Alternatif Ruang Publik untuk Sinema Sidestream

Menjadi bioskop alternatif yang berada di luar pusat perbelanjaan, Kineforum hadir menawarkan beragam program film yang disertai dengan diskusinya. Berlokasi di komplek Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, ruang putar film ini telah ada sejak 2006 yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kineforum berhasil menjadi ruang putar alternatif untuk film -film berbeda dengan yang diputar di ruang publik seperti TV dan biskop umum.

Terwujudnya Kineforum merupakan kerja sama dengan Cinema XXI untuk membuaka ruang film alternatif. Awalnnya masih bernama Art Cinema yang bergabung dengan bioskop publik. Animo yang besar atas adanya Art Cinema ini membuat Cinema XXI akhirnya memutuskan untuk membangun ruang putar film khusus tahun 2006 bernama Kineforum. Bioskop Kineforum mampu memberikan sajian program reguler setiap bulan dengan memutar film-film dengan tema khusus yang bisa datang dari mana saja dan dari berbagai jenis film. Film yang diputar biasanya film yang menjadi alternatif tontonan bagi publik, mulai dari film klasik, kontemporer, film panjang atau pendek, film luar dan lokal, serta film-film sidestream.

Kineforum adalah bagian dari Cinema XXI, infrastruktur bioskop dibagun oleh Cinema XXI. Begitu juga media promosi dan pemutaran iklan oleh Cinema XXI. “Ada tim khusus yang bekerja untuk membuat program dan mempromosikan Kineforum dari pihak Cinema XXI. Saat ini seluruh kepengurusan sudah ada di tim Kineforum sendiri yang diawasi oleh DKJ dan Cinema XXI,” ujar Lulu Ratna, Kepala Pengurus Kineforum, Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta. Bentuk bisnis Kineforum nantinya tidak hanya sebagai tempat pemutaran film saja, tapi lebih dari itu. Saat ini Kineforum telah menjual program dengan beberapa pihak,  tapi namanya tetap menggunakan Kineforum.

Target pasar yang dibidik Kineforum adalah orang-orang yang mempunyai kegemaran menonton film dan mencari alternatif tempat hang out. Institusi sekolah atau lembaga pendidikan juga menjadi sasaran Kineforum untuk menjadikan dirinya sebagai ruang putar untuk kegiatan nonton barenga film-film edukasi. Perusahaan juga menjadi target untuk menyelenggarakan agenda rutin di Kineforum dalam 16 hari di luar pemutaran reguler Kineforum. “Kineforum memiliki jadwal pemutaran film dua kali penayangan di hari kerja pada pukul 17:00 dan 19.00. Sementara akhir pekan tiga kali penayangan pada pukul 14.30, 17.00, dan 19.30,” ungkap Lulu.

Untuk menarik minat pengunjung, selain dibantu Cinema XXI, lewat iklan agar masyarakat lebih mengenal. Kineforum juga memilih film-film tematis yang sedang populer di kalangan masyarakat, menyediakan film edukatif bagi kelompok belajar, menerapkan sistem member maupun gratis nonton setelah berapa kali kunjungan. Penetapan harga atau tarif bioskop Kineforum harus dalam batas wajar dan terjangkau bagi banyak kalangan, baik tarif untuk setiap individu maupun grup. Demi mempertahankan eksistensi, Kineforum harus mengikuti tren perfilman setiap pekannya dengan menyediakan 14 judul film setiap bulannya.

Nilai berbeda yang didapatkan di Kineforum adalah diskusi film. Ini tidak didapatkan di bioskop-bioskop umum. Tujuannya, memberikan pembelajaran lebih kepada masyarakat melalui film yang ditonton. “Dalam dikusi tidak hanya belajar tentang membuat film, tapi juga belajar dari pesan yang disampaikan oleh film. Dalam diskusi ini kami menghadirkan para sineas dari film yang diputar untuk diajak berdiskusi langsung dengan penonton,” ujarnya.

Monetasi Kineforum tak hanya berasal dari penjualan tiket di setiap pemutaran filmnya. Kineforum juga membuka penyewaan tempat dengan harga sewa untuk satu slot film (2-3 jam) sebesar Rp 1 juta, dua slot (3-6 jam) Rp 2 juta, dan biaya sewa tiga slot (6-9 jam) Rp 3 juta. Sementara itu, tiket untuk pertunjukan reguler biasa dibanderol Rp 20.000 per tiket. Di Kineforum juga menjual merchandise dari film seperti kaos, DVD, buku dan lainnya. “Kineforum memiliki satu ruang cinema berukuran 7 x 8 m dengan kapasitas 45 kursi dan lima kursi tambahan. Ruang bioskopnya telah dilengkapi perforated screen ukuran 3 x 6 m,” papar Lulu.

Dalam sehari, sekitar 150-200 penonton datang ke Kineforum. Kebanyakan penonton kalangan mahasiswa, pelajar dan pegawai kantor. Beberapa instansi dan perusahaan seperti Google, Samsung, Garuda dan lainnya juga kerap memesan mini bioskopnya untuk agenda tertentu. Omzet yang diperoleh pun tergantung event dan program yang dikeluarkan. Capaian omzet antara Rp 8 juta sampai Rp 20 juta per hari.

Menurut Catherine Keng, Direktur Pemasaran dan Kerja Sama Cinema XXI, hadirnya Kineforum sebagai upaya menghidupkan ekosistem perfilman. Kineforum adalah wadah untuk pemutaran film yang mungkin tidak ada distributornya tapi ingin diputar dan sebagainya. “Ruang putar alternatif selalu punya tempat sendiri di masyarakat dengan berbagai tayangan yang anti mainstream,” ujarnya.

Dukungan Cinema XXI lewat Kineforum inilah yang menjadi angin segar bagi insan perfilman. Adanya Kineforum kreatifitas insan perfilman tidak akan dibatasi. Kerja sama tiga pihak ini diharapkan bisa menular ke daerah-daerah lain untuk menumbuhkan ekosistem perfilman Indonesia. Catherine menambahkan, hal ini bisa ditiru daerah lain namun perlu dikaji kesiapan dari penonton dan pemerintah daerahnya. “Ini adalah sebuah ruang alternatif film indie, maka jia Anda ingin sesuatu yang berbeda, Anda akan dapatkan di sini,” ungkap Catherine.

Reportase: Akbar Kemas

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)