10 Nominasi Kepala Daerah Penerima Anugerah Kebudayaan PWI 2021

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat memperkenalkan 10 Kepala Daerah yang dinominasikan sebagai calon penerima Anugerah Kebudayaan PWI 2021. Penghargaan yang sudah diselenggarakan ketiga kali ini sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2021. Calon penerima penghargaan tersebut merupakan walikota dan bupati yang dinilai memiliki komitmen dan inisiatif membangun daerahnya dengan pendekatan kebudayaan.

Seleksi dan penilaian dilakukan oleh Dewan Juri yang terdiri dari Nungki Kusumastuti (Pelaku seni dan dosen IKJ), Ninok Leksono (Rektor UMN dan wartawan senior), Agus Dermawan (pengamat dan penulis seni budaya), Atal S Depari (Ketua Umum PWI Pusat), dan Yusuf Susilo Hartono (wartawan senior) sebagai ketua pelaksana Anugerah Kebudayaan PWI 2021.

Atal S Depari, Ketua Umum PWI Pusat, menjelaskan, penilaian tahun ini memasukkan aspek penanganan pandemi Covid-19, terkait bagaimana kepala daerah menggunakan pendekatan daerah selain juga pendekatan kesehatan untuk menangani pandemi.

“Oleh karena itu dalam penilaian kali ini kami juga memasukkan unsur penanganan Covid-19. Para calon ini sudah terlihat serius dalam penanganan pandemi menggunakan pendekatan kesehatan dan kearifan lokal,” ujar Atal.

Daftar Calon Penerima AK-PWI Pusat 2021

Adapun daftar 10 nama Kepala Daerah calon penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2021 beserta kutipan perkenalan dalam acara Silaturahmi Virtual yang diselenggarakan PWI Pusat, sebagai berikut:

1. Bima Arya Sugiarto (Wali Kota bogor).
“Bagi saya, Bogor adalah kebersamaan, kekeluargaan, paguyuban, kebudayaan. Yang paling mengagumkan adalah kebersamaan dalam keberagaman. Ketika Bulan Ramadhan, di Vihara orang-orang lintas agama berbagi, ketika memasuki perayaan Natal, kami berbondong ke Gereja untuk menyampaikan suka cita Natal kepada umat kristiani. Gereja, Masjid, Vihara, semua berdampingan. Perayaan kebudayaan di Bogor bukan hanya sekadar pertunjukkan tetapi itu adalah warisan kebersamaan dalam keberagaman dan harus dijaga. Ketika kami berjuang agar Bogor Street Festival atau Cap Go Meh masuk ke calender of event nasional bukan hanya semata menarik wisatawan tapi kami ingin menyampaikan pesan ke seluruh Indonesia bahwa kebersamaan dari Bogor untuk Indonesia dalam keberagaman. Tidak ada gunanya capaian infrastruktur jika tidak dibangun di atas fondasi bersama dalam keberagaman ini. Modal sosial inilah menurut saya yang bisa menjadi bekal melawan Covid-19”.

2. IB Rai Dharma WM (Wali Kota Denpasar).
“Visi pembangunan adalah Denpasar kreatif berwawasan budaya dalam keseimbangan menuju keharmonisan. Dalam tahun-tahun terakhir kami mencoba mengaplikasikan pemanfaatan kebudayaan. Kami memiliki satu strategi caranya untuk menginterpretasi & melindungi, menguatkan & menginteraksikan, dan pengembangan & penguatan Denpasar. Kami melihat di sini ada orange economy, yakni menempatkan antara tradisional berinteraksi dengan sistem ekonomi global yang 4.0 ini”

3. Hendrar Prihadi (Wali Kota Semarang)
“Semarang memiliki penduduk yang terdiri dari beragam etnis dengan jumlah penduduk 1,6 juta jiwa. Hubungan kami sangat harmonis karena sangat menghargai perbedaan”

4. Dedy Yon Supriyono (Wali Kota Tegal)
“Strategi inovasi Kota tegal yaitu Jetak Jakwir menuju masyarakat yang sejahtera dan bermartabat. Jetak Jakwir yaitu Jaringan Inovasi Terintegrasi Budaya Kerja. Mengajak warganya berpikir, berinovasi, bersinergi, yang diimplementasikan dalam mediao sosial, kemajuan kebudayaan, dan penanganan Covid-19”

