Rudjito : Guru dan Peletak Kemajuan BRI Usai Krisis

"Menjadi bankir, apalagi jadi CEO di sebuah bank besar, bukanlah cita-cita saya. Saya memilih jurusan Eknomi hanya karena ingin meneruskan usaha orang tua di bidang jahit-menjahit. Namun, saat saya jadi bankir 'beneran', dalam lubuk hati yang  terdalam, saya punya niat untuk bekerja dengan nothing to lose." Demikian kalimat pembuka dalam buku otobiografi Dr. Rudjito, “Be An Optmist – Banyak Bekerja, Banyak Bicara, Banyak Hasilnya,” yang diluncurkan di Jakarta, (28/7).

Bedah Buku Otobiografi DR Rudjito, Mantan Direktur Utama BRI 2000 - 2005 di Gedung BRI I, Jakarta 28/7. Bedah Buku Otobiografi DR Rudjito, Mantan Direktur Utama BRI 2000 - 2005 di Gedung BRI I, Jakarta 28/7.

Almarhum Dr Rudjito adalah mantan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia, masa jabatan 2000 – 2005. Saat diberikan amanah sebagai CEO bank plat merah tersebut, Rudjito banyak melakukan terobosan guna membawa BRI keluar dari masa suram akibat krisis yang melanda tahun 1998. Salah satu terobosannya adalah membawa BRI untuk fokus ke pembiayaan UMKM melalui jaringan yang luas dan didukung IT terkini serta sumber daya yang semakin profesional.

Bukti komitmen BRI untuk fokus ke UMKM terwujud dari besaran kredit untuk UMKM sebesar 85,4 % sampai akhir tahun 2003. Bahkan dari tahun 2003 – 2007 sudah ada corporate plan untuk terus menambah kreditnya dalam menjaga sustainability, rata-rata 18 %. Menurut Rudjito, yang diungkapkan dalam buku tersebut, sejak dulu BRI memang fokus melayani kerdit yang kecil-kecil, berbeda dengan bank sejawat seperti Bank Mandiri yang mendanai perkebunan besar. Masalahnya, sejak tahun 1983, deregulasi perbankan, kemudian disusul lagi deregulasi tahun 1988, membuat semua bank boleh bersaing dalam mendapatkan pricing. Artinya, semua harus mendapatkan treatment yang sama, yaitu mekanisme pasar.

Maka selama empat tahun (2000 – 2004), Rudjito beserta jajaran manajemen BRI mengembangkan program fokus ke UMKM, meskipun dana dari pemerintah untuk rekapitalisasi, tetapi pemerintah tak punya program lagi yang dijejalkan ke BRI. Hasilnya, tiga tahun ia memimpin, BRI berhasil menyabet penghargaan BUMN of The Year pada tahun 2003 dan dapat menjadi perusahaan yang go public (IPO).

Direktur Utama BRI, Asmawi Syam yang turut hadir dalam pelucuran buku tersebut juga memberikan kesannya untuk sosok Rudjito yang dianggapnya sebagai guru sekaligus motivator, “ Beliau dekat dengan muridnya, tetapi jika muridnya nakal, ia tak segan-segan nylentiknya,” kenang Asmawi. Menurut Asmawi, yang kala itu (tahun 2000 – 2005) menjabat sebagai salah satu bawahan Rudjito, sebagai guru, Rudjito memang banyak bicara, namun bukan searah. Rudjito mau menerima masukan dari murid atau karyawannya melalui diskusi, surat elektronik atau cara modern lainnya. Komunikasi dua arah inilah yang menjadi salah satu terobosan dalam pendidikan bagi murid-muridnya sebagai cara meletakkan dasar-dasar kemajuan BRI. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)