Sorbact Jadi Teknologi Penyembuh Luka Pencegah AMR

 

dr. Harry Parathon saat menyampaikan bahaya AMR dan penggunaan antibiotik berlebihan. (Foto: Ubaidillah/SWA)

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Antimicrobial Resistance (AMR) adalah salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan masyarakat di dunia, terutama di negara berkembang. Juga dapat menjadi penyebab 10 juta kematian per tahun di seluruh dunia pada tahun 2050.

Masalah AMR perlu menjadi perhatian utama selain pandemi Covid-19. Hasil survei Global Hygiene & Health Essity tahun 2022 terhadap lebih dari 15.000 orang di 15 negara di seluruh dunia menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat terkait bahaya AMR masih rendah.

Dalam pernyataan Kementerian Kesehatan, AMR saat ini bisa dikatakan sebagai pandemi senyap (silent pandemic) karena angka kematiannya cukup tinggi . Pada 2030, diperkirakan penggunaan antibiotik di seluruh dunia akan meningkat sebesar 30%, bahkan semakin meningkat sebesar 200% jika AMR tidak benar-benar ditangani dengan baik. 

Terkait beban ekonomi akibat AMR, data terbaru Bank Dunia (World Bank) menunjukkan AMR akan meningkatkan kemiskinan dan berdampak terutama pada negara berpenghasilan rendah dibandingkan dengan negara lain di dunia. Studi menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) global tahunan dapat turun sekitar 1% dan menimbulkan kerugian 5-7% di negara-negara berkembang pada tahun 20504.

Dr. Harry Parathon, Ketua Pusat Resistensi Antimikroba Indonesia (PRAINDO) mengatakan, AMR terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit berubah dari waktu ke waktu. Tidak lagi merespons obat-obatan sehingga membuat infeksi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit hingga kematian. Secara global, gerakan pengendalian AMR sudah berjalan, salah satunya dengan usaha penerapan Antimicrobial Stewardship (AMS). 

“AMS menjadi strategi untuk memerangi peningkatan AMR dengan berfokus pada penggunaan antimikroba yang tepat guna oleh profesional kesehatan dengan mengikuti aturan dan pedoman yang sudah ditetapkan, meningkatkan hasil perawatan pasien, mengurangi resistensi mikroba, dan mengurangi penyebaran infeksi yang disebabkan oleh organisme yang resisten terhadap obat. AMS menjadi penting di semua area perawatan kesehatan termasuk area spesialis manajemen luka,” kata dr. Harry, Selasa (29/11/2022).  

Dr. Harry menambahkan salah satu area yang saat ini masih memiliki tingkat penggunaan antibiotik yang tinggi adalah perawatan luka. AMR memengaruhi prosedur manajemen luka karena luka dapat menjadi saluran infeksi, memungkinkan masuknya mikroba, termasuk yang resisten antimikroba ke dalam jaringan.

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten antibiotik lebih sulit untuk diobati dan menyebabkan biaya pengobatan yang lebih tinggi, perawatan di rumah sakit yang lebih lama, dan meningkatkan kematian. Dengan mengendalikan mikroba, infeksi dapat dicegah dan dengan demikian mengurangi kebutuhan akan antibiotik. 

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)