Bank Mandiri Konsisten Jalankan Tiga Strategi Utama

Berdasarkan perhitungan Wealth Added Index (WAI) yang dilakukan oleh Stern Value Management dan Majalah SWA,  PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. secara konsisten berhasil mempertahankan posisinya di peringkat 10 besar. Bahkan,  mampu meningkatkan berkali lipat nilai WAI-nya.

Perhitungan yang mengacu pada laporan keuangan tahun 2017, WAI Bank Mandiri meningkat dari Rp27,19 triliun menjadi Rp83,80 triliun. Peringkatnya naik dari sebelumnya di posisi ke-8 menjadi posisi ke-6. Pencapaian ini mencerminkan manajemen yang apik dalam mengelola sumber daya modal perusahaan dan membangun kepercayaan investor terhadap emiten tersebut.

Menurut Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., Kartika Wirjoatmodjo, saat ini perusahaan konsisten menjalankan tiga strategi utama. Pertama, memperkuat kompetisi inti di segmen korporasi dengan cara memperdalam hubungan dengan klien dan secara khusus endukung pertumbuhan di sektor infrastruktur.

Kedua, mengembangkan kompetensi inti kedua, dengan tumbuh secara agresif dan sehat di segmen ritel. Langkah kedua ini antara lain dengan memberikan kredit berbasis payroll, mortgage, pinjaman kendaraan, dan consumer loan lainnya.

Ketiga, meningkatkan sinergi dengan perusahaan anak dan meningkatkan produktivitas jaringan distribusinya, untuk menjadi one stop financial services provider yang handal.

Strategi yang diterapkan Bank Mandiri sejalan dengan pengelolaan portofolio bisnisnya. “Bank Mandiri memang memiliki keunggulan di segmen korporasi,” ungkap Tiko, sapaan akrab Kartika Wirjoatmodjo. Hal ini tercermin pada nilai total portofolio kreditnya di segmen korporasi yang mencapai Rp225 triliun dengan tingkat Non Performing Loan (rasio kredit macet) yang sangat rendah.

Di sisi lain, Bank Mandiri terus mengembangkan potensi bisnis ritel, terutama yang diperoleh dari customer base di segmen korporasi. Ia memaparkan, bisnis turunan di segmen ritel yang dapat dikembangkan pihaknya antara lain produk-produk seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Tanpa Agunan (KTA), Kredit Otomotif, Kartu Kredit, dan Kredit Serbaguna Mikro (Mikro KSM). “Dengan strategi ini, kami dapat mengoptimalkan kinerja dengan risiko yang terukur,” ujarnya.

Saat ini, komposisi kredit korporasi Bank Mandiri mencapai 65%, sedangkan sisanya sebesar 35% berasal dari kredit ritel. “Kami merencanakan dalam 2-3 tahun ke depan, pertumbuhan kredit di segmen ritel ditargetkan sebesar 20-25%. Untuk komposisi kredit ritel meningkat menjadi 40% dan kredit korporasi turun menjadi 60% atau tumbuh secara tahunan di kisaran 10-12%,” katanya.

Tiko mengungkapkan bahwa di segmen korporasi ditargetkan tidak hanya dari sisi volume bisnis, tetapi juga dari dari sisi revenue. Dilakukan optimalisasi pendapatan fee based income (FBI) dengan meningkatan wallet share pada klien-klien top bank ini. FBI segmen korporasi ditargetkan mencapai 25% dari total pendapatan  segmen korporasi, sedangkan sekarang pada kisaran 18- 20%.

Sejak awal Bank Mandiri telah menggunakan portfolio guideline untuk sektor industri yang dijadikan sebagai target pertumbuhan. Pedoman ini membagi sektornya dalam kategori ‘menarik, netral, dan selektif.’ Menurutnya, Bank Mandiri juga menggunakan Risk Acceptance Criteria (RAC) untuk masing-masing sektor industri dan produk dengan memperhatikan data historikal dan proyeksi forward looking. Ia mengaku penerapan kedua pedoman ini terus dievaluasi dan dilakukan penyesuaian yang dibutuhkan untuk memastikan bank dapat tumbuh dengan baik dengan kualitas yang terjaga. “Ini terlihat dari kualitas kredit dan Cost of Credit yang terus mengalami perbaikan,” ujarnya.

Bank Mandiri menunjukkan perbaikan kinerja yang berkesinambungan. Berdasarkan capaian pada triwulan I/2018 dibandingkan dengan triwulan I/2017 secara konsolidasi, kredit tumbuh 7,1% mencapai Rp703 triliun, dengan kualitas kredit membaik ditandai dengan NPL ratio sebesar 3,32%. Lalu, dana murah tumbuh 6,8% menjadi Rp497 triliun, sehingga porsi dana murah meningkat menjadi 64,6%.

Pre-Provision Operating Profit (PPOP) atau laba operasional sebelum pencadangan tumbuh sebesar 6,7% menjadi Rp11,5 triliun, didorong oleh pertumbuhan FBI mencapai 8,4% menjadi Rp6,2 triliun dan Net Interest Income (NII) tumbuh sebesar 3,71% mencapai Rp13,9 triliun di tengah tren suku bunga kredit yang menurun akibat persaingan. Sedangkan, laba bersih Bank Mandiri mencapai Rp5,9 triliun, tumbuh 44%. Tren perbaikan kinerja keuangan yang konsisten ini mampu meningkatkan kepercayaan investor dan nilai kapitalisasi saham Bank Mandiri.

Untuk perkembangan ekonomi dan industri perbankan nasional serta kinerja Bank Mandiri kepada investor dan analis, dilakukan tiap triwulan sekali. Bank Mandiri menyelenggarakan Analyst Meeting guna menyampaikan update masalah yang dihadapi serta solusinya. “Hal ini dilakuka agar mereka memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kami,” ujarnya.

 

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)