3 Cara Ciptakan Tempat Kerja Ramah Kesehatan Mental

Pandemi Covid-19 membawa perubahan masif yang tidak terprediksi sebelumnya. Salah satunya adalah tersadarnya perusahaan akan kesehatan mental pekerja di tempat kerja. Hal tersebut diiringi dengan peningkatan kesadaran mengenai faktor tempat kerja yang berdampak buruk kepada kesehatan mental dan irisannya dengan Diversity, Equity, and Inclusion (DEI).

WorkMi, perusahaan penyedian Employee Assistance Program, melakukan analisa kesehatan mental kepada 2.000 klien WorkMi berdasarkan Kessler Psychological Distress Scale (K10), sebuah asesmen yang bertujuan menghasilkan ukuran global terhadap distress berdasarkan pertanyaan-pertanyaan mengenai gejala kecemasan dan depresi yang telah dialami seseorang dalam periode empat minggu terakhir.

Dalam Laporan Kesehatan Mental WorkMi 2021: Tempat Kerja yang Ramah Manusia menyebutkan mayoritas karyawan mengalami Low (32,65%) ke Medium Distress pada 2021 ini (27,46%). WorkMi juga menjelaskan banyak faktor yang berperan untuk melindungi kondisi kesehatan mental karyawan seperti ikatan yang kuat antar anggota organisasi, dan pengaturan kerja yang fleksibel.

“Para karyawan mengalami tantangan kesehatan mental di seluruh dunia, dan WorkMi menemukan prevalensi meningkat dari 2020 ke 2021, temuan yang didukung oleh Qualtrics dan Mind Share Partners yang menyatakan bahwa prevalensi meningkat 59% dari 2019 ke 2020 dan 56% dari 2020 ke 2021,” kata Co-founder Ibunda.id Arif Fajar Saputra.

Masih dalam laporan yang sama, sebanyak 16,42% responden mengalami Distress Sangat Tinggi (Very High Distress) dan sebanyak 23,45% mengalami Distress Tinggi (High Distress). Setidaknya ada lima titik permasalahan terbesar yang dilaporkan karyawan yakni keseimbangan kerja-hidup (13,24%), beban kerja yang tinggi (12,97%), deadline yang padat (12,78%), kurangnya dukungan (8,70%), dan ambiguitas peran (6,31%)

Di sisi lain, produktivitas tenaga kerja telah menjadi faktor kritis pada kekuatan dan keberlanjutan dari performa bisnis perusahaan secara keseluruhan. WorkMi memahami bahwa produktivitas berkorelasi dengan sebuah 'kehadiran fisik' dari individu-individu di pekerjaan. “Namun ketika para karyawan hadir secara fisik dalam pekerjaannya, mereka mungkin mengalami penurunan produktivitas dan di bawah kualitas kerja normal sebuah konsep dikenal sebagai decreased presenteeism,” kata dia.

Platform yang didirikan pada tahun 2019 ini juga menyebutkan, Sebanyak 64.57% dari mereka mengalami distress tinggi dan sangat tinggi, tetapi mereka masih mampu untuk bekerja secara produktif. WorkMi menyebut isu itu sebagai kemunculan akan kelompok-kelompok bom waktu.

Arif memaparkan ada 3 saran yang bisa digunakan perusahaan untuk menciptakan tempat kerja yang mendukung kesehatan mental karyawan. Pertama, gunakan empati sebagai kekuatan utama di manajemen. Khususnya dikala pandemi yang masih berlanjut dan banyaknya orang-orang yang mengalami emosi negatif serta kehilangan. “Ditambah lagi dengan adanya lockdwon dan pembatasan interaksi sosial karena adanya pengaturan work from home dan menyebabkan fenomena kesepian yang mulai meningkat.”

Kedua, dukung orang-orang untuk dapat menjadi diri sendiri, menjadi mentor untuk orang lain. Posisikan orang lain pada pusat percakapan dan sediakan sumber daya atau dukungan. Ketiga, jadikan work-life balance sebagai siklus. “Kerja berlebihan sudah menjadi salah satu masalah teratas tahun ini. Ini menyebabkan para karyawan di seluruh dunia gagal dalam mencapai work-life balance,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)