Aktivaku Garap Peluang Pembiayaan KPR

Peluncuran AktivaHome

Peer to peer lending sebenarnya bisa menjadi peluang bagi pemilik dana menganggur menjadi salah satu instrumen investasi saat ini. Dalam upaya mendorong awareness peluang investasi ini dengan menggandeng Asosiasi Fintech Pendanaan bersama Indonsia (AFPI) mengadakan diskusi dengan tema “Grow Your Money-sense Digitally”. Bukan hanya itu, acara ini juga merupakan upaya meningkatkan literasi keuangan dan peluang pembiayaan perumahan di Indonesia.

Bersamaan dalam acara yang melibatkan Bank Mandiri area Pondok Kelapa, perusahaan aplikasi Moneesa, dan Asosiasi Pengusaha Wirausahawan Properti Nusantara (Perwiranusa) diluncurkan produk AktivaHome dari Aktivaku.

Entjik S Djafar, dari AFPI menjelaskan kondisi saat ini memang ada pemain fintech tak berijin OJK, bahkan melakukan praktik liar, ia menyayangkan keadaan ini. “Anggota AFPI saat ini 164 fintech yang terdaftar dan berijin di OJK. Dalam organisasi kami di bawah supervisi tenaga-tenaga profesional seperti Chatib Basri dan Rhenald Kasali,” ungkap pria yang berkarir selama 27 tahun di 8 bank ini dalam acara diskusi di Resto Kembang Goela Jakarta (05/03/2020).

Jika ada anggota yang melanggar, setelah disidang komite etik, akan dikeluarkan dari keanggotaan. Untuk diketahui keanggotaan AFPI atas ijin OJK. Maka itu jika keanggotaannya dicabut, maka otomatis izinnya juga dicabut oleh OJK. “Semua anggota harus transparan dalam laman dan platform fintech dan tidak boleh bunganya tinggi, harus di bawah 0,8%,” ujar CEO fintech Dana Rupiah ini. Ia melanjutkan di tengah kondisi perlambatan ekonomi,

Aidil Akbar Madjid, perencana keuangan yang hadir dalam diskusi ini, di tengah pesatnya perkembangan digital, sayangnya kelas menengah Indonesia tidak paham pengelolaan keuangannya, belum tahu investasi, bahkan terlibat hutang. Maka itu, ia melanjutkan, dibutuhkan pemahaman yang tepat bagaimana investasi yang tepat dan aman, bukan saja bisa menghasilkan return yang menarik.

“Parahnya lagi, banyak dari mereka menjadi korban investasi bodong, jadi literasi keuangan kelas menengah Indonsia masih rendah. Perkembangan digital mendorong tumbuhnya berbagai aplikasi keuangan. Makanya saya juga kembangkan Moneesa, awalnya offline, sekarang menjadi online, menjadi personal assistant perencanaan keuangan digital,” terang Pendiri dan Chairman Moneesa.

Ia menjelaskan Moneesa bisa dikatakan bisa menjadi ‘dokter digital’ perencanaan keuangan penggunanya. “Bagaimana speendingnya tiap bulan apakah terlalu berlebihan untuk konsumsinya, Moneesa bisa tracking tidak sehatnya keuangan penggunanya,” ujarnya. Aidil mengungkap, artis yang dia kenal pernah menghabiskan uang Rp 20 juta per hari, walau sebenarnya penghasilannya Rp 4 miliar per bulan. Mereka kerap mendapat masalah ketika mengajukan pinjaman ke bank, karena tidak memiliki penghasilan tetap dan pengelolaan keuangan yang buruk.

Aidil juga melihat para atlit top dengan penghasilan Rp 25 juta hingga Rp 100 juta per bulan tapi tidak bisa mengelola keuangan dengan baik, sehingga hanya habis untuk konsumsi. Di daerah, mereka yang berprofesi bidan, penghasilannya bisa sampai Rp 40 juta, mereka informal kerjanya, tapi lebih dipercaya masyarakat di daerah untuk pemeriksaan kehamilan dan melahirkan.

Juga para pedagang warung tegal (warteg), menjadi target Meneesa yang dinilai perlu diarahkan pengelolaan keuangannya agar yang didapat berkembang, bukan habis dikonsumsi. “Pengelola warteg juga kurang mendapat akses pinjaman bank, walau uang banyak, bukan unbankable, mereka punya rekening di bank, hanya saja kurang bisa mengelola dan pencatatan keuangan dengan baik,” jelasnya.

Lebih lanjut Arief Suryo Handoko, Pendiri Perwiranusa, menuturkan dari sisi kesempatan memiliki rumah di Indonesia masih rendah. Ia menyebut anggota pengembang asosiasi yang berada di bawah binaan Kementerian PUPR ini sekitar 1000 pengembang, 200 di antaranya pengembang yang aktif membangun 200 unit rumah per pengembang per tahun. “Walau ada target 1 juta perumahan rakyat dicanangkan pemerintah, sayangnya jutaan orang tidak bisa mendapat akses KPR. Padahal mereka memiliki gaji atau pendapatan,” ungkapnya.

Ricky Gandawijaya, Pendiri dan CEO Aktivaku, dengan masalah yang dipaparkan di atas, untuk rumah saja, sebagai kebutuhan pokok manusia, antara supply dengan demand-nya tidak berimbang. Kondisi masyarakat Indonesia saat ini ada 6,8 juta masyarakat Indonesia belum memiliki rumah per tahun. “Kami melihat ini menjadi peluang, sektor informal bukan tidak bisa mendapat akses pinjaman bank, mereka mampu hanya saja dianggap belum ‘aman’ untuk pinjaman. Padahal mereka punya penghasilan,” ujarnya.

Melihat kondisi pasar ini, Aktivaku mengganddeng Bank Mandiri, melalui produk AktivaHome menjadi kredit installment untuk mereka yang belum mendapat akses KPR. Ia mengatakan Aktvaku secara disiplin credit assesment menggandeng lembaga Psikologi UI untuk menilai karakter calon nasabah untuk memahami apakah dia layak mendapat pinjaman. Terlebih untuk pinjaman KPR yang relatif panjang jangka pinjamannya.

Proses pinjaman AktivaHome jika seluruh dokumen yang dibutuhkan lengkap setidaknya 2 minggu prosesnya sudah selesai. “Bagi lender agar mereka dananya aman, untuk peminjam yang tidak bisa melanjutkan cicilan, pengembang akan buy back, dialihkan ke pembeli rumah lain dan asuransi,” tandasnya.

Rolland Setiawan Asisstant VP Retail Deposit Product&Solution Group Bank Mandiri mengakui bank memang harus memenuhi aturan yang ketat dalam memberikan pinjaman ke nasabah. “Fintech dengan keunggulan teknologi, memperluas akses pinjaman, dengan lebih mudah. Bukan tidak ada bidang yang tidak kami biayai pinjamannya, tapi memang banyak dari mereka ditolak pengajuan pinjamannya, karena tidak tercatat pendapatannya,” ungkapnya.

Arief berharap dengan kerja sama dengan Aktivaku dalam beberapa tahun ke depan dapat meraih 15-20 ribu pembiayaan rumah dari 200 ribu pengembang aktif bisa mendapat akses pembiayaan.

Target AktivaHome diharapkan bisa membiayai 1.000-2.000 rumah di tahun 2020, sehingga total pembiayaan Rp 400-800 miliar yang digelontorkan. Jumlah lender yang tergabung dengan Aktivaku sekitar 3.000 lender tapi hanya 300 yang aktif dengan total dana pengelolaan Rp 100 miliar saat ini.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)