5. Tjhai Chui Mie (Wali Kota Singkawang)

6. Dony Ahmad Munir (Bupati Sumedang)
“Mungkin saat ini yang paling diingat dari Sumedang adalah tahunya. Tapi ke depannya kalau ingat Sumedang maka ingat pusat budaya Sunda. Ketika kerajaan Pajajaran runtuh yang menurunkan adalah kerajaan Sumedang, jadi tepat kalau Sumedang sebagai pusat budaya Sunda. Di sini sudah ada peraturan tentang Sumedang sebagai pusat budaya sunda. Ini kebijakan inovatif kami dalam mengembangkan budaya dan menjadikannya sebagai insturmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat”

7. Taufan Pawe (Wali Kota Parepare)
“Parepare terkenal lekat dengan tokoh nasional BJ Habibie, tempat kelahirannya. Parepare adalah kota jasa dan niaga. BJ Habibie menjadi sumber inspirasi kami membangun Kota Parepare. Tidak sedikit bangunan monument yang kami bangun salah satunya monumen Cinta Habibie-Ainun, Balai Ainun, Rumah Sakit Ainun Habibie, dan sebentar lagi akan terbangun Institut Teknologi BJ Habibie. Kami membangun ini karena komitmen saya membangun Parepare”

8. Karna Sobahi (Bupati Majalengka)
“Majalengka sangat populer sebagai kota pensiun. Kemudian kami berusaha menata Majalengka kota pensiun ini menjadi kota yang terinovasi dan kreatif. Kemendagri telah memberikan penghargaan kepada kabupaten Majalengka sebagai kabupaten terinovasi. Kemenpan RB juga telah memberikan nilai tertinggi dalam hal pelayanan publik. Kemenparekraf juga memberikan penghargaan Kabupaten kreatif”

9. Herwin Yatim (Bupati Banggai)
“Ada 3 suku di Banggai: Saluan, Balantak, dan Banggai. Ketiga ini Bersatu padu dengan penduduk pendatang lainnya. Angka pertumbuhnan ekonomi pada 2020 cukup baik mencapai 7,6% di tengah pandemi ini. Salah satu budaya yang mengangkat ekonomi kami adalah masyarakat yang hidup bersih, maka salah satu proposal yang kami kirim adalah tentang Pinasa, artinya lihat sampah ambil. Ini telah mendapatkan Adipura”

10. Ita Puspitasari (Wali Kota Mojokerto)
“Kota Mojokerto ini termasuk kota terkecil di Indonesia dan jumlah penduduk yang sedikit. Namun kami memiliki potensi warisan sejarah budaya yang luar biasa banyak, terkait kebesaran kerajaan Majapahit, di mana pusat kerajaan terletak di Mojokerto. Di sini juga ada cagar budaya yaitu ruang kelas Soekarno ketika sekolah lengkap dengan bangkunya yang otentik. Berbagai event kebudayaan juga telah menjadi event tahunan, dalam dua tahun iin puluhan event kebudayaan, seperti event Mojotirto karena sungai banyak mengelilingi kota. Serta ada pagelaran batik khas Mojokerto”

Sementara itu perwakilan APEKSI (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) menyampaikan apresiasi kepada PWI yang memiliki perhatian tinggi terhadap penguatan budaya sebagai salah satu aset bangsa. Mendukung upaya kepala daerah dalam memajukan daerahnya dengan pendekatan kebudayaan, media sosial, serta dalam penanganan pandemi saat ini dengan protokol kesehatan dan kearifan lokal.

“Penanganan pandemi menjadi prioritas saat ini, kita sebagai aparat pemerintahan harus mampu menjaga proses pemerintahan dan pelayanan public. Di tengah kondisi seperti ini, proses inovasi di berbagai bidang tetap harus dibangun termasuk dalam pengembangan budaya setempat,” ujar Indah yang mewakili Ketua APEKSI.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)