5 Langkah Prioritas Pahala N. Mansury Menerbangkan Garuda Lebih Tinggi

Sebagai pilot baru PT Garuda Indonesia (Persero) yang ditetapkan dalam RUPS 12 April 2017, Pahala N. Mansury langsung dihadapkan pada cuaca ekstrem, yaitu persaingan ketat di bisnis penerbangan dan lonjakan harga bahan bakar. Selama 2016 harga rata-rata bahan bakar US$ 40 per barel, sedangkan tahun ini harga dibuka sebesar US$ 51 per barel. Kenaikan harga tersebut mendongkrak biaya bahan bakar hingga 54%. “Ini tidak hanya dialami Garuda, tetapi juga maskapai lain,” kata Pahala pada acara dinner gathering bersama pemimpin redaksi media massa awal Mei lalu. Kenaikan tersebut punya dampak besar mengingat biaya bahan bakar berkontribusi 30% terhadap total biaya.

Dampak dari persaingan ketat, pertumbuhan revenue Garuda hanya mencapai 4%. Sementara itu, darisisi biaya juga ada peningkatan harga sewa pesawat sebesar 4,2% setiap tiga bulan. Padahal, tahun ini akan ada penambahan dua pesawat sewa lagi. Dengan kondisi tersebut, kinerja keuangan Garuda mengalami kerugian US$ 99,1 juta atau lebih dari Rp 1 triliun selama tiga bulan pertama 2017. “Ini menjadi tantangan kami mengelola cost di saat industri mengalami persaingan yang luar biasa,” tutur pria yang sebelumnya menjabat Direktur Keuangan Bank Mandiri ini.

Pahala N. Mansury Pahala N. Mansury, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Menurut Pahala yang mengaku harus belajar cepat mengelola bisnis penerbangan, industri penerbangan merupakan bisnis yang sangat cyclical. “Selama tiga bulan pertama memang tidak ada event yang men-drive permintaan. Baru pada April kami beruntung karena banyak hari libur. Bulan Juni merupakan bulan terbaik karena ada mudik Lebaran. Sedangkan Juli-Oktober akan berlangsung musim haji,” tuturnya.

Dilihat dari sejarahnya, selama 10 tahun terakhir Garuda telah mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Pada 2006 perusahaan ini baru mengoperasikan 49 pesawat, tahun ini jumlahnya berlipat menjadi 196 pesawat. Pada kurun yang sama, jumlah penumpang meningkat dari 9 juta orang menjadi 35 juta orang. Dilihat dari kualitas layanan pun, menurut Pahala, tidak kalah jika dibandingkan maskapai di Amerika dan Eropa. “Cabin crew kami sudah sangat experienced, bahkan selama tiga tahun berturut-turut mendapat penghargaan The World's Best Cabin Crew untuk kelas ekonomi,” katanya. Dari sisi on time performance, Garuda pernah mencapai 90%, tetapi untuk tahun ini perlu ditingkatkan lagi karena sedikit menurun.

Untuk memperbaiki kinerja Garuda, Pahala akan menjalankan lima langkah prioritas. Pertama, mengoptimalkan pesawat dan biaya yang terkait dengan pesawat, baik di Garuda maupun Citilink. Untuk Garuda tingkat utilisasi rata-ratanya telah mencapai 9,3 jam, sedangkan Citilink baru di kisaran 8 jam. “Fleet optimization menjadi tantangan kami. Bagaimana mengelola enam jenis pesawat dengan engine yang berbeda-beda,” katanya. Selain itu, Pahala juga akan melakukan renegosiasi dengan perusahaan pembiayaan, produsen pesawat, dan pihak yang terkait engine maintenance.

Kedua, melakukan efisiensi biaya overhead, termasuk biaya in-flight service, seperti makanan dan minuman saat on-board. “Misal, jumlah varian jusnya kami kurangi,” tutur Pahala. Penurunan biaya ini juga akan dilakukan di anak-anak perusahaan Garuda untuk mendapatkan kontrak harga yang terbaik.

Ketiga, mengoptimalkan rute melalui berbagai cara, seperti mengubah jadwal penerbangan, mengganti jenis pesawat, memperbaiki konektivitas satu rute dengan lainnya, atau mempertimbangkan kenaikan/penurunan harga. Prinsipnya juga jangan sampai bersaing dengan Citilink. Namun, jika dilihat dari rute internasional, menurut Pahala, dalam empat bulan terakhir pertumbuhannya cukup baik, bahkan menyumbang 45% revenue. Dari perkembangan ini, ia menilai, masa depan Garuda adalah menjadi maskapai regional, baik di Asia Tenggana, Asia Utara, maupun Timur Tengah yang sangat potensial.

Dua langkah lainnya adalah meningkatkan value anak-anak perusahaan yang selama ini memberikan kontribusi 21% terhadap pendapatan Garuda serta meningkatkan revenue management system. “Sebab, revenue per available seat kilometer kami masih belum bagus,” kata Pahala.

Hal lain yang akan dilakukan adalah meningkatkan revenue kargo. Kontribusi kargo akan ditingkatkan, dari 8% menjadi 10-11%. Lalu, mengintegrasikan mobile app Garuda dengan Citilink untuk meningkatkan pembelian tiket secara digital yang selama ini baru mencapai 7-8%. “Masih kecil sekali, padahal kalau beli tiket di travel agent, penumpang harus bayar komisi 2-3%.”

Pahala juga akan melakukan pertemuan sebulan sekali untuk membahas kinerja. “Mulai dari direktur, pilot, hingga cabin crew harus tahu revenue dan kinerja masing-masing,” katanya tandas. Dengan sejumlah strategi tersebut, ia berharap tahun ini Garuda bisa mencapai break even point. “Walau kalau dilihat dari bujet, sepertinya memang masih di bawahnya,” ujarnya.(*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)