Acaraki Meracik Jamu Agar Hitz di Era Kekinian

Sebagaimana jamu telah sulit ditemukan atau malah sudah hilang ditelan zaman, Acaraki menjadikan  jamu menjadi suatu tren baru dengan hadir di masyarakat dengan konsep dan konteks yang berbeda.

Tidak ingin kalah dengan tren minum kopi dan banyaknya pebisnis kopi yang muncul saat ini, Jony Yuwono yang merupakan pemilik kafé jamu Acaraki dan generasi kedua dari PT Sinde Budi Sentosa, memiliki segudang cara untuk dapat memikat masyarakat untuk mengonsumsi jamu lagi yang dikemas kekinian.

Pada tahun 2014-15, Jony dipercaya menjadi Wakil Ketua Gabungan Pengusaha (GP) Jamu dan membidangi riset jamu. Ia telah melakukan clinical studies mengenai khasiat dan manfaat dari jamu itu seperti apa. Dengan melakukan survei ke masyarakat, rata-rata 99% persepsi mereka terhadap jamu itu bagus. Proses yang panjang pun telah dilalui, baik di pengembangan produk maupun menggalang dukungan dari luar.

“Saat Pak Arief Yahya mulai diangkat menjadi Menteri Pariwisata, saya berbincang mengenai kendala yang dihadapi antara perusahaan jamu dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Beliau  menyebutkan bahwa pihaknya tidak bisa memberikan investasi ataupun menegur BPOM. Yang bisa dilakukan dengan membantu branding dari jamu ini ke depannya,” ujar Jony.

Jamu yang berasal dari Bahasa Jawa Kuno yakni Jampi (doa) dan Usodo (kesehatan) yang memiliki makna doa kesehatan, terbukti mencakup hanya sebagian kecil komponen dari obat-obatan dan lebih kaya akan manfaat. “Sebenarnya dengan meminum jamu, secara tidak sadar kita sudah mengonsumsi obat-obatan dengan kandungan bahan rempah-rempah dari penjuru Indonesia,” jelasnya.

Ada 70% stigma yang muncul di masyarakat bahwa jamu itu pahit, namun pada hasil yang diperoleh dari inspeksi langsung, kopi juga rasanya pahit, sama halnya seperti jamu. Jony berusaha merubah persepsi masyarakat bahwa minum jamu itu tidak enak dengan menyajikan jamu dengan Manual Brew dan French Press. Saat ini baru ada 2 jenis yang dipasarkan, yakni jamu Beras Kencur dan jamu Kunyit Asam dengan tingkat kepekatan rasa dari Light, Medium, dan Bold. Harga yang dibanderol pun terjangkau, yakni berkisar Rp 18.000 hingga Rp 20.000.

Jony optimistis  ke depannya dapat menjadikan jamu menjadi tren yang baik, sama seperti tren minum kopi. Ia berencana mendirikan franchise ketika melihat animo yang baik akan penerimaan jamu ini di masyarakat.

Strategi marketing pun banyak dilakukan di media sosial dan menjaring lebih banyak komunitas. “Saat ini, kami baru punya satu kafe, yakni di Kerta Niaga 3, Kota Tua, Jakarta. Kita pun udah ada pabrik dan kerja sama dengan para petani untuk bahan baku jamu. Tugas kami ke depannya adalah memastikan setiap pelanggan merasa puas ketika keluar dari kafe. Target pasar Acaraki pun lebih ke anak muda,” ungkapnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)