Beko Akuisisi Konsumen Eksisting Pasar Home Applience

Arief Sukma Setiawan, Direktur Penjualan (kiri)

Sejak hadir di pasar Indonesia pada Oktober tahun lalu, Beko, merek asal Turki secara terus meningkatkan posisi pasarnya di industri elektronik Indonesia. Bukan pekerjaan mudah bagi Beko yang merupakan merek pendatang baru di tengah ramainya produk sejenis di pasaran saat ini, bahkan bersaing dengan merek-merek besar dari Eropa lain, juga merek asal Korea dan Jepang.

Selain berupaya membangun awereness kekuatan produknya, Beko juga melakukan terobosan di bidang distribusi dan pemasarannya. Disampaikan Arief Sukma Setiawan, Direktur Penjualan PT Beko Appliances Indonesia pasar elektronik di Indonesia sebenarnya kurang sehat, terutama di sisi peritel kecil atau toko-toko. “Mereka terbebani inventory produk, apalagi jika produknya berputar tidak cepat,” ujarnya saat wawancara khusus di kantor pusat Beko, di The Plaza lantai 22 Jakarta.

Lebih jauh dijelaskan Ali Cagri Gonculer, Country Manager PT Beko Appliance Indonesia sejak awal memperkenalkan produk ini di pasar Indonesia, Beko fokus pada dua hal: produk dengan kualitas terbaik dan distribusi. “Kami memang tidak melakukan kampanye di ATL (above the line), seperti TVC atau iklan di media-media konvensional. Karena kami percaya pada kekuatan produk, kami perkuat garda penjualan Beko pada pemahaman akan keunggulan Beko dengan produk sejenis di pasar,” katanya.

Ketika konsumen masuk ke toko elektronik, pihaknya menyadari, mereka akan menanyakan merek-merek yang sudah mereka kenal. Setelah mereka puas mengetahui beberapa merek lain, barulah sales Beko akan memaparkan keunggulan-keunggulan produknya. “Saat ini produk kami yang diminati konsumen sehingga mau beralih dari merek yang sudah dikenal adalah jajaran produk kulkas dengan teknologi pendingin neofrost yang sudah dipatenkan milik Beko. Teknologi ini merupakan sistem pendingin yang terpisah antara ruang pendingin dan pembeku. Sistem ini dapat menjaga kelembapan lebih lama dan dengan dua kipas terpisah
tidak ada bau tercampur antara ruang pendingin dan pembeku,” jelasnya.

Menurut Ali itu salah satu keunggulan yang dimiliki produk Beko, cara yang sama dilakukan garda sales Beko dalam upaya mengakuisisi konsumen di produk elektronik lain. Ditambahkan Arief, upaya ini ternyata cukup berhasil. Terbukti penjualan Beko berbulan tumbuh sekitar 10-20%. Untuk produk baru dengan merek yang belum dikenal, Beko memiliki kinerja cukup bagus. Sayang secara detil Arief tidak menjelaskan angka penjualannya.

Saat ini Beko masih fokus penjualan produknya di area Jabodetabek. Tidak heran, mereka belum berani melakukan kampanye melalui TVC atau iklan di televisi. Kategori produk yang tersedia di pasar pun belum seluruhnya ada seperti AC dan Televisi, saat ini belum hadir di Indonesia, walau di dunia dua produk ini termasuk yang laris. Menurut Arief, dijadwalkan dua produk laris ini akan hadir pada tahun ini.

“Kami tentu akan masuk di pasar yang penetrasinya tinggi ini, seperti TV penetrasinya bisa 40%, lalu AC memiliki pertumbuhan di atas 15%, kami sedang siapkan line produk yang cocok untuk pasar Indonesia agar baik di sini,” tutur Arief.

Ia kemudian menjelaskan upaya Beko lain dalam menggarap pasar Indonesia yaitu melalui strategi Integrated Supply Chain. “Strategi ini tidak membebani toko elektronik. Kami memang fokus menggarap toko-toko elektronik tradisional, karena sebenarnya sampai saat ini penjualan produk elektronik Indonesia 60-70% masih didominasi di jalur ini. Biaya paling besar dari toko adalah biaya inventory. Jadi jika ada pembeli dari toko rekanan kami di Bogor, kami yang akan kirim ke konsumen.

Dengan cara ini menekan logistic cost store sehingga mereka fokus di keunggulan produk ketika ada konsumen,” tandasnya. Untuk memudahkan distribusi pihaknya juga menggandeng 5 distributor besar untuk Jabodetabek.

“Saat ini kami juga sedang menggodok strategi direct selling direncanakan tahun ini akan mulai dijalankan,” kata Arief. Merek yang menggunakan FC Barcelona, klub bola dunia sebagai brand ambassador selama 20 tahu ini juga mengedepankan after sales services yang lebih unggul dari merek lain yaitu memberikan layanan 3 tahun garansi bukan saja services juga suku cadang.

“Belum ada merek yang memberikan layanan purna jual hingga ke suku cadang dalam jangka panjang,” ujarnya. Tidak heran, walau area penjualan Beko baru di Jabodetabek, awareness tentang keunggulan ini sudah meluas hingga ke Bali. Disebut Arief belum lama ini ada penjualan produk build in oven untuk sebuah proyek di Bali sebanyak 5 unit dengan harga per unit Rp 5-6 jutaan.

Ali mengakui saat ini produk Beko yang dijual di Indonesia merupakan produksi dari tiga pabriknya di Turki, China dan Thailand. “Sebagian besar produksi pabrik kami di Turki, tapi seperti merek besar elektronik lain yang memproduksi di China, kami pun ada yang dibuat di sana, tapi khusus yang small home appliance. Standar yang digunakan tetap standar Eropa, jadi secara kualitas kami jaga,” tegasnya.

Ali menargetkan dalam 5 tahun ke depan Beko baru berani memasarkan produknya hingga ke seluruh Indonesia. “Kami harus kuatkan distribusi dan kesediaan produknya dulu,” ujarnya. Selain di toko-toko elektronik, produk-produk Beko juga tersedia di official store toko online seperti Tokopedia.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)