BCA Investasi Rp200 Miliar ke Beberapa Fintech Lewat Modal Ventura

 

Sumber Foto: BCA (Ist)

PT Bank Central Asia, Tbk (BCA) berinvestasi ke beberapa perusahaan rintisan (startup) yang bergerak di bidang teknologi finansial (Fintech).

Hermawan Thendean, Senior Executive Vice President Strategic Information Technology Group BCA, mengatakan, untuk tahap awal pihaknya sudah menginvestasikan Rp 200 miliar melalui perusahaan modal ventura BCA yakni Central Capital Ventura (CCV). “Sudah ada beberapa fintech yang kami evaluasi tetapi belum final, kami memprioritaskan pada fintech yang bersinergi dengan strategi bisnis BCA,” jelas Hermawan.

Aksi korporasi ini dilakukan sebagai strategi perusahaan menghadapi fenomena startup fintech yang agresif menggarap kredit multiguna, mikro dan ultra mikro. Hermawan mengaku, kehadiran fintech bisa dilihat sebagai ancaman yang disruptif, tetapi sekaligus peluang bisnis yang baru. “Mereka memiliki kelebihan yakni kemampuan data analytic yang bagus dan bisa bergerak cepat karena tidak terikat regulasi yang ketat seperti halnya kami. Kalau bank mau mengeluarkan produk baru harus memenuhi semua regulasi OJK bisa dua bulan lamanya, jadi terkesan lamban merespons pasar,” ujar Hermawan.

Subur Tan, managing Director BCA juga menjelaskan pihaknya akan menanamkan investasi ke fintech yang cukup kuat di peer to peer lending (P2P) .“Awalnya kami baru sebatas investasi, tapi tidak menutup kemungkinan apakah nanti akan tumbuh besar dan kami akuisisi, itu nanti. Tapi tahap awalnya kami masih harus pelajari dulu. Jadi sudah 2-3 fintech company yang sedang kami lirik untuk menggarap yang P2P tadi,” jelas Subur.

Bagi Subur, kehadiran fintech memang menciptakan arena persaingan yang sulit tetapi tetap tidak bertarung secara head to head. “ Saya percaya bahwa masing-masing (bank dan fintech) ada kelebihan dan kekurangannya. Karena bagaimana pun juga yang mempunyai lisensi untuk memindahkan uang itu tetap bank. Nah itu yang kami kerjasamakan, “ jelasnya. Pemindahan dana dan pengelolaan risiko yang akan menjadi bagian yang digarap BCA kelak kalau sudah bekerjasama dengan fintech binaan dibawah CCV.

Meski demikian, menurut Subur, pihaknya tetap akan memperbarui produk dan layanan eksisting guna memberikan pengalaman baru dan nilai tambah bagi nasabahnya. “Ini akan membantu menjaga loyalitas pelanggan dan CASA kami,” ujar Subur. BCA kini memiliki 14 juta nasabah eksisting yang melakukan 7 miliar transaksi per tahun. Sekitar 97% dari 7 miliar transaksi tersebut dilakukan melalui digital banking, sisanya 3% transaksi masih dilakukan secara manual di outlet atau kantor-kantor cabang BCA. “Tetapi secara nilai, transaksi lewat digital masih belum besar persentasenya dibandingkan nilai transaksi konvensional, oleh karena itu kami tetap akan memberi layanan yang baik kepada nasabah kami yang masih bertransaksi secara konvensional,” dia menegaskan.

Ke depan, selain investasi ke fintech, menurut Hermawan, BCA juga akan membangun coworking place guna mendukung maraknya perusahaan fintech yang banyak digarap anak-anak muda masa kini. “ Tempatnya tidak untuk komersial tapi murni untuk membnatu fintech meringankan biaya operasional mereka, khususnya biaya sewa tempat,” jelasnya. “Investasi di coworking place tidak besar, hanya perlu renovasi gedung dan interior saja karena kami akan memanfaatkan tempat yang sudah dimiliki BCA, untuk tahap awal kami akan mulai dari Jakarta,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)