Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan PDB Indonesia 5,1 % Tahun 2016

Tahun 2016, ekonomi Indonesia terlihat lebih baik dibandingkan dengan kinerja negara-negara eksportir komoditas lainnya, dengan proyeksi pertumbuhan PDB sebesar 5,1 %. Hal ini menjadi salah satu catatan penting dalam laporan triwulan Bank Dunia yang dirilis di Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (20/6).

Dalam laporan tersebut, dijelaskan bahwa dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, pertumbuhan Indonesia lebih tinggi dibanding Malaysia (4,4 %) dan Thailand (2,5 %), namun lebih rendah dibanding Filipina (6,4 %) dan Vietnam (6,2 %).

Jpeg

Bank Dunia juga melihat pertumbuhan PDB riil Indonesia mencapai 4,9 % pada kuartal pertama 2016 (YoY), sedikit lebih lambat dari perkiraan, terutama karena belanja publik yang lebih rendah. Sedangkan pertumbuhan konsumsi swasta di kuartal pertama 2016 tetap 5 % YoY. Demikian juga dengan investasi yang masih melambat sepnajang kuartal pertama 2016.

Data Bank Dunia menunjukkan pertumbuhan investasi di kuartal pertama 2016 tetap melambat di 5,6 % YoY, hal ini dikarenakan belanja modal pemerintah pusat yang lebih rendah dibanding tahun lalu. Tetapi lembaga dunia ini memprediksi investasi pemerintah akan meningkat pada kuartal-kuartal berikut mengikuti tren historis.

Sementara itu, ekspor dan impor juga menunjukkan tren menurun baik secara volume dan nilai. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa penurunan ekspor secara luas didorong oleh rendahnya permintaan global, apresiasi kurs tukar valuta sebesar 3,1 % pada kuartal pertama 2016, dan melemahnya harga komoditas utama dibanding kuartal pertama 2015. Impor bahan mentah dan barang modal menurun, sementara impor barang-barang konsumsi (tidak termasuk BBM) terus meningkat sejak tahun 2014 lalu.

Ekonom Bank Dunia, Ndame Diop, menyarankan dengan menurunnya pendapatan ekspor komoditas yang signifikan, maka sudah saatnya bagi pemerintah Indonesia untuk beralih fokus ke industri manufaktur dan jasa sebagai sumber baru bagi pertumbuhan pendapatan.

Diop menjelaskan, pemeritah harus lebih fokus menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di industri manufaktur dan jasa pendukungnya seperti riset dan pengembangan produk, cold storage, distribusi serta rantai pasok. “Manufaktur adalah industri yang sangat menjanjikan, sudah terbukti berhasil disejumlah negara berkembang di dunia,” ujarnya.

Tetapi Diop mengingatkan, bahwa pemerintah juga jangan lupa menyiapkan SDM yang handal, karena bagaimanapun investor tetap melihat daya tarik Indonesia adalah ketersediaan tenaga kerja dengan upah yang lebih kompetitif. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)