Amartha, Pembiayaan bagi Usaha Ultra Mikro

Lima tahun menjalani model konvesional sebagai badan pembiayaan untuk ekonomi inklusif, Amartha akhirnya masuk ke sistem dengan basis teknologi digital. Perubahan zaman harus diterima Amartha dengan cara beradaptasi sesuai zaman. Membangun financial technology untuk membantu banyak pengusaha ultra mikro yang butuh dana agar usahanya tetap berlanjut dilakukan sesuai dengan eranya. Debitur yang beragam dengan usaha sanagt kecil ini sangat sulit mendapat pinjaman dari bank. Lima tahun ini, Amartha melayani mereka dan kedisiplinan debitur dalam melakukan pembayaran cukup bertanggung jawab.

Sejak 2010 hingga 2015,  sebagai institusi yang masih konvensional, Amartha menjadi jembatan yang menghubungkan mereka dengan publik yang mau menjadi investor atau lender. “Kami membuat online marketplace lending. Jadi, para pengusaha kecil ini memasukan pinjamannya, lalu kami publish di website online, sehingga semua orang di luar sana bisa menjadi investor atau lender dengan membaca profil-ptofil usaha ultra mikro tersebut,” ungkap Andi Taufan, CEO dan Founder PT Amartha. Dengan pinjaman yang kecil ini, para debitur sebenarnya dapat kembali pokok dalam waktu yang cepat. Keleluasaan yang diberikan Amartha dengan pengembalian setahun ini cukup memudahkan debitur. “Di situ mereka bisa kasih return 15-20%, itu menjadi margin (imbalan) untuk investor. Jadi margin mulai dari 10%-20% yang menyesuaikan dengan profil usaha yang mereka investasi,” ia menerangkan.

Memang tidak semua aware pada kegunaan internet, terutama para debitur Amartha. Tugas agen-agen lapangan Amartha yang tersebar di Kab. Bogor, Klaten, Sukabumi berusaha untuk mengedukasi mereka. “Satu kabupaten kami  sediakan 25-30 agen lapangan. Tersebar di masing-masing desa yang kami bidik, jadi satu desa-satu agen. Total ada 300 orang agen saat ini, tersebar di 400an desa,” ujar Andi. Agen yang dipilih adalah orang lokal setempat dan merekalah yang menseleksi calon peminjam dan mengurus angsuran peminjam. Dipilihnya orang setempat agar dapat lebih mudah berkomunikasi dengan debitur.

Kini ada 33 ribu debitur dengan rata-rata pinjaman 3 jutaan. Total dana yang dikucurkan dalam satu tahun terakhir ini sudah lebih dari Rp 85 miliar sejak kami bertransformasi ke platform digital pada April 2016. Nilai NPL Amartha 0% dalam setahun ini, keterlambatan ada, tapi tidak sampai pada status kredit macet. “To good to be true. Payment rate kami sekitar 99,9 % dengan lama keterlambatan rata-rata dibawah 30 hari. Dalam sebulan Amartha dapat menerima 5 ribu aplikasi (proposal) pinjaman dengan nilai beragam dari Rp 3-10 juta untuk segmen ultra mikro. Kemungkinan mendapatkan pinjaman diatas 10 juta namun itu sangat jarang, 1 dari 100 pengusaha.

Amartha kini memiliki lebih dari 10 investor. Bagi yang ingin menjadi investor dapat menanam modal minimal Rp 3 juta. Andi menyampaikan, Amartha akan memberikan profil usaha dengan segala resiko dan probabilitasnya utuk si investor dan mereka yang memutuskan sendiri mau menanamkan uangnya dimana saja. Adanya Amartha sebagai institusi pembiayaan mikro banyak membantu kesuksesan usaha ultra mikro dengan indikator yang berbeda-beda. Kini Amartha telah terdaftar dan diawasi oleh OJK dengan nomor regristrasi S-2491/NB.111/2017 sebagai Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Keberadaan Amarta di ranah usaha kecil diharapkan dapat mendorong lebih banyak kemajuan pelaku usaha ultra mikro di Indonesia hingga terwujudnya ekonomi kerakyatan. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)