Bagaimana Branding Menjadi Lonceng Kematian?

Sebuah penelitian (Kantar Worldpanel, 2016) menyebutkan bahwa di negara-negara berkembang, orang semakin menjauhkan diri dari berbagai brand (55% di Jepang, 54% di Inggris, dan 44% di AS), dan yang lebih mengejutkan, barang-barang kebutuhan dengan putaran omset cepat atau fast-moving consumer goods (FMCG) dengan merek di masa depan akan kehilangan 50% pembelinya.

Demikian diungkapkan Luiz Moutinho, pengajar dan pakar bidang BioMarketing dan Futures Research dari DCU Business School, Irlandia, pada seminar Branding Update: A New Perspective in Branding World dengan topik The Future of Branding yang diselenggarakan Program S1 Branding Sekolah Bisnis dan Ekonomi, Universitas Prasetiya Mulya, di Kampus Cilandak, 31 Mei 2017.

“Artinya, branding yang tak memperhatikan konsumen dan semakin jauh dari keterlibatan konsumen adalah lonceng kematian bagi brand sebuah produk. Bila demikian merek menjadi tak berguna lagi”, tegas Moutinho.

Branding atau kegiatan penguatan merek yang dilakukan dengan komunikasi satu arah dan sumber yang tak dipercaya konsumen akan mematikan sebuah merek atau brand. “Era fuzzynomics yang membombardir informasi ke konsumen tanpa arti dan hanya bertujuan untuk mengarahkan publik untuk membeli sebuah produk sedang berakhir. Kondisi itu memisahkan secara tajam hubungan antara produsen dan konsumen. Baik merek maupun konsumen sama-sama tak punya konsep yang jelas,” jelas Moutinho.

Kini konsumen ikut menentukan merek. Era branding dengan iklan monolog, dan berkhotbah gaya megalitik tak tersentuh sementara konsumen hanya boleh mendengarkan, kini sedang dan sudah berakhir. “Konsumen sekarang berinteraksi langsung dengan merek, lebih aktif memberi masukan, mengusulkan produk dan layanan yang dikehendaki atau sesuai dengan seleranya, menyentuh langsung pembuat kebijakan produk lewat saluran-saluran feedback yang ditawarkan produsen,” kata Moutinho.

Era itu dimulai dengan fenomena internet, yang membebaskan konsumen dan membuka semua kemungkinan partisipasi dalam proses branding sebuah produk. Contoh paling nyata misalnya, 44% pengguna internet di AS membagikan pemikiran dan pengalamannya tentang merek lewat media sosial.

Begitu pentingnya branding untuk produk dan perusahaan, Program S1 Marketing Sekolah Bisnis dan Ekonomi, Universitas Prasetiya Mulya mengembangkan kurikulumnya. Menurut Agus W. Soehadi, Dekan Universitas Prasetiya Mulya, sejak 2016 lalu S1 Marketing menjadi S1 Branding, agar menjadi lebih komprehensif dan siap menjawab tantangan industri yang selalu berubah.

Agus menjelaskan, para mahasiswa ditantang untuk menjadi seorang brand strategist andal, tidak hanya mampu memasarkan produk namun juga piawai mengidentifikasi konsumen, menciptakan produk unik, dan mengkomunikasikan produk secara terintegrasi dan terarah. Hal ini menjadikan konsumen lebih aware, interest dan melakukan pembelian.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Kasus Corbec Tunda Lelang Frekuensi di Spektrum 2,1 Ghz dan 2,3 Ghz?

Lelang frekuensi di spektrum 2,1Ghz dan 2,3Ghz bisa jadi akan mengalami penundaan. Banyak pihak menduga tertundanya Rancangan Peraturan Menteri (RPM)...

Close