Barito Ekspansi ke Sektor Kelistrikan, Panas Bumi, dan Energi Terbarukan

Presiden Direktur PT Barito Pacific Tbk., Agus Salim Pangestu.

Tahun 2018, belanja modal PT Barito Pacific Tbk. mencapai US$500 juta dengan pemanfaatan sebanyak US$150 juta untuk membangun cracker (mesin pemecah nafta),  US$50 juta untuk maintenance, dan US$300 juta untuk meningkatkan produksi polietilena, ekspansi butadiena, serta menambah kapasitas etilena.

Tahun ini, pabrik patungan bersama Michelin yang bergerak di synthetic rubber ini akan mulai beroperasi di April 2018. Nantinya, produksi pabrik tersebut hanya akan dijual ke Michelin. Menurut Presiden Direktur PT Barito Pacific Tbk., Agus Salim Pangestu, permintaan produk petrokimia untuk bahan baku plastik  tidak ada masalah berarti. “Daya beli masyarakat Indonesia untuk bahan plastik masih sangat kecil, tidak lebih dari 1%. Ekonomi bagus atau jelek, orang tidak memikirkan pengaruh terhadap konsumsi plastik,” jelasnya.

Konsumsi plastik di negara maju pasti akan naik. Setiap negara memiliki karakteristik sendiri dalam hal penggunaan plastik. Negara industrial seperti Jepang, kebutuhan plastik digunakan sebagai TV, radio, dan berbagai macam healthcare. Sedangkan negara maju biasanya digunakan untuk recycle, kalkulator, handphone, dan mobil. Indonesia mulai mengarah ke penggunaan layaknya negara maju.

Selain petrokimia, saat ini Barito juga fokus di listrik dikarenakan konsumsi perkapitanya masih rendah di Indonesia. Oleh karena itu, Barito mulai mempersiapkan right issue untuk menyelesaikan akuisisi Star Energy. Seperti halnya anak usaha Barito, Chandra Asri Petrochemical (CAP), industri listrik yang dijajalnya masih dapat tumbuh dari CAP. “Mungkin jika setelah Star Energy masuk, secara konsolidasi size-nya akan seperti CAP. Barito memiliki saham 46% untuk CAP dan 66% di Star Energy. Operation size dari segi EBITDA kurang lebih besarnya sama,” ungkapnya.

Pembelian Star Energy ini dilakukan Barito sebagai power company. Star Enery sebagai kendaraan utama yang menggeluti industri energi panas bumi dan semua energi terbarukan. Dikabarkan perusahaan asal Thailand, BCBG, membeli Star Energy 33% sebesar US$357 juta. Barito membeli 66%, dua kalinya, sebesar hampir US$ 800 juta. “Sedangkan kendaraan kedua, industri batu bara atau fossil fuel. Tahun ini pembangkit batu bara akan ground breaking dan untuk pembangkit Jawa 9 dan 10 yang bekerja sama dengan Indonesia Power, mulai akhir 2018 dengan kepemilikan Barito sebesar 49%,” jelasnya.

 

Reportase: Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)