Tantangan Badan Riset Daerah Atasi Masalah Ekonomi dan Pangan

Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) memiliki tantangan dalam mengatasi masalah ekonomi dan ketahanan pangan. (Foto: Dok BRIN)

Indonesia memiliki visi untuk menjadi negara maju pada tahun 2045. Sejumlah kekuatan yang dimiliki Indonesia untuk menuju visi tersebut antara lain pendapatan per kapita yang besar dan berada di urutan ke 12 dunia, jumlah penduduk yang besar, terletak di sabuk tropis dengan keuntungan iklim matahari bersinar sepanjang tahun, tanah yang subur, SDA hayati dan non hayati, lautan, dan banyak lahan yang masih kosong. Secara ekonomi Indonesia adalah negara dengan inflasi yang terkendali. Pertumbuhan ekonomi kita secara kumulatif diperkirakan akan mencapai 6,6%. 

Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Marsudi Wahyu Kisworo menyebutkan setidaknya ada tiga tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini. Pertama perubahan iklim yang menyebabkan krisis pangan dan kesehatan. Kedua adalah pandemi yang menyebabkan kontraksi ekonomi. Ketiga terjadinya perang geopolitik yang diperkirakan memicu ketidakstabilan di berbagai negara. 

Menurut Marsudi, dampak dari ketiga masalah tersebut sudah terlihat seperti terjadi resesi di seluruh dunia, yang ditandai dengan tingkat suku bunga yang mulai naik. Akibatnya menimbulkan dampak sosial seperti kelaparan, PHK massal, produksi pangan menurun, dan sebagainya. Perubahan iklim juga akan berdampak pada bencana, seperti cuaca ekstrim, banjir, tanah longsor, bencana kekeringan, kebakaran lahan dan hutan. “Semua ini akhirnya berdampak pada produksi pangan ke depan,” jelas Marsudi dalam paparannya (28/11/2022).

Salah satu bukti produksi pangan terganggu adalah dengan menurunnya Indeks Ketahanan Pangan pada 2021. Posisi Indonesia menurun ke nomor 6 di ASEAN. Selain itu, Marsudi juga menyebutkan tingkat ketahanan pangan di Indonesia juga tidak merata. Sebagai negara kesatuan hal ini tentu menjadi persoalan karena jika satu daerah terjadi bencana, maka daerah lain juga akan terpengaruh. 

Menurunnya ketahanan pangan terjadi karena faktor penurunan produksi pangan di dalam negeri. Penyebabnya antara lain ketidakseimbangan alat-alat produksi dengan kebutuhan konsumsi. Selain perubahan iklim, jumlah penduduk Indonesia semakin banyak, tapi di sisi lain lahan sawah semakin berkurang. Faktor lainnya yaitu menurunnya SDM pertanian.  

Akibatnya semua bahan baku sembako harus impor, terutama gandum. Selain karena produktivitas pangan menurun, hal tersebut juga karena terjadinya pergeseran pola makan pada generasi muda yang kini lebih gemar mengkonsumsi mi, roti dan sejenisnya. Sehingga konsumsi pangan gandum meningkat  dan menyebabkan Indonesia harus impor. 

Selain itu Indonesia juga belum punya kemampuan untuk food storage atau menyimpan bahan pangan. Marsudi menekankan problem distribusi pangan, jalur logistik dan informasi mengenai ketersediaan pangan harus menjadi bagian dari riset. 

Untuk itu Marsudi menjelaskan tugas dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) harus membuat peta jalan penelitian di daerah masing-masing untuk menyelesaikan masalah bangsa tersebut. Selain itu membuat regulasi, menyiapkan anggaran, membangun SDM, fasilitas, dan juga database. BRIDA sendiri memiliki tiga target yakni refocusing riset dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, sebagai platform penciptaan SDM unggul di setiap bidang keilmuan dan entrepreneur berbasis inovasi iptek dan meningkatkan dampak ekonomi langsung dari aktivitas Iptek.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)