Akatara Siap Pertemukan Sineas Film dan 40 Investor

Perwakilan Bekraf, BPI, Akatara, dan Sineas pada Konferensi Pers Akatara di Jakarta. (Foto: Anastasia/SWA)

Badan ekonomi kreatif melalui Deputi Akses Permodalan menyelenggarakan Road to Akatara Indonesia Film Business & Market. Acara ini diselengarakan untuk menciptakan akses permodalan di industri film, serta mendorong entrepreneurship di kalangan pembuat film. Akatara rencananya akan digelar pada tanggal 19-22 September 2019 di Jakarta.

Fajar Hutomo, Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), mengatakan, acara ini tidak hanya mempertemukan ide cerita dari para sineas untuk bertemu dengan potensial investornya. Tetapi juga mengedukasi para pemilik kapital mengenai seluk beluk penanaman modal di sektor film. “Kami ingin para pemilik modal ini paham mengenai bagaimana dan apa keuntungan menanamkan modalnya di industri film ini. pada dasarnya kami ingin membangun ekosistem industri film di Indonesia,” kata dia.

Pada tahun ini, Akatara akan mengundang 61 proyek film yang terafiliasi dari 122 orang. jumlah ini lebih banyak dari tahun lalu yang berjumlah 55 proyek dari 110 orang. Sementara di sektor investor, akan ada 40 sumber pendanaan yang hadir selama pitcing forum dan speed dating. Kedua ajang ini merupakan ajang perjodohan pembuat film tanah air dengan pemilik modal. Tahun ini akatara juga akan menyediakan 100 booth di lokasi acara.

Kepala Bekraf, Triawan Munaf dalam siaran persnya menyatakan, geliat investasi di bisnis film Indonesia saat ini sudah mulai menunjukan tren positif. ‘Kami berharap investor dan berbagai pihak pendukung dapat menjadikan akatara sebagai meeting point strategis untuk mengembangkan ekosistem perfilman Indonesia,” ujarnya.

Tahun ini, Akatara akan bekerjasama dengan banyak pihak baik dari dalam dan luar negeri. Adapun kerja sama khusus akan dijalin dengan pihak Aprofi dan Komite Buku Nasional yang menginisiasi program Akatara IP-Market yakni pitching penulis buku/novel kepada para produser film.

Selain itu, akan berkolaborasi dengan The United Team of Art (TUTA), yakni lab berupa program investasi proyek film khusus bertema urban legend. Kerjasama ini akan berbentuk bantuan supervisi kepada sineas, membiayai, dan mengolah proposal film sampai siap dan matang untuk diajukan kepada investor produksi film.

Fajar menambahkan, selama 2 tahun ini sudah ada beberapa film yang telah berhasil tayang melalui program Akatara ini. Namun sayangnya dia enggan untuk menyebutkan total film yang telah dibiayai oleh investor melalui skema ini. “yang bisa kita share antara lain film Keluarga Cemara, Mantan Manten, Darah Biru, Arema 2, dan beberapa film pendek maupun panjang. Untuk detail total kita tidak bisa umumkan karena terkait dengan perjanjian investor,” kata dia menambahkan. Inisiasi non produksi film berupa pelatihan oleh komunitas film Passikola dan insisasi pemutaran film remaja keliling untuk penonton remaja perempuan juga dilakukan dalam 2 tahun terakhir ini.

Di tempat yang sama, Chand Parwez, Ketua Badan Perfilman Nasional (BPI) menyatakan BPI serius untuk mendorong keberadaan Akatara agar lebih besar dan berkontribusi lagi agar investasi di bidang perfilaman terus berkelanjutan. “Gelaran ini harus benar-benar bisa menjadi forum titik temu yang produktif dan menguntungkan sineas Indonesia serta investor. Untuk itu kualitas seleksi karya dan calon investor akan menjadi prioritas utama penyelenggaraan Akatara,” kata dia.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)