Tentang Diri dan Hati Ciputra

 

Ciputra The Entrepreneur: The Passion of My LifeJudul : Ciputra The Entrepreneur: The Passion of My Life

Pengarang : Alberthiene Endah

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Pertama, 2018

Tebal : 646 halaman

Eko Widodo

Staf Pengajar Program Studi Magister Administrasi Bisnis, Unika Atma Jaya, Jakarta

Ciputra dikenal sebagai tokoh yang selalu ingin berbagi; berbagi pengalaman dan pengetahuannya. Telah banyak buku tentangnya. Namun, buku biografi tentang dirinya karya Alberthiene Endah ini memiliki kelebihan. Dalam buku-buku sebelumnya lebih banyak dibahas tentang kiat, sepak terjang, serta prinsip bisnis dan kewirausahaannya. Adapun buku ini lebih personal, lebih banyak menyoroti hal-hal yang terkait dengan diri, hati, dan pikiran Ciputra. Mengungkap refleksi dan kearifan Ciputra yang terbentuk lewat penderitaan, duka, kehilangan, tantangan, serta karya dan prestasinya. Mengungkap renungan dan refleksinya dalam mengarungi hidup hingga di usia senja saat ini. Ini buku paling lengkap tentang jati diri, hati, dan pemikiran tokoh properti Indonesia yang layak dipelajari khalayak.

Perihal karya Ciputra, banyak orang telah tahu lewat berbagai karya landmark yang dihasilkannya: proyek Pasar Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Bintaro Jaya, Pondok Indah, Citraland, dan banyak lagi karya monumentalnya di bidang properti. Namun, sejarah hidup seseorang tidak hanya berisi karya nyata yang telah dihasilkannya, tetapi juga emosi dan luka batin yang terbentuk dalam dirinya dan mampu menghasilkan karya yang jarang bisa dicapai seseorang. Dan, pencapaian itu tak lepas dari trauma masa kecil yang terus membayanginya hingga kini. Trauma ketika seorang anak tiba-tiba ditinggal ayahnya yang diciduk tentara Jepang. Kehilangan ayah memaksa Ciputra kecil berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Peristiwa tragis itu turut membentuk karakter dan mental tahan banting hingga sekarang. Diakui Ciputra berulang kali dalam banyak bab di buku ini, masa-masa keras dan penuh penderitaan yang dialaminya ketika masa kecil itulah yang telah menempanya menjadi orang yang mampu belajar lebih dalam daripada orang lain, berjuang lebih dashyat daripada orang lain, dan bermimpi lebih besar daripada orang lain.

Ciputra selalu haus prestasi. Bagi dia, ukuran sukses seseorang bukanlah jumlah kekayaan yang dimilikinya, tetapi prestasi yang telah dihasilkannya yang bermanfaat bagi orang banyak. Selain jago matematika, prestasi awal yang pernah dicapainya adalah sebagai atlet lari nasional. Dia pernah mewakili Sulawesi Utara, tanah kelahirannya, di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Dari olahraga lari, muncullah moto awal yang diyakininya hingga sekarang, yaitu “untuk bisa maju, kau tak perlu mengalahkan orang lain, cukup kau taklukkan diri sendiri”.

Dalam setiap perjuangan, gerak dan langkah Ciputra berorientasi pada prestasi. Dari pengalaman hidupnya, prestasi mampu mengangkat derajat seseorang dan mampu membentuk serta meningkatkan rasa percaya diri. Ciputra yang merupakan anak dusun dan miskin mampu membuktikan diri sebagai orang yang berhasil, mampu menciptakan keajaiban bagi diri sendiri dan menularkannya kepada orang lain.

Berbagai cerita tentang diri, hati, dan pikiran Ciputra muncul di buku ini. Cerita tentang masa kecil, remaja, kuliah, perjuangan awal kariernya dalam membuat proyek Senen, Ancol, ataupun Pondok Indah; tentang keluarga dan hubungan dengan anak-anaknya; tentang jiwa seni yang mengalir di tubuhnya; tentang berbagai yayasan yang dikelolanya; tentang rumah yang menjadi obsesinya; dan terutama juga tentang filosofi bisnis yang diyakininya. Dia tidak hanya ingin mendirikan gedung, bangunan, kawasan yang hebat di berbagai tempat, di dalam maupun di luar negeri, tetapi lebih dari itu: Ciputra ingin menciptakan hari esok yang lebih baik bagi banyak orang. Memberikan kehidupan yang lebih baik lewat pembangunan kawasan yang modern dan manusiawi. Menurut Ciputra, tugas paling luhur dari developer adalah menghidupkan sesuatu yang semula dianggap tidak berpengharapan menjadi kawasan yang hidup dan membuat bahagia banyak orang.

