4 Strategi KAI Merespons Dampak Pandemi Covid-19

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Didiek Hartantyo.

Menurunnya volume penumpang kereta api pada masa pandemi Covid-19, dari yang tadinya mencapai 900 ribu – 1 juta penumpang per hari menjadi 180 ribu penumpang, membuat PT KAI harus merancang strategi baru untuk meningkatkan kinerja perusahaan di masa pandemi ini.

Ada 4 hal yang dilakukan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Didiek Hartantyo, dalam merespons dan memperbaiki kondisi tersebut. Pertama, protect our people. Saat ini perusahaan memiliki 30 ribu karyawan yang tersebar di berbagai lini mulai dari pengelolaan rel, lokomotif, dan stasiun.

Menurutnya, pekerja lapangan inilah yang memiliki risiko terpapar virus Covid-19. “SDM merupakan aset utama dari PT KAI, kami melengkapi pegawai dengan APD, faceshiled, sarung tangan, serta masker. Selain itu, kami juga menerapkan protokol kesehatan dengan memberikan jarak antar penumpang,” kata dia saat berkunjung ke Majalah SWA.

Di sisi lain, perseroan pun mengaku tidak memiliki rencana untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan pemotongan gaji, meskipun kondisi keuangan mengalami tekanan yang cukup parah. “Kami ingin menjaga kesejahteraan karyawan, serta menjaga kesehatan dan fisik mereka,” ujarnya.

Kedua, perusahaan plat merah ini juga melakukan securing cash dan liquidity. Sebagaimana diketahui, kondisi operasional cash perseroan berada pada posisi negatif per Maret sampai akhir tahun ini. Namun, pihaknya bisa menutup defisit cash flow tersebut melalui modal kerja yang standby dan dana talangan dari pemerintah. “Saat ini, kami didukung oleh Kementerian Keuangan dengan dana sebesar Rp3,5 triliun," ungkapnya.

Ketiga, cost reduction. Artinya, KAI akan melakukan efisiensi di semua lini, terutama di lini operasional. Pengurangan biaya operasional tersebut, menurutnya, bisa menghemat biaya hingga 30-40% dari total biaya tahunan.

Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah dengan melakukan restrukturisasi pembayaran kepada vendor dari segi waktu, melakukan restrukturisasi kepada perbankan melalui penundaan pembayaran angsuran pokok selama setahun, dan pengurangan bunga. “Kami juga meminta keringanan pajak kepada pemerintah,” kata Didiek.

Keempat, melakukan penataan bisnis dengan memaksimalkan sektor angkutan barang. Di masa pandemi, sektor angkutan barang mengalami penurunan sebanyak 30%. Namun, perseroan akan mencari alternatif angkutan barang baru untuk melapisi penurunan tersebut.

“Bisa saja misalnya, kami melakukan pengangkutan telur dan sayur mayur dari dan ke Jakarta. Sektor ini bisa menambah pendapatan kami walaupun nilainya kecil,” kata dia menutup pembicaraan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)