Ada Covid-19, Pembangunan MRT Fase 2 Terancam Tertunda

Petugas di lokasi proyek pembangunan CP 201 sedang membersihkan area kerja. (Dok. MRT Jakarta).

Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), William Sabandar mengatakan, pandemi Covid-19 membuat pengerjaan proyek pembangunan MRT Jakarta fase 2A, yaitu Bundaran HI hingga Kota, terancam mengalami kemunduran.

“Terdapat kendala atas pengadaan paket kontrak CP202, CP205, serta CP206. Salah satu penyebabnya karena pandemi Covid-19 yang tengah melanda menyebabkan risiko tinggi terhadap keseluruhan proyek Fase 2 MRT Jakarta," ujarnya seperti yang dikutip SWA dalam keterangan resmi, Senin (19/10/2020).

William menyebut, kegagalan pengadaan paket kontrak CP202 Harmoni—Mangga Besar timbul sebagai konsekuensi risiko tinggi konstruksi lapangan terutama pada masa pandemi SARS-CoV-2 yang berkepanjangan. Hasil evaluasi pengadaan menunjukkan keinginan peserta lelang yang meminta waktu penyelesaian proyek yang lebih panjang.

Sementara proses pengadaan CP 205 sistem perkeretaapian dan rel, saat ini telah mengalami perpanjangan waktu sebanyak empat kali. Selain karena kondisi pandemi Covid-19, peserta lelang juga meminta perpanjangan waktu karena adanya isu kebijakan penggunaan produk komunikasi tertentu yang tidak bisa disediakan pihak kontraktor Jepang, review lebih lanjut terhadap jadwal proyek, dan adanya risiko interfacing antarpekerjaan paket sipil dan paket sistem perkeretaapian.

"Faktor minimnya keterlibatan dan ketertarikan kontraktor Jepang menyebabkan posisi tawar kontraktor Jepang khususnya untuk paket railway systems dan rolling stock menjadi sangat tinggi," katanya.

Meski demikian, MRT Jakarta menilai bahwa pekerjaan konstruksi seperti membangun moda raya terpadu, masing-masing pihak termasuk kontraktor memiliki tanggung jawab risiko interfacing antarpaket pekerjaan sebagaimana berlaku pada pembangunan MRT Jakarta fase 1, maupun pembangunan moda raya terpadu di negara lain.

MRT Jakarta pun memutuskan bahwa tanggal pemasukan penawaran CP205 tetap pada 26 Oktober 2020 dan telah meminta konfirmasi kesediaannya untuk memasukan penawaran pada tanggal tersebut. Adapun sebagian peserta lelang telah memberikan konfirmasinya pada Minggu (18/10/2020) untuk mengupayakan yang terbaik guna memasukkan penawaran pada 26 Oktober 2020.

"Kami meminta komitmen penuh dan realisasi dari para peserta lelang untuk dapat memasukan penawaran pada batas waktu yang telah ditentukan tersebut,” tegas William.

Untuk pengadaan CP206, William mengaku bahwa peserta lelang masih menyampaikan ketidaktertarikan terhadap pengadaan kereta dengan alasan banyaknya proyek lain di pasar domestik Jepang maupun regional Asia, dan jumlah pemesanan dari MRT Jakarta yang dinilai terlalu sedikit.

“Kondisi dan kendala ini terjadi karena pembangunan MRT Fase 2 dibiayai oleh JICA ODA Loan dengan skema Special Terms for Economic Partnership (Tied Loan) sehingga sangat terikat dengan kriteria kontraktor utama harus berasal dari Jepang,” jelas William yang menambahkan bahwa kontraktor Jepang terlalu konservatif dan tidak siap untuk mengambil risiko pembangunan di area fase 2.

Agar proyek fase 2A tersebut dapat berjalan lancar, William mengatakan, pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang sedang melakukan koordinasi dan penjajakan tingkat tinggi. Dengan demikian, diharapkan pemerintah Jepang dapat lebih kuat lagi mendorong pelaku industri perkeretaapian di Jepang untuk terlibat dalam proyek MRT Jakarta fase 2A ini.

"Jika minat pelaku industri di Jepang kurang, maka pilihan pengadaan yang melibatkan kontraktor internasional lainnya dari luar Jepang kiranya dapat dibuka dan disetujui bersama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang,” tutur William.

Dengan beberapa kendala tersebut, ia mengungkapkan, tahapan operasional MRT Jakarta Fase 2A ini telah dibagi menjadi dua, yaitu segmen 1 BHI—Harmoni akan selesai direncanakan pada Maret 2025, sedangkan tahapan operasional segmen 2 Harmoni—Kota kemungkinan besar akan bergeser ke pertengahan 2027.

Sebagai informasi, per 30 September 2020 lalu, paket kontrak CP 201 yang mengerjakan pembangunan terowongan dari Stasiun Bundaran HI sampai dengan Stasiun Harmoni serta membangun dua stasiun, yaitu Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas telah mencapai 8,38\%.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)