Apa yang Membuat Ekonomi Indonesia Bertahan di Tengah Pandemi?

Menjelang DBS Asian Insights Conference 2020, Bank DBS Indonesia menyelenggarakan DBS Insights for Business Leaders, di mana Bank DBS Indonesia mengamati, menganalisis, dan menyajikan pandangan para pakar seputar kondisi ekonomi terkini. Pada sesi yang bertajuk ‘Economies in Transition (Indonesia)’, DBS Chief Economist, Taimur Baig berdiskusi dengan Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Paulus Sutisna dalam memaparkan pandangannya mengenai kondisi ekonomi Indonesia di tengah pandemi.

Berikut adalah rangkuman terkait pembahasan kondisi ekonomi Indonesia di masa pandemi:

1. Perbandingan antara krisis akibat pandemi tahun 2020 dengan krisis tahun 1998 sebelum krisis global yang terjadi akibat Covid-19, Indonesia pernah mengalami kondisi serupa pada tahun 1998. Apabila dibandingkan dengan krisis 1998, ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dan sehat. Hal tersebut tercermin pada beberapa aspek termasuk peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga lima kali lipat menjadi US$ 1,1 triliun dan peningkatan cadangan devisa sekitar tujuh kali lipat menjadi US$129 miliar.

Selalu menjadi kekhawatiran, pinjaman luar negeri naik sebesar 3,1 kali lipat menjadi US$404 miliar. Adapun, hal yang perlu digaris bawahi adalah rasio utang Indonesia terhadap PDB yang mengalami penurunan dari 57% menjadi 36%. Uniknya, tahun 1998 dan 2020 mencatat depresiasi Rupiah yang serupa yaitu sekitar Rp16.500 sampai Rp16.600. Hal yang berbeda di tahun 2020 adalah tingkat depresiasi sebesar 16%, dari 500% di tahun 1998.

Paulus mengungkapkan bahwa perbedaan yang paling berarti terasa dari segi kestabilan politik. “Berbeda dengan situasi politik tahun 1998 yang sangat tidak stabil, kondisi saat ini jauh lebih stabil di mana Presiden Jokowi memasuki periode kedua. Selain itu, pemerintahan Jokowi juga mengeluarkan berbagai kebijakan stimulus yang ditargetkan untuk mengurangi kemiskinan," jelasnya.

Berbeda dengan masyarakat di tahun 1998 yang belum berbekal jaminan sosial, masyarakat kini memiliki program jaminan sosial atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) yang memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan pengobatan gratis. Dalam upaya meminimalisir dampak Covid-19, pemerintah meningkatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar US$ 27 miliar untuk pembiayaan pelayanan kesehatan.

Selain kondisi perekonomian Indonesia yang saat ini jauh lebih stabil, Taimur melihat bahwa kebijakan pemerintahan Jokowi turut memberikan dampak signifikan. “Berbagai stimulus yang diberlakukan dengan fokus utama pada penyediaan layanan bagi penduduk miskin seyogyanya membantu menjaga stabilitas ekonomi," ungkap dia.

2. Upaya menangkap peluang di tengah pandemi Covid-19

Kendati ekonomi Indonesia mengalami krisis akibat Covid-19, Bank DBS Indonesia melihat potensi ekonomi digital mampu mendorong pemulihan ekonomi nasional. Sebagai salah satu negara dengan partisipasi media sosial tertinggi, Indonesia menunjukkan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat selama satu dekade terakhir, di mana Indonesia sudah memiliki enam unicorn yaitu Gojek, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, Ovo dan JD.id.

Dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di tengah pandemi yang diterapkan pemerintah, sektor logistik merasakan dampak positif, mengingat masyarakat cenderung menghabiskan pengeluaran di e-commerce untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. DBS juga mengamati adanya peningkatan popularitas dan ketergantungan masyarakat pada e-commerce di masa pandemi.Kondisi saat ini menjadi daya tarik yang kuat dalam menghadirkan nasabah baru, yang mulai beralih dari transaksi di kantor cabang menjadi transaksi pada telepon genggam.

Dari sisi korporasi, kebijakan kerja dari rumah (WFH) turut mendorong masyarakat untuk memanfaatkan kanal digital.

3. Kondisi perekonomian Indonesia pasca-pandemi Covid-19.

Dikarenakan infrastruktur kesehatan Indonesia mengalami banyak tantangan dan diprediksi akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih, dibanding negara-negara ASEAN lainnya dengan infrastruktur kesehatan yang lebih kuat dan solid. Beberapa studi memperkirakan kondisi kesehatan Indonesia dapat pulih pada bulan September hingga Oktober 2020.

“Tidak seperti kondisi kesehatan, perekonomian Indonesia justru diperkirakan akan pulih lebih cepat. Hal tersebut memungkinkan karena Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki permintaan domestik yang kuat,” jelas Paulus. Secara historis, rata-rata rasio ekspor terhadap PDB Indonesia adalah sebesar 20% hingga 25%. Pada situasi normal, Indonesia tertinggal dari negara lain yang memiliki persentase yang lebih besar.

Sependapat dengan Paulus, Taimur menambahkan, “Di tengah pandemi ini, negara seperti Indonesia justru mendapatkan keuntungan. Berbekal permintaan domestik yang kuat, Indonesia tidak perlu terlalu fokus terhadap ekspor dan dapat lebih fokus pada pengeluaran pemerintah yang dapat mendorong perekonomian Indonesia.”

Dengan kata lain, kondisi saat ini membuat perekonomian beberapa negara yang awalnya tumbuh lebih cepat dari Indonesia kini menjadi lesu ketika permintaan eksternal melemah. Sebaliknya, negara-negara seperti Indonesia yang bergantung pada permintaan domestik berpotensi untuk bertahan lebih baik.

Kehadiran pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan global secara dramatis yang nyatanya melumpuhkan roda perekonomian global, tak terkecuali Indonesia. Memasuki era new normal, kini saatnya masyarakat kembali menata kehidupan dan mulai memperbaiki kerugian akibat pandemi.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)