Alih Usaha Selama Pandemi COVID-19, Cara Dua UMKM Ini Selamatkan Bisnis

Abdul Manap, Pemilik UD Karunia Mandiri UMKM Mitra YDBA dari Tarikolot, Citeureup, Bogor memaparkan cara ia survive d masa pandemi

Mengutip data dari Kementerian Koperasi dan UKM hingga April 2020  sekitar 43% UMKM berhenti beroperasi akibat pandemi COVID-19. Padahal seperti kita ketahui, 99% pelaku usaha Indonesia adalah UMKM, sekitar 98% di level mikro dan ultra mikro.

Inilah yang menjadi perhatian khusus YDBA, yayasan di bawah Grup Astra yang terus mendorong UMKM binaannya mencapai 11.332 UMKM, dengan rincian 899 UMKM di bidang Manufaktur, 1914 UMKM di bidang Bengkel Roda-2 dan Roda-4, 3134 UMKM di bidang Kerajinan dan 1130 binaan di bidang pertanian.

Ketua Pengurus YDBA, Sigit P. Kumala  mengatakan dalam virtual konferensi pers (12/06/2020), bahwa improvement selalu ditegaskan untuk terus dilakukan oleh UMKM untuk mempertahankan dan memajukan bisnisnya. “Terlebih saat pandemi yang terjadi saat ini,” ujar Sigit dalam acara sharing UMKM dengan tema Adaptive melakukan Improvement di Tengah Pandemi Covid-19.  

Menurutnya, UMKM harus terus beradaptasi dengan keadaan bisnisnya, bisnis yang dikembangkan di awal usaha, tidak harus diteruskan jika tidak memungkinkan, bisa mengikuti kondisi yang terjadi,  dengan aktif menjawab kebutuhan pasar. “Seperti Pak Manap dengan memenuhi kebutuhan APD Face Shield yang kebutuhannya sedang tinggi,” ujarnya.

Abdul Manap, Pemilik UD Karunia Mandiri yang merupakan UMKM Mitra YDBA dari Tarikolot, Citeureup, Bogor. Ia mengungkapkan bagaimana awal mula CV Karunia Mandiri melakukan improvement secara berkelanjutan. Pun saat mengalami penurunan akibat pandemi COVID-19 ini. “Kami di YDBA terus mambantu dengan mencari peluang pasar sesuai dengan kondisi yang berkembang, saat pandemic dengan new normal berbeda kebutuhannya,” tutur Sigit.

Manap mengakui bimbingan YDBA selama pandemi ini, membuat bisnisnya bisa terus beroperasi dan membiayai karyawannya. Ia menceritakan, sebelum pandemi ia sudah banyak mengikuti binaan agar bisnisnya dikelola dengan standar layaknya bisnis Astra. Prinsip menjaga QCDS (quality, cost, delivery dan services) ia jalankan.

Tidak heran jika kemudian bisnisnya pun terus meningkat. Manap memproduksi bracket atau aksesoris untuk roda dua (R2) yang banyak diorder oleh AHM (Astra Honda Motor). Ia mengungkapkan Januari hingga Maret 2020 permintaan bracket dari pembeli terus menurun Januari masih 4,125 juta unit, Februari 2,750 juta unit dan Maret 1,6 juta unit. Untuk perusahaannya hanya mendapat order untuk Januari 1650 unit saja, lalu Februari 1100 unit, anjlok di bulan Maret sampai 640 unit saja.

Ketua Pengurus YDBA Sigit P. Kumala 

“Rata-rata omset per 3 bulan kami hanya Rp 2.825.000 saja,” kenangnya. Padahal sebelum pandemi ia bisa meraih omset Rp 7 jutaan minimal. Order bracket yang mengalami penurunan tajam, tidak membuatnya patah arang, berkat bimbingan YDBA, serta arahan mencari peluang lain yang ia ikuti, Manap berhasil menyelamatkan bisnisnya. Ia memutuskan mengambil peluang banyaknya permintaan face shield di masa pandemi ini.

