Bagaimana Peluang Industri Kopi di Tengah Digitalisasi?

Google memperkirakan sampai dengan tahun 2025 kapitalisasi potensi digital ekonomi Indonesia mencapai 1,762 triliun. Artinya, dalam 5 tahun ke depan potensi sangat terbuka dan berpeluang. Termasuk salah satunya pada komoditas kopi, di mana Indonesia sebagai produsen biji kopi keempat terbesar di dunia. Bagaimana peluang industri kopi di tengah pemanfaatan digitalisasi tersebut?

Pada acara webinar Digitalisasi Pasar Kopi di Era Pandemi dalam rangkaian Eastfood Indonesia Virtual Expo, Agung Kurniawan, Pendiri KNK Koffee Resources, menyampaikan bahwa kemunculan marketplace online membuat pasar semakin meluas. Namun hal ini perlu diimbangi dengan kualitas produk dan konsistensi. Ketika keduanya dijaga maka distribusi bisa lebih jauh.

“Semuanya jadi punya potensi untuk bisa menjual dengan jumlah yang besar. Pelanggan digital ini pada akhirnya juga senang beli ke offline,” ujar Agung.

Hal senada disampaikan Hery Lazuardi, Editor in Chief Coffeetimes. Ia berpendapat bahwa media sosial, platform e-commerce, dan ride hailing memudahkan pebisnis kopi melakukan aktivitas promosi dan proses penjualan. Selain itu, dominasi populasi muda /milenial yang melek teknologi menciptakan gaya hidup baru dalam mengonsumsi kopi.

Entry barriers bisnis kopi rendah, sementara nilai tambah kopi dan margin bisnis keadi kopi relatif tinggi,” ujar Hery.

Ia melanjutkan, pandemi Covid-19 yang melanda kini memunculkan sejumlah tantangan yang dibarengi dengna peluang yang berkaitan dengan digitalisasi, seperti penjualan di kedapi kopi menurun karena kapasitas pengunjung harus dibatasi dan dilarang berkerumun, di sisi lain penjualan online meningkat.

Ataupun permintaan dan harga biji kopi yang menurun serta ekspor yang tertekan, juga pengembangan SDM yang terhambat, di sisi lain melahirkan pebisnis kopi yang lebih kreatif, membuka pasar baru, dan peluang bisnis layanan digital.

“Maka kata kuncinya, pelaku kopi butuh story. Kenapa? karena kopi akan semakin popular jika dipadukan dengan sektor lain sehingga semakin menarik. Kaalu hanya minum kopi saja sebetulnya bisa minum di rumah saja,” tuturnya.

Sementara itu di tingkatan petani, Abdul Walid, Pendiri Yayasan Kopi Anak Negeri, melihat bahwa banyak petani sudah melek dengan teknologi dan sudah mengakses media sosial seperti Instagram dan Facebook. Namun menurutnya, masih ada hambatan yang masih perlu dijembatani. Para petani belum bisa melakukan digitalisasi, butuh arahan yang tepat untuk penjualan.

“Petani masih baru bisa mengunakan teknologi, belum secara digital. Belum mampu membuat angka di digital. Hal ini membutuhkan pola untuk sampai ke tingkatan yang bisa dihitung,” katanya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)