Apa yang Terjadi pada Brand di Era Disruptif?

“Brands in the Connected World” adalah tema besar IBBA di tahun 2017. Kehadiran teknologi digitalisasi menjadikan segala sesuatu terkoneksi satu sama lain.

Pelanggan suatu brand di suatu industri terkoneksi dengan brand lain di industri yang berlainan pula. “Tadinya hubungan antara brand dan customer adalah one-on-one. Saat ini posisi suatu brand tidak diketahui ada di mana. Ini membingungkan pelaku bisnis tradisional,” ujar Asto Sunu Subroto, CEO Mars Indonesia

Berada di era disrupsi digital ini, konsumen semakin sulit diprediksi. Hal ini disebabkan karena banyaknya sumber informasi yang dapat diakses oleh konsumen. Ini pun berdampak pada menurunnya brand awareness. Menurut Yuswohady, pakar pemasaran, dampak disruptif ini tidak hanya di bidang teknologi, tetapi juga terjadi pada brand, yaitu consumer disruption.

Pada disrupsi konsumen ini, generasi millenial dan Gen Z memiliki peran. Mereka tidak memiliki engagement dengan brand-brand yang sudah lama. Mereka mulai kehilangan koneksinya. Kondisi tersebut diperkuat dengan buying power yang menurun. Terjadi switch dalam pembelian dari produk mahal ke yang lebih murah. Konsumen selalu price concern/price conscious dari segmen manapun. Apalagi dengan informasi yang melimpah membuat orang semakin membandingkan berbagai brand.

"Era baru dengan generasi baru tentunya berbeda dengan generasi sebelumnya. Di era sekarang itulah tumbuh juga konsumen yang memiliki karakter dan selera tersendiri terhadap produk sehingga produsen pun harus jeli menanggapinya, sehingga kami wajib mengetahui target konsumen agar tepat sasaran," ungkap M. Abidin, GM After Sales & Public Relation PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing.

Asto menambahkan, pada era saat ini yang dilakukan tidak perlu menyerang, yang penting adalah kolaborasi. Kolaborasi itu tidak hanya dilakukan brand dalam satu industri yang sama. Sebaiknya kolaborasi itu dilakukan seluas-luasnya, cross-industries.

Agar sebuah brand bisa mudah menjadi nomor satu adalah dengan menciptakan kategori baru sendiri. Kalau ia dalam kategori yang sama dengan brand lama maka akan sulit untuk menyusul. Kalau ingin menjadi leader, make your own path. Kalau menggunakan jalur lama maka akan menjadi follower.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)