2023, Kemenparekraf Dorong Pariwisata Berkelanjutan

Agustini Rahayu Direktur Kajian Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), dalam diskusi Tourism & Hospitality Industry Outlook 2023 - “Akselerasi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan”.

Ancaman resesi global tahun 2023 menjadi tantangan bagi pengembangan industri pariwisata di Indonesia. Untuk mengahadapi tantangan tersebut, Kementerian Pariwisata kini terus mengembangkan konsep wisata berkelanjutan. Konsep ini diyakini akan mendorong industri pariwisata Indonesia tumbuh dengan kuat dan lebih tahan akan krisis. “Pariwisata berkelanjutan adalah sebuah proses, bukan hasil akhir, yang tercermin dalam setiap penetapan kebijakan oleh Kemenparekraf,” kata Direktur Kajian Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Agustini Rahayu, dalam diskusi Tourism & Hospitality Industry Outlook 2023 - “Akselerasi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan”.

Agustin menambahkan, Kemenparekraf mengusung 5 isu strategis dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Indonesia, yakni Keberlanjutan, Daya Saing, Nilai Tambah, Digitalisasi dan Produktivitas. Sedangkan target capaian pariwisata berkelanjutan sesuai pesan Menparekraf adalah, Pertumbuhan Ekonomi, Penciptaan Lapangan Kerja, Kebijakan yang tepat target, waktu, dan manfaat. “Arah kebijakan pariwisata dan ekonomi Kreatif bermuara pada pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif yang inklusif, berkelanjutan, dan tangguh,” katanya.

Saat ini pemulihan pariwisata global telah mencapai 65% dari tingkat sebelum pandemi. Diperkirakan 700 juta wisatawan melakukan perjalanan internasional antara Januari dan September 2022, lebih dari dua kali lipat (lebih dari 133%) jumlah yang tercatat untuk periode yang sama pada tahun 2021. “Hasil ini didorong oleh permintaan yang kuat, peningkatan tingkat kepercayaan dan pencabutan pembatasan di banyak destinasi. Diperkirakan 340 juta kedatangan internasional tercatat pada kuartal ketiga tahun 2022,” katanya.

Agustin menuturkan, kedatangan wisman periode Januari-September 2022 tercatat telah mencapai 2.268,7, angka ini naik 2.530,6% dibandingkan periode yang sama tahun 2021. Sementara sejalan dengan tertanganinya pandemi, jumlah perjalanan Wisatawan Nusantara (Wisnus) juga terus meningkat. Pada tahun 2021 tercatat 603 perjalanan Wisnus atau 83,5% jumlah perjalanan tahun 2019.

Pembicara lainnya, Presiden Direktur PT. Bank Central Asia, Tbk., Jahja Setiaatmadja, menambahkan BCA telah sukses menjalankan pariwisata berkesinambungan di 15 desa binaanya, diantaranya Nagari Sikolek, Desa Petingsari, dan kampung adat SiIjungjung. “Selama ini BCA telah berkontribusi dalam mempercepat digitalisasi di beberapa daerah wisata, seperti yang dilakukan di 15 desa binaan BCA,” katanya.

Jahja juga menyoroti tiga tantangan terbesar yang dihadapi dalam mengembangkan desa wisata. Pertama, minimnya sinergi antar lembaga : pemerintah daerah, komunitas desa, dan pihak swasta. Kedua, kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan pariwisata di komunitas tersebut. Ketiga adalah terbatasnya penyediaan fasilitas dasar penunjang wisata. “Ini yang kita alami dilapangan, banyak destinasi yang fasilitas penunjang wisata seperti sinyal jaringan seluler yang masih belum baik. Kita harapkan ini menjadi perhatian seluruh stakeholder pariwisata kita,” kata Jahja.

Sedangkan, Founder dan CEO hotelmurah.com, R. Ari Sudradjat, menyoroti bisnis pendukung Pariwisata Berkelanjutan, termasuk pada bisnis travel online. Menurutnya industri travel online harus fokus pada pertumbuhan net profit, bukan pada omset, jumlah download, followers, member, transaksi, dan lainnya.

Ia optimis, tahun 2023 industri pariwisata akan terus meningkat. Berdasarkan data Tourism Outlook 2023 Report bahwa secara global kedatangan turis akan meningkat hingga 30% di tahun 2023. Karenanya, pelaku bisnis travel online harus jeli peluang dan tantangan yang ada.

Untuk menyongsong kebangkitan industri pariwisata, para pelaku bisnis travel online harus bisa memperbanyak cara pembayaran, melengkapi produk travel dengan produk non travel, dan intinya, harus berkolaborasi, bukan kompetisi.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)