Shifting Lebih dari Perpindahan Offline to Online

Rhenald Kasali, Pakar Manajemen Perubahan, saat acara peluncuran buku terbarunya the Great Shifting (Foto: Anastasia/SWA).

Pakar Manajemen Perubahan, Rhenald Kasali, mengatakan, perekonomian Indonesia menghadapi era shifting sebagai kelanjutan dari gelombang disrupsi. Karena lemahnya pemahaman dunia usaha terhadap perekonomian baru dan maraknya resistensi dari pelaku-pelaku usaha lama terhadap perubahan, maka dikhawatirkan ada banyak usaha nasional yang berpotensi gagal memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonoi baru akibat disrupsi.

“Puji Syukur perekonomian kita juga ditandai dengan muncunya wirausaha-wirausaha muda baru yang aktif mengeksplorasi disrupsi,” ujarnya saat acara peluncuran buku terbarunya, The Great Shifting. Dia menambahkan, saat ini banyak orang mengatakan dunia memasuki era new normal. Namun, dia masih menanyakan apa kongkretnya antara new normal dengan dalam kehidupan baru.

Lewat kajiannya, ia menunjukan sejumlah peristiwa shifting yang terjadi dalam bidang konsumsi, industri pelayanan kesehatan, keuangan dan perbankan, hiburan, esteem economy, asuransi, pendidikan, pariwisata, mainan, dan kebudayaan.

“Pertama ketika pendapatan masyarakat meningkat, sejumlah produk akan menjadi barang inferior. Dan ini menunjukan kegagalan para CEO dalam membaca shifting dan terperangkap dalam a blame trap karena terlalu percaya pada pernyataan pelemahan daya beli,” kata dia.

Rhenald juga menunjukkan puncak dari peradaban bahasa yang dijelajahi manusia sepanjang sejarah adalah munculnya collaborative society, dan pada puncaknya terbentuk kompetensi bangsa-bangsa untuk melahirkan teknologi baru. Dimana semakin kesini teknologi semakin cepat mengubah kehidupan beserta segala yang dikonsumsinya.

Ia memberi contoh kasus hilang dan memudarnya perusahaan-perusahaan besar saat berhadapan dengan peradaban teknologi baru. “Runtuhna VOC dan menuyul terbentuknya  Revolusi Industri di abad 18-19yang memusnahkan kekuatan logistik 4.875 kapal layar milik VOC. Revolusi Industri melahirkan kapal laut dengan mesin-mesin uap yang terus bervolusi menjadi VLCC berbahan bakar cair dengan pelabuhan-pelabuhan yang modern, yang mampu mengangkut hingga 25.000 kontainer ukuran 22 feet. Imbasnya terasa hingga ke pelabuhan tanjung priok yang tidak cepat menyesuaikan diri,” ujarnya.

Ia melanjutkan, baru setelah pelabuhan-pelabuhan milik BUMN itu memilih jalan transformasi belakangan ini. kapal-kapal ukuran medium mulai masuk kembali ke pelabuhan nusantara dan mulai menurunkan biaya logistik. “Transformasi logistik itu belum selesai, tol laut yang digagas Jokowi masih harus terus dilanjutkan dengan reformasi birokrasi berbasiskan teknologi digital dengan dukungan IoT,” ujarnya menegaskan.

Lebih jauh dia memaparkan ada 5 temuan yang bermuara pada fenomena The Great Shifting di Indonesia dan global.

Pertama, produk beralih menjadi platform dan platform mengubah kehidupan secara luas dan mengakibatkan banyak produk menjadi inferior dan ditinggalkan peradaban baru.

Kedua, kehidupan baru menimbulkan efek jejaring yang mengubah sifat produksi menjadi nirbatas, kolaboratif, dan serba sharing. “Terjadi proses penghancuran pasar existing, namun sekaligus menimbulkan efek inklusi semisal financial inclusion. Ini artinya perekonomian perekonomian baru berpotensi menggerus gap kaya dan miskin dengan memberi ruang yang lebih besar bagi masuknya kelompok konsumen yang kurang beruntung menjadi consumer,” ujarnya memaparkan.

Ketiga, hal yang keliru mereduksi makna shifting sebagai perpindahan belanja dari dunia riil ke online. karena shifting yang seperti itu sudah pasti walaupun selalu diangkal pelaku-pelaku usaha lama yang terimbas. “Shifting yang paling besar justru terjadi secara horizontal dan cross industry, yang mengakibatkan pelaku industri sulit melacak,” ujarnya.

Ia kemudian member contoh cross shifting yang terjadi dari konsumsi atau spending pada barang-barang retail goods seperti minuman bernergi dan snack jajanan ke perjalanan wisata, hiburan, game online, dan asuransi kesehatan.

Keempat, perbaikan infrastruktur dan orientasi pembangunan dan pendekatan trickle down yang melahirkan pengusaha besar di sektor perkotaan ke pembangunan pedesaan telah menimbulkan kesempatan baru di desa yang memunculkan dualism ekonomi antara pembentukan megacities dan start up pedesaan.

“Tersalurkannya dana desa sebesar Rp180 triliun dalam 3 tahun berturut-turut, disertai dengan pembangunan infrastruktur jalan desa sepanjang 121 kilometer, berpotensi melahirkan shifting dari megacities ke perekonomian desa.”

Kelima, kemajuan dalam revolusi industri 4.0 yang berjalan begitu cepat telah melahirkan potensi ancaman baru bagi industri konvensional.

Selain itu, buku ini juga membahas tentang strategi corporate shifting yang tengah menjadi hot topics dalam perekonomian new normal.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)