Bagaimana E-commerce Kendalikan Harga Produk Kesehatan

Masker barang langka dan mahal saat wabah COVID-19

Di tengah wabah COVI-19 ini ada sejumlah pedagang tidak bertanggung jawab mengambil keuntungan tidak wajar dengan menimbun dan menjual barang-barang yang dibutuhkan. Barang-barang seperti masker, hand sanitizer, bahkan barang terkait kesehatan melonjak tinggi. Berbagai langkah dilakukan ecommerce dalam menstabilkan kembali harga barang-barang tersebut.

Tokopedia misalnya, VP of Corporate Communcations Tokopedia, Nuraini Razak menegaskan jika ada toko yang menampilkan harga, judul, deskripsi tidak wajar atas produk kesehatan maupun kebutuhan pokok lain sebagai dampak dari COVID-19 tidak wajar, Tokopedia akan menutup toko tersebut. “Kami telah menutup permanen ribuan toko online dan melarang tayang puluhan ribu produk yang terbukti melanggar,” tandasnya melalui jawaban tertulis pada SWA Online (23/03/2020).

Dalam upaya menjaga stabilitas harga dan produk kesehatan, Tokopedia juga memotong biaya layanan 100% untuk penjual di kategori produk kesehatan dan kebutuhan pokok lain. “Selain lewat edukasi, langkah ini dinilai dapat mendorong penjual selalu memastikan ketersediaan produk, juga menjaga harga tetap stabil,” ujarnya.

Menurut Nuraini ini semata karena Tokopedia memahami belanja online dapat menjadi alternatif mengurangi risiko penyebaran virus di tempat ramai sekaligus mendorong bisnis lokal terus beroperasi secara online.

Melalui jawaban tertulis (26/03/2020), Intan Wibisono, Head of Corporate Communications Bukalapak mengatakan, pihaknya memperbolehkan pelapak untuk menentukan harga produk dan strategi penjualan masing-masing.

“Akan tetapi, Bukalapak akan menindak pelapak yang memanfaatkan situasi pandemi untuk meraup keuntungan tidak wajar dan menghalangi akses masyarakat untuk mengakses produk tersebut sesuai dengan syarat dan ketentuan yang telah disepakati bersama,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, dalam mengontrol pelapak nakal yang gila-gilaan menaikan harga, Bukalapak biasanya mendapat laporan dari para pembeli siapa saja pelapak yang menaikkan harga barang secara tidak wajar.

“Bukapalak tidak segan-segan untuk segera di take-down dan kami juga mengadaptasi algoritma kami untuk mendeteksinya. Bukalapak sangat menghargai kerja sama dari pengguna yang bersedia melaporkan temuan seperti ini pada tim BukaBantuan untuk ditindaklanjuti,” tandasnya.

Hal sama dilakukan Shopee, menurut Aditya Maulana Noverdi, Public Relations Lead, Shopee Indonesia pihaknya pun bertindak tegas pada toko-toko yang nakal. “Lebih dari 3000 toko kami tutup bahkan sejak 2 minggu lalu, ketika wabah Covid-19 ini menjadi isu besar. Ini merupakan tanggung jawab sosial Shopee sebagai pelaku ecommerce di Indonesia,” jelasnya melakui konferensi pers via kanal Youtube Shopee (25/03/2020).

Untuk itu secara aktif melalui Kampus Shopee, menurut pengakuan Aditya, para mitra Shopee melalui tim community terus mengedukasi mitra penjual agar bisa berjualan online dengan baik.

Ia menjelaskan intervensi harga sebenarnya dengan 3 juta penjual aktif di Shopee memang tidak mudah, karena Shopee juga harus memastikan agar produk yang dijual toko-toko di dalamnya layak beli. “Kami selalu melakukan edukasi agar penjual menawarkan harga yang sesuai daya beli. Deskripsi juga harus sesuai dengan terus meningkatkan literasi penjual. Karena deskripsi prosuk ada di ranah mitra penjual. Deskripsi harus sesuai agar tidak membuat masyarakat khawatir. Kami pun tegas pada mitra penjual yang nakal,” paparnya.

Aditya mengakui bahwa permintaan akan produk-produk kesehatan melonjak tajam, sejak awal Maret tahun ini ketika wabah COVID-19 mulai merebak di Indonesia. Sayangnya dia tidak bisa sebutkan berapa peningkatannya dengan alasan bahwa Shopee sebagai perusahaan terbuka baru mengeluarkan data per kuartal. “Selain produk kesehatan, barang-barang sehari-hari juga naik,” tuturnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)