Aplikasi Obrolan dan Transportasi Online Jadi Pesaing Serius Bank

Sejak 3-4 tahun belakangan ini para ahli dan konsultan bisnis meramalkan akan adanya persaingan bisnis lintas kelompok industri. Pesaing bisnis bukan lagi sesama pemain dalam satu jenis industri melainkan datang dari kelompok industri yang berbeda.

Kali ini hasil survei dari PwC Indonesia, bertajuk Survei Perbankan Digital 2018 juga menunjukkan hal yang sama. Sebanyak 72% responden dari survei tersebut—mereka adalah perbankan—mengindikasikan perusahaan teknologi seperti Go-Jek adalah bisnis baru yang akan menjadi pesaing serius bank di masa depan.

Dalam survei tersebut ada 10 perusahaan teknologi seperti Alibaba, Grab, Tokopedia, Facebook dan Telkomsel yang dipilh responden sebagai calon kompetitor bank dimasa depan. Sebanyak  62% responden memilih Alibaba, 42% memilih Grab, 38% Tokopedia dan 36% Telkomsel.

Bahkan di negara lain seperti China, aplikasi obrolan seperti WeChat adalah pesaing baru bagi perbankan di sana. Di India, pemain global seperti Facebook dan Google juga sudah menggarap pasar konsumer di sana. Facebook melalui anak usahanya WhatsApp dan Google melalui Tez yang beroperasi dengan menggunakan UPI (Unified Payment Interface).

Layanan seperti pembayaran di jaringan toko ritel, belanja online, transfer uang, beli pulsa, bayar ongkos transportasi, tiket pesawat, penginapan, semua bisa menggunakan aplikasi dari perusahaan-perusahaan tadi. Tetapi apakah ini benar-benar ancaman bagi perbankan?

Menurut Chairil Tarunajaya, Technology and Risk Consulting Leader PwC Indonesia, menjelaskan, kondisi tersebut akan menjadi tantangan baru bagi perbankan tetapi juga ada peluang yang bisa digarap. “Secara umum yang didisrupsi oleh para perusahaan teknologi tersebut adalah pasar consumer banking, masih ada peluang lain jika bank cermat melihatnya,” jelas Chairil.

Peluang lain adalah jika bank mau melihat para perusahaan teknologi tersebut sebagai mitra bisnis. Ajisatria Suleiman dari Asosiasi Fin Tech Indonesia menjelaskan, dengan bermitra, bank bisa memanfaatkan data dari perusahaan teknologi tersebut mengenai potensi kredit usaha. “Misalnya GoJek memiliki puluhan ribu mitra UMKM kuliner yang tergabung di Go Food, ini bisa dijadikan bank sebagai data mitranya yang mana saja yang layak diberi kredit usaha,” jelas Ajisatria.

Chairil juga mengungkapkan temuan menarik lainnya dari hasil diskusinya dengan beberapa bank di Indonesia. Menurutnya, kini beberapa bank juga sudah mulai mencoba agile dan membuka diri untuk belajar dari para pendatang baru seperti GoJek. “Apa yang mereka pelajari dari bisnis seperti Go Jek adalah bagaimana membangun ekosistemnya, lalu attack ekosistemnya dan dimana revenue-straim akan tercipta,” jelasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)