Kebetulan, banyak permintaan face shield dari Grup Astra. Ia menyebut pesanan dari AHM tahap pertama sampai 1.000 unit, sedangkan selanjutnya mencapai 2.000 unit. “Bulan April masih rendah pemintaan face shield yang bisa saya penuhi hanya 397 unit, karena untuk memproduksi FS45 sesuai standar memang butuh pemahaman khusus. Saya harus beradaptasi terjadi banyak kondisi koreksi bahwa penggunaan material kurang tepat. Atas bimbingan YDBA, juga pasar yang terus dicari peluangnya, saya berhasil mencapai penjualan di bulan Mei sampai 1100 unit dan Juni ini sampai 1082 unit,” katanya. Pendapatannya kini bisa mencapai Rp 38 juta lebih dalam sebulan.

Menurutnya, selain untuk Grup Astra saja kebutuhan face shield yang ia penuhi, juga memenuhi pesanan sekolah dan perusahaan lain. Ia yakin dengan langkah improvement dan inovasi, terus berupaya mendapatkan bahan baku dengan harga lebih murah, meski face shield sedang juga sudah banyak yang memproduksi ia bisa menyediakan produk terbaik dengan harga juga lebih kompetitif.

Manap merasakan pelatihan yang diberikan YDBA serta arahan terus  mencari peluang untuk bertahan di era pandemi ini sangat membantu UMKM selamat dari krisis. Sama halnya dengan Manap, pelaku UMKM lain Tri Retno juga mengungkapkan dengan beradaptasi dan inovasi membuat usahanya bisa survive di masa pandemi.

Retno yang juga binaan YDBA, merupakan pemilik usaha dari Citra Handycraft, bahan-bahan yang dia miliki dialihkan menjadi masker yang cantik yang awalnya diproduksi untuk donasi. “Usaha saya memproduksi tas, sampai sekarang masih kami produksi, perca yang banyak selama ini kami gunakan untuk aksesoris atau banyak yang tidak maksimal diolah, ternyata di saat pandemi ini bisa dimanfaatkan untuk dibuat masker,” ujarnya.

Ia mengakui sebelum pandemi produknya dijual secara langsung, melalui berbagai pameran, termasuk ikut dalam berbagai pameran yang YDBA ikuti. Di saat pandemi ia memilih menggunakan jalur ecommerce. Bukan hanya masker, Retno juga membuat daster yang menjadi kebutuhan para wanita di tengah kegiatan work from home (WFH) yang berlangsung sejak April 2020.

Sigit menyampaikan YDBA berusaha mendampingi UMKM di tengah kondisi seperti ini dan mendorong UMKM untuk adaptive dengan melakukan improvement agar mereka dapat mempertahankan bahkan memajukan bisnisnya melalui pasar yang baru.

“Kami juga mendorong UMKM untuk mengoptimalkan media online sebagai media untuk memperkenalkan produk dan memperluas pasarnya,” ujarnya. Untuk meningkatkan kompetensi UMKM sesuai bidangnya, YDBA juga tetap mengadakan pelatihan yang saat ini dilakukan secara online agar UMKM tetap update terhadap ilmu-ilmu yang dapat diterapkan di tengah pandemi ini.

Hal tersebut merupakan strategi jangka YDBA dalam memasuki era new normal. Sedangkan strategi jangka panjang YDBA, yaitu memperbanyak partner melalui kolaborasi dengan pelaku Pentahelix, terutama dalam menggali peluang bisnis bagi UMKM. Pentahelix di sini adalah konsep pembangunan dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, community, akademisi dan pengusaha. Sehingga, melalui kolaborasi ini kami berharap dapat mempermudah langkah kita bersama untuk mengembangkan dan menjadikan UMKM tersebut mandiri dan siap go international.

“Kelas-kelas penjualan online kami berikan, namun yang terpenting memberikan pemahaman pelayanan konsumen dan klien dengan mematuhi QCD (quality, cost and delivery), plus bagaimana menjuaan produk dengan packaging menarik. Karena kami ingin UMKM binaan kami bukan saja bisa hadir di pasar lokal tapi juga  pasar ekspor,” tuturnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)