Tiga prinsip untuk menjadi orang yang berhasil yang terus didengungkan dalam buku ini adalah: integritas, profesionalisme, dan entrepreneurship. Bagi Ciputra, integritas adalah segalanya. Kepercayaan dan janji yang telah dibuat wajib dipenuhi. Sebagai contoh, ketika perusahaannya didera krisis parah pada 1998, Ciputra memerintahkan agar segala kewajiban perusahaan diselesaikan satu per satu dengan benar dan baik. Tidak boleh seorang pun, baik konsumen maupun pemasok, dirugikan walau perusahaan saat itu sedang sekarat. Bisnis harus mampu melahirkan kebaikan, manfaat, dan keuntungan bagi orang lain. Dalam bisnis harus ada wisdom. Harus ada kehendak baik dan tujuan mulia, bukan semata-mata berorientasi keuntungan.

Kedua, profesional. Tak ada nepotisme di perusahaan Ciputra. Keluarga sendiri tetap diperlakukan sama, tidak ada privilege apa pun terhadap anak-anaknya. Bahkan, untuk anaknya sendiri, awalnya Ciputra justru mendidik mereka dengan cara yang lebih keras dibandingkan karyawan biasa. Menurutnya, segala kesulitan dan tantangan merupakan medan latihan yang baik untuk menempa diri seseorang.

Ketiga, entrepreneurship harus tetap ada dan berkembang dalam diri karyawannya. Masalah harus dihadapi dan diselesaikan secara kreatif. Semangat entrepreneurship menjadikan seseorang tidak menghindar dari tantangan dan kesulitan. Setiap proyek yang dijalankannya bukanlah proyek yang mudah. Bahkan, jika dilihat dari kacamata orang kebanyakan, proyek itu mustahil dijalankan. Namun, Ciputra menjadikan itu sebagai sebuah sekolah. Ketika menghadapi dan menyelesaikan tantangan yang ada, dia menganggapnya sebagai sebuah kesempatan belajar yang sangat luas.

Kiprah Ciputra tak sebatas di dunia bisnis. Dia juga merintis dan bergerak di banyak bidang yang masih eksis hingga saat ini. Sebagai contoh, dia juga mendirikan Metro Data yang bergerak di bidang komputer. Waktu itu belum banyak orang tertarik memasuki bidang ini, tetapi dia memiliki visi jauh ke depan bahwa bidang ini akan menjadi bidang yang sangat penting. Dia turut mendirikan majalah Tempo yang terkenal itu. Dia juga aktif mengembangkan kegiatan olahraga dan aktif di berbagai yayasan pendidikan untuk mempersiapkan generasi unggul bangsa di masa depan. Aset yang utama bukanlah uang, melainkan manusia yang berkualitas. Dengan ini, Indonesia akan menjadi lebih maju dan sejahtera.

Dulu Ciputra adalah orang yang keras hati, sangat tegas dan galak dalam memimpin anak buah ataupun dalam mendidik anak-anaknya. Seiring bertambahnya usia, dia menjadi pribadi yang lebih lemah lembut dan bijaksana. Di mata kolega dan keluarganya, Ciputra adalah seorang pemimpin yang baik. Baginya, memimpin adalah juga menumbuhkan, mengubah, dan memperbaiki. Memimpin adalah mengantarkan dan membina orang-orang yang semula merasa tidak berdaya menjadi orang-orang yang punya kepercayaan diri yang tinggi dan berprestasi. Memimpin juga harus memberikan teladan. Oleh karenanya, Ciputra sering keras pada diri sendiri karena ingin menunjukkan teladan yang baik. Keteladanan, nilai-nilai hidup, dan sikap yang baik adalah elemen yang membentuk karakter yang baik dalam bekerja.

Ada pesan menarik dalam buku ini, bahwa di dalam hidup ini, ada dua hal yang tidak boleh kita sia-siakan: waktu dan kesempatan. Bahkan, kesempatan harus kita ciptakan. Berjuanglah untuk mencapai sesuatu yang baik dalam hidup. Berjuanglah untuk bermanfaat dan berprestasi. Berjuanglah agar setiap hal yang kita buat bisa memberi makna bagi orang lain, selain untuk diri sendiri. Buku ini telah menjadi landmark tersendiri dari seorang Ciputra untuk dipelajari generasi muda Indonesia tentang bagaimana cara berjuang dan berprestasi bagi bangsanya. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)