Adaptif Jadi Kunci Hadapi Disrupsi Digital

Kepala Aplikasi Oracle Indonesia, Iman Muhammad.

Perkembangan teknologi yang semakin maju telah berpengaruh pada semua bidang, tidak terkecuali dalam proses perekrutan tenaga kerja. Secara perlahan proses perekrutan ini mulai berubah, seperti dari sebuah lembaran surat lamaran menjadi aplikasi lamaran online.

Bantuan teknologi seperti Applicant Tracking Systems, Al software, dan Cloud pun digunakan perekrut dalam mengelola lamaran kerja yang masuk setiap harinya. Namun, tidak semua teknologi yang diimplementasikan tepat untuk meningkatkan efisiensi bisnis.

Penelitian baru dari Oracle dan WHU - Otto Beisheim School of Management menunjukkan, banyak organisasi telah berinvestasi dalam teknologi yang tepat, tetapi kurang memiliki budaya, keterampilan atau perilaku yang diperlukan untuk benar-benar menuai manfaatnya. Studi ini menemukan efisiensi bisnis hanya meningkat seperlima ketika teknologi diimplementasikan tanpa tujuh faktor yang diidentifikasi.

Tujuh faktor utama itu adalah pengambilan keputusan berbasis data, fleksibilitas dan berani melakukan perubahan, budaya wirausaha, visi digital bersama, pemikiran dan pertanyaan kritis, budaya belajar dan komunikasi terbuka, serta kolaborasi.

"Kecepatan perubahan tidak pernah lebih penting bagi organisasi daripada saat ini," kata Wilhelm Frost, dari Departemen Organisasi Industri dan Mikroekonomi di WHU- Otto Beisheim School of Management.

Menurut dia, kemampuan beradaptasi dan kelincahan sangat penting bagi organisasi jika mereka ingin maju dalam persaingan dan menawarkan proposisi memimpin pasar. Menjadi adaptif berarti dukungan yang lebih baik bagi pelanggan, dan ini penting untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Siap adaptif juga merupakan faktor penting dalam perusahaan mana pun yang menarik dan mempertahankan karyawan dengan keterampilan untuk mendorong mereka maju. "Perusahaan yang tidak siap dengan berbagai perubahan tidak akan mampu bersaing untuk mendapatkan keterampilan di pasar digital saat ini," lanjutnya.

Sejalan dengan Frost, Kepala Aplikasi Oracle Indonesia, Iman Muhammad menyampaikan, siap adaptif menjadi kunci untuk mengantisipasi era disrupsi digital baik itu dari sisi proses bisnis, bisnis itu sendiri maupun teknologinya. Menurutnya, saat ini setiap perusahaan harus smart dalam melihat tren dan perkembangan digital. Sebab digital akan merubah culture dari perusahaan itu.

"Kita harus melihat trennya ke mana, karena terkadang kita merasa apa yang kita lakukan sudah yang paling bagus dan tidak bisa dihilangkan, padahal itu salah," ujarnya pada SWA Online.

Oleh karena itu, penting untuk mencari solusi teknologi yang fleksibel dan dapat mengikuti kebutuhan tren, terutama dalam mencari strategic talent untuk meningkatkan efisiensi bisnis. Sebagai salah satu perusahaan pengembang sistem manajemen basis data, Oracle Indonesia menawarkan layanan Talent Acquisition Cloud untuk mendukung proses rekrutmen.

Kata Iman, Human Resources (HR) terutama sebagai strategic talent sudah menjadi perhatian di semua perusahaan besar, bagaimana mereka mengembangkannya, mempertahankan, dan bagaimana karyawan tersebut bisa dioptimalkan.

Talent itu sangat dinamis dibandingkan dengan standar operasional HR yang tidak banyak berubah, tapi di strategic talent bagaimana kita melakukan development orang, bagaimana kita tahu kekurangan employee tersebut, kalau ada yang keluar siapa penggantinya, mana yang the best. Nah, kalau orang kan kebanyakan saat ini subjektif, dengan adanya sistem itu menjadi fair,” tutur Iman.

Keuntungan mengadopsi solusi Talent Acquisition Cloud dari Oracle adalah kecepatan dalam implementasi. Perusahaan tidak perlu mempersiapkan infrastruktur atau mempersiapkan orang-orang teknikal, tetapi lebih kepada mempersiapkan orang yang kompeten di HR. “Dengan menggunakan best practices, kita bisa membuat sistem aplikasinya untuk membantu bisnis yang ada di organisasi tersebut.”

PT Gema Graha Sarana Tbk misalnya, menjadi salah satu contoh perusahaan yang telah menggunakan Talent Acquisition Cloud dari Oracle. Kepada SWAOnline, bagian dari Grup Vivere ini mengklaim bahwa perusahaannya dapat meningkatkan 20% waktu rata-rata untuk mengisi posisi yang sedang dicari, melengkapi persetujuan permintaan karyawan hanya dalam satu hari bukan tiga hingga lima hari, dan tingkat pergantian staf yang lebih rendah dengan mendapatkan wawasan yang lebih baik untuk posisi karyawan baru.

Donny Fernando, CIO PT Gema Graha Sarana Tbk mengungkapkan, tantangan bisnis yang dihadapi perusahaannya adalah mendapatkan good talent. Oleh karena itu, pihaknya mencari tools yang dapat mempermudah operasional HR sekaligus mengerti best practices-nya.

“Kalau pun kita buat sendiri tapi tidak bagus, mungkin jadi tapi tidak best practices HR. Awalnya saya khawatir bahwa saya harus siapin server, investasi banyak, padahal kita bicara hanya rekrutmen. Rekrutmen adalah bagian kecil di dalam HR yang besar, jika kita invest yang besar pasti manajemen tidak setuju. Oracle ini bawa modular, kita perlu apa ya kita beli, yang tidak perlu ya tidak kita beli,” katanya.

Sementara itu, perlu dicatat bahwa Indonesia meluncurkan inisiatif Making Indonesia 4.0 di mana peningkatan keterampilan akan menjadi prioritas utama. Studi ini menyoroti peluang bagi HR untuk memimpin dalam transformasi tenaga kerja di mana mendorong perubahan budaya untuk peningkatan keterampilan dan keterbukaan untuk bekerja dengan mesin dan teknologi. Tujuh faktor yang ditunjukkan dalam penelitian merupakan soft skill yang diperlukan untuk merealisasikan manfaat sebenarnya dari teknologi apa pun dan menjadikan bisnis yang mudah beradaptasi dalam perekonomian masa depan.

Penelitian itu melibatkan 850 Direktur SDM serta 5.600 karyawan, di mana sekitar 300 karyawan dan 50 Direktur SDM dari Indonesia berpartisipasi dalam survei. Penelitian ini berfokus pada cara organisasi dapat beradaptasi untuk keunggulan kompetitif di era digital.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)