Asia Tenggara Jadi Role Model Industri Asuransi Global

Perkembangan asuransi jiwa di Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara pada umumnya menjelma menjadi role model industri asuransi jiwa secara global.

Pasalnya, industri asuransi di Asia, seperti Indonesia, mempunyai sistem yang baik, terutama dalam meningkatkan penetrasi industri asuransi melalui peran agen asuranai jiwa.

"Asia Tenggara jadi role model yang bagus untuk pertumbuhan asuransi, karena ada pertumbuhan kelas menengah di wilayah ini. Di sini punya sistem merekrut agen profesional. Produk asuransinya juga sangat inovatif dan kuat. Nah kelas menengah itu hanya tinggal menunggu agen profesional menelpon mereka," kata James D. Pittman, Presdir MDRT Internasional dalam siaran persnya  (30/8/2018).

Kondisi tersebut menurut James sangat berbeda dengan di Amerika Serikat. Dimana para agen asuransi di AS membuat rekrutmen sendiri, training sendiri, independen seperti praktik broker asuransi, tidak terikat dengan perusahaan asuransi.

Konsekuensinya, banyak populasi yang tidak terasuransikan. "Jadi kondisi Asia Tenggara kebalikan dari AS. Di sini agen asuransi dari part time menjadi full time. Tentunya perusahaan juga memiliki banyak agen yang teredukasi. Dan dengan itu akan ada growth populasi yang terasuransikan," jelas James.

Maka, MDRT Global menaruh perhatian yang tinggi ke Asia Tenggara. Dia mengaku, memang selama empat tahun keliling dunia, dia menemukan di setiap negara yang memilki kelas menegah, termasuk Indonesia, memiliki masalah yang sama.

"Manusia pernah sakit, meninggal, cacat. Nah, kehadiran asuransi membuat keluarga bersatu dan bisnis atau usaha tetap bertumbuh. Jadi MDRT selama 90 tahun telah membantu semua anggotanya terus tumbuh. Salah satunya melalui seminar seperti ini (MDRT Day), karena dalam seminar ini memberi ide tentang praktik yang bagus dalam industri asuransi, karena pada akhirnya semua industri dan agen asuransi ingin membuat atau memberikan yang terbaik bagi klien atau nasabah," urai James.

Untuk itu, dalam seminar MDRT Day Indonesia 2018 ini, James berbagi strategi soal praktik yang telah dilakukannya untuk klien. Contohnya, kata James, menciptakan waktu untuk mengetahui ketakutan, harapan dan impian dari klien. Selanjutnya mengedukasi mereka untuk mencapai impian. "Dan bagaimana membangun praktik bisnis yang benar dan tumbuh secara konsisten untuk kepentingan keluarga dan bisnis sehingga bisa terlindungi semua," jelasnya.

Lucy Dewani, Advisor Komite MDRT Indonesia di kesempatan yang sama menegaskan, industri asuransi di Indonesia memang telah memilki sistem pengembangan agen yang baik, kendati penetrasi asuransi masih kecil. "Kita punya sistem selling dan rekrutmen yang bagus. Jadi seorang agen tidak hanya menjual tetapi juga merekut dan membangun komunitas agen profesional melalui edukasi agen terus menerus," katanya.

Dengan tingkat profesionalisme agen yang semakin baik akan berdampak pada populasi klien. Dengan demikian sumbangan industri asuransi ke GDP Nasional juga akan terkerek naik. "Itu pasti dampaknya ke GDP, kita optimis," ujarnya.

Berdasarkan catatan AAJI, Pada kuartal kedua tahun 2018, total tertanggung industri asuransi jiwa mencapai 53.271.946 orang. Dari angka tersebut, penetrasi asuransi jiwa yang dilihat dari besarnya jumlah tertanggung perorangan terhadap jumlah penduduk menunjukkan nilai di angka 6,6%.

Sementara tenaga pemasaran asuransi jiwa berlisensi pada kuartal II 2018 meningkat 5,7% menjadi 603.605 orang, dimana 91 % dari total pemasaran tersebut berasal dari saluran keagenan.

Glen Alexander Winata, Country Chair MDRT Indonesia, mengatakan, penetrasi yang masih minim dari industri asuransi ke GDP tidak luput dari level profesionalisme agen.

"Karena masih banyak agen saat menjual kurang profesional. Hanya ambil komisi tidak menjelaskan prinsip asuransi. Harusnya sebagai financial planer itu menjelaskan klausal (perjanjian) dalam berkas polis kepada nasabah. Tidak heran kalau masih banyak masyarat trauma, karena janji akan mendapatkan keuntungan ternyata sebaliknya," jelas Glen di kesempatan yang sama.

Maka, Glen mengajak semua agen asuransi jiwa untuk bergabung dengan MDRT. Makin banyak yang masuk, makin banyak agen asuransi yang profesional, karena MDRT merupakan wadah agen asuransi yang tersertifikasi secara global keberadaanya.

Potensi peningkatan jumlah nasabah, menurut Glen, akan berdampak dengan sendirinya ketika agen profesional juga meningkat. "MDRT optimistis industri asuransi akan terus meningkat. Dengan meningkatkan profesionalisme, maka klien juga bertambah. Kita juga sudah bekerjasama dengan AAJI, Pak Hendrisman (Ketua AAJI) bahkan mengatakan kalau bisa 50% agen asuransi jiwa masuk dalam keanggotaan MDRT," papar Glen.

Untuk diketahui, jumlah anggota MDRT di Indonesia tahun 2018 mencapai 2.048 anggota, meningkat 49% dibandingkan dengan total anggota MDRT tahun 2017 yang telah mencapai 1.367 anggota. Dengan jumlah keanggotaan MDRT saat ini, Indonesia masuk dalam peringkat ke-empat untuk kawasan ASEAN. Adapun posisi anggota MDRT di negara ASEAN, peringkat pertama Thailand (2.237 anggota), kedua Vietnam (2.229 anggota), ketiga Filipina (2.068 anggota), Indonesia keempat.

Glen menambahkan, pertumbuhan anggota MDRT sangat signifikan kendati secara jumlah masih berada di urutan ke-empat di level ASEAN. "Di 2018 Pertumbuhan keanggotaan MDRT meningkat 49%. Jumlah ini akan terus ditingkatkan sehingga semakin banyak agen asuransi jiwa yang masuk MDRT. Karena jumlah anggota MDRT saat ini baru 2.048, sementara agen asuransi jiwa nasional sudah mencapai 500 ribuan. Jadi jumlah anggota MDRT masih di bawah 1 persen. Untuk itu fokus kami adalah meningkatkan jumlah anggota MDRT," jelas Glen.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)