pengobatan kepada pasien yang disesuaikan dengan kondisinya pribadi.

Pengobatan didasari oleh gen pada masing-masing orang, sehingga setiap orang akan mendapatkan perawatan yang berbeda meskipun memiliki penyakit yang sama. Perawatan ini sudah dijalankan di Singapura dan Hong Kong. Prodia sendiri berencana untuk mengembangkan perawatan ini pada tahun 2017. Saat ini Andi mengaku sedang menyiapkan berbagai peralatan serta orang-orang yang kompeten untuk menyongsong next generation medicine ini. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)