3 Kunci Pupuk Kaltim Terapkan ESG

Konsep Environmental, Social, and Governance atau ESG menjadi sangat populer di lima tahun terakhir. Perusahaan tidak hanya dituntut untuk lebih profitable dan produktif, tetapi juga diharuskan untuk lebih ramah lingkungan.

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) yang sekarang sudah berusia hampir 45 tahun pun mengaku pihaknya melalui proses yang rumit dalam produksi pupuk dengan menggunakan gas alam. Meski begitu, ESG tetap menjadi tanggung jawab perusahaan dalam menjawab tantangan di masa depan yang lebih berorientasi pada lingkungan.

Dalam talkshow bertajuk 'ESG, The Future of Corporate Resilience pada Indonesia Millennial and Gen-Z Summit', Rahmad Pribadi, Direktur Utama PKT menuturkan tiga kunci kesuksesan PKT dalam menerapkan ESG di operasional bisnisnya.

Pertama, menyiapkan peta jalan dan target yang terukur. Dengan menerapkan praktik bisnis yang berkelanjutan sesuai kaidah ESG, PKT menargetkan untuk mengurangi emisi gas karbon sekitar 30% pada 2030, serta mencapai net zero emission di 2060. Menuju target tersebut, PKT telah menyiapkan rancangan dalam 2 tahapan besar.

Tahap pertama, dari tahun ini sampai tahun 2030, PKT menganggarkan offset karbon sebanyak 30%. Beberapa hal yang sudah dilakukan PKT untuk itu adalah PLTS Atap yang dapat menghemat 20% - 30% kebutuhan energi PKT di area perkantoran dengan total luas 6.500 M2 dan mengganti kendaraan operasional kantor menggunakan motor listrik.

"Ada juga rencana membangun Pabrik Soda Ash (proyek ini juga termasuk hilirisasi) yang berpotensi menyerap CO2 sekitar 174.000 ton per tahun," ujar Rahmad.

Tahap kedua akan dimulai pada tahun 2031. Rahmad mengatakan, di tahap ini dibutuhkan teknologi yang lebih tinggi yaitu low carbon sourcing dan carbon capture storage dimana saat ini masih dalam tahap pengembangan. PKT akan menyiapkan kapasitas penyimpanan carbon capture storage (CCS) bersama Pupuk Indonesia . Di sisi yang lain, akan ada reaktivasi pabrik urea Proyek Optimasi Kaltim (POPKA-2) dan teknologi biomassa.

Kedua, kolaborasi untuk menciptakan dampak yang lebih besar. Berkolaborasi dengan masyarakat menjadi salah satu hal yang dilakukan PKT untuk menciptakan dampak yang lebih besar terhadap lingkungan.

PKT melanjutkan kerja sama dengan Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) untuk program Hutan Komunitas dengan melakukan penanaman pohon bersama masyarakat dengan target 10 juta pohon pada tahun 2030. Sebelumnya PKT juga bekerja sama dengan masyarakat Bontang untuk Konservasi Terumbu Karang dan Hutan Mangrove.

Kunci Ketiga, fokus pada dunia di masa depan dimotori generasi milenial. PKT dimotori oleh 60% milenial menjadi salah satu pendorong utama dalam penerapan budaya ESG di PKT. Rahmad mengaku, dengan dorongan para milenial, perusahaan mengganti slogannya menjadi Future is Ours. Menurutnya, seluruh elemen PKT harus memiliki spirit dan passion yang sama untuk menyambut dan menjemput masa depan.

Rahmad menyebut, banyak hal yang sudah dilakukan oleh PKT terkait dengan ESG dalam usaha mengurangi emisi karbon. Salah satunya adalah di sekitar lingkungan perusahaan, kendaraan bermotor secara gradual diubah ke arah elektrik. Perusahaan juga sudah menggunakan sepertiga tenaga surya untuk daerah perkantoran.

"Ini adalah budaya yang dibentuk oleh kita sesuai dengan kaidah ESG. In whatever we do, kita harus memperhatikan aspek ESG. ESG itu sudah tertanam di dalam strategi pengembangan perusahaan,” jelas Rahmad.

Perusahaan juga terus mengembangkan praktik-praktik yang sesuai dengan kaidah ESG untuk mendukung ketahanan pangan nasional. PKT mendorong penggunaan pupuk yang seimbang antara pupuk hayati dan organik untuk dampak yang signifikan terhadap lingkungan.

"Sebagai produsen urea terbesar di Asia Tenggara, kami siap melahirkan inovasi dan memimpin transformasi hijau industri petrokimia Tanah Air," tuturnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)