Agenda 2018 untuk Go-Jek Indonesia

Nadiem Makarim, CEO PT Go-Jek Indonesia.

Teknologi informasi dan komunikasi menjadi primadona beberapa tahun terakhir, tak terkecuali geliat startup yang hadir menyemarakkan bisnis digital Indonesia. Salah satunya adalah keberadaan startup anak bangsa yaitu Go-Jek.

Menurut Nadiem Makarim, CEO PT Go-Jek Indonesia, tahun 2018 ini teknologi informasi dan komunikasi akan menggilas perusahaan yang enggan berbenah mengikuti perkembangan zaman. Baginya, agar dapat bertahan di tengah era digital saat ini, perusahaan harus mempersiapkan strategi khusus menghadapi perubahan yang terjadi.

“Disruption ada dua, disebabkan digital dan non-digital. Kondisi ini menciptakan dua pasar, yakni pasar baru dan pasar kelas bawah. Kami sangat optimistis menyambut era ini, strategi Go-Jek dengan melakukan self disruption dengan mengganti cara kerja secara revolusioner,” ujarnya.

Go-Jek berusaha mengubah semua produk dan membangun sistem online untuk menghubungkan perusahaan dengan pasar. Mereka juga memperbaiki struktur biaya maupun proses bisnisnya. Kolaborasi dengan bisnis-bisnis baru yang sudah berkembang atau mulai tumbuh di pasar dilakukan untuk melebarkan sayap bisnisnya. “Kami melatih semua jajaran eksekutif dan karyawan untuk memahami makna disrupsi dan membongkar pola pikir mereka sesuai dengan era sekarang,” tambahnya.

Menghadapi tahun politik Indonesia, Nadiem tak begitu menganggap adanya pengaruh pada bisnis Go-Jek. Baginya, justru adanya Asian Games 2018 akan menjadi momentum melejitnya bisnis ini. “Banyaknya pertandingan, tentunya akan semakin banyak masayarakat yang membutuhkan moda transportasi yang praktis dan cepat serta ramah kantong. Dan kami siap ada di sana,” ucapnya meyakinkan.

Hambatan  terjadi seiring dengan kesuksesan bisnis digital seperti Go-Jek. Regulasi dianggapnya menghambat perkembangan sebuah perusahaan yang mau berkembang ke era digital. Perusahan yang sudah mapan dan besar sebenarnya pasti telah menyadari akan kesempatan ini. Namun terkadang mereka hanya bisa bergantung pada struktur, proses, dan prosedur yang sudah ada. Menurut Nadiem, tidak heran jika mereka kesulitan untuk beranjak ke era digital.

Nadiem memberi masukan bagi  regulator dan pembuat peraturan. Salah satunya, perlu memikirkan ulang setiap aspek dari apa yang telah mereka lakukan. Mereka harus fokus untuk memastikan lingkungan yang ditetapkan regulasinya dapat bersinergi dengan pembangunan dan pemeliharaan ekosistem bisnis yang berkembang.

“Setiap level pemerintahan mempunyai kesulitan untuk menghadapi realita yang cepat berubah dalam era digital. Perubahan teknologi yang cepat menyulitkan untuk mengidentifikasi dan menyetujui perundang-undangan yang tepat. Hasilnya, regulasi tersebut melarang, membatasi, eksploitasi komersial dari kesempatan yang diciptakan oleh inovasi teknologi,” ungkapnya.

Salah satu strategi Go-Jek di 2018 adalah mengadaptasi demand spesific dari lingkungan lokal. Hal ini juga menjadi pembeda Go-Jek dengan kompetitor lain. Layanan yang dimiliki, Go-Pay, menjadi contoh besar pentingnya pengadaptasian bisnis model terhadap keadaan lokal. Go-Jek sukses memperkenalkan sistem pembayaran elektronik pada ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada pembayaran cash lebih dari separuh transaksi yang terjadi di Go-Jek sejak April 2016.

Go-Pay menawarkan kesempatan luar biasa untuk semua yang terlibat dalam ekosistem Go-Jek, terutama saat Go-Pay dapat digunakan untuk membayar penyedia jasa dan merchant lain. "Kami percaya  Go-Pay dapat menjadi bisnis yang menguntungkan. Targetnya, tahun ini memiliki lebih dari 350 ribu pengemudi roda dua dan roda empat, 7.000 penyedia jasa, dan 70 ribu merchant Go-Food,”  ujar Nadiem berharap.

 

Reportase: Akbar Keimas

 

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)