Australia Perkuat Investasi Pertanian di Jateng

Australia akan memperkuat investasi bidang pertanian di wilayah Jawa Tengah (Jateng) melalui program Prisma, hasil sinergi antara Pemerintah Indonesia dengan Australia.

Hal ini mengemuka setelah terjadinya pertemuan antara Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia, Allaster Cox dan Pemda Jateng. Sebanyak 13 perusahaan berkomitmen untuk melakukan kemitraan di sejumlah sektor dan isu pertanian, termasuk padi, jagung, sapi potong, kacang tanah, pupuk, dan pembiayaan pertanian.

Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia, Allaster Cox, mengatakan kegiatan Prisma bisa terlaksana karena adanya koordinasi yang intensif dengan pemerintah daerah dan swasta. “Kami berharap terobosan ini dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi pelaku pertanian, termasuk petan di Jawa Tengah,” kata dia.

Ketigabelas perusahaan yang masuk dalam kemitraan tersebut adalah PT Agrosid Manunggal Sentosa/PT Primasid Andalan Utama, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk, Corteva Agriscience, PT. East West Seed Indonesia, KJUB Puspetasari, Agricon Indonesia, FMC Corporation, PT Rutan, PT Crowde Membangun Bangsa, PT. Tanijoy Agriteknologi Nusantara, CV. Semi, CV. Fermen Hipro Feed dan CV. Saprotan Utama.

Sebelum pertemuan ini, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia melakukan kunjungan lapangan ke Desa Kampil, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan untuk melihat salah satu contoh kegiatan Prisma di sektor padi.

Di sektor ini, Prisma bermitra dengan Agrosid/Primasid dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kabupaten Pekalongan untuk mempromosikan penggunaan benih padi hibrida sejak September 2019.

Kemitraan antara Prisma
dan Agrosid/Primasid ini juga ditujukan untuk menyebarluaskan
pengetahuan mengenai teknik perawatan tanah yang baik, terutama
kepada para petani yang berada di wilayah utara Jawa Tengah,
mengingat kondisi tanah di lokasi ini memiliki kadar salinitas yang
tinggi.

Ayub Darmanto, Direktur Utama PT Agrosid Manunggal Sentosa/PT Primasid Andalan Utama (Agrosid/Primasid) mengatakan, meski Jateng merupakan penghasil padi terbesar kedua di Indonesia, produksi padi masih memiliki potensi yang kuat untuk ditingkatkan.

“Dengan menggunakan benih ini, petani berhasil menghasilkan padi sebesar 2 ton gabah kering panen per hektar. Angka ini lebih tinggi dari pemakaian padi inbrida,” kata dia menjelaskan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)