Bekraf Pimpin Indonesia Menuju Pusat Ekonomi Kreatif pada 2030

Kepala Bekraf, Triawan Munaf

Selama satu tahun terakhir, Bekraf aktif menyelenggarakan berbagai program untuk menguatkan ekonomi kreatif nusanara, diantaranya IKKON, Archipelageek, Akatara, Docs by the Sea dan lain-lain. Semuanya dengan satu tujuan, yaitu menginklusifkan ekonomi kreatif dalam seluruh subsektor dan lapisan masyarakat.

Ekonomi kreatif menunjukkan tren positifnya melalui PDB, tenaga kerja, dan ekspor yang meningkat signifikan. Ekonomi kreatif menyumbang kontribusi PDB sebesar 922,58 triliun. Industri kreatif Indonesia juga turut mempekerjakan 14% tenaga kerja di Indonesia. Nilai ekspor industri kreatif di tahun 2016 pun 13,77%. Bekraf berhasil meningkatkan minat dan kesadaran ekonomi kreatif Indonesia.

Pada 2018, Bekraf menggagas World Conference on Creative Economy di Bali. Acara ini menjadi perhatian PBB karena menjadi konferensi resmi ekonomi kreatif dunia. Oleh karena itu, WCCE akan ditetapkan menjadi event dua tahunan dan Dubai ditetapkan menjadi negara penyelenggara konferensi selanjutnya.

“Indonesia ingin menjadi benchmark ekonomi kreatif dunia dengan memperlihatkan potensi-potensi yang ada. Untuk itu, WCCE mendatangkan 50 negara ke Bali dan melahirkan Bali Agenda. Isinya adalah negara-negara dapat berkolaborasi untuk mengembangkan ekonomi kreatif dan menetapkan Indonesia sebagai kekuatan ekonom kreatif dunia pada 2030,” papar Kepala Bekraf, Triawan Munaf. Untuk itu, Bekraf bersama Kemenlu akan mengusulkan tahun 2021 sebagai tahun ekonomi kreatif dunia sekaligus menjadikan
ekonomi kreatif dalam bagian SGD.

Disahkannya RUU ekonomi kreatif setelah hampir satu tahun diajukan juga menjadi kabar baik yang menyertai laporan capaian Bekraf. UU menjadi payung hukum ekonomi kreatif. Namun, karena ekonomi kreatif menyesuaikan zaman, maka sifatnya fleksibel dan adaptif. Bekraf juga punya program Rencana Industri Kreatif Nasional (Rindekraf), Bantuan Pemerintah (Banper), dan Satu Pintu. Semua ini menjadi benang merah rangkaian kerja strategis untuk menempatkan Bekraf menjadi bagian dari rencana ekonomi nasional.

Triawan menambahkan masih diperlukannya penguatan di berbagai subsektor ekonomi kreatif, yaitu film, musik, buku, dan kuliner.

“Di bidang film, kami mempunyai program Akatara, yaitu forum pendanaan yang mempertemukan sineas Indonesia dan para investor. Di bidang kuliner, belum ada pelaku kuliner Indonesia yang mengembangkan makanan tradisional ke luar negeri. Untuk itu, programnya harus kita intensifkan,” kata Triawan.

Ekosistem kreatif akan ditampilkan ke publik dalam Bekraf Festival 2019 yang akan dilaksanakan di Solo pada 4-6 Oktober 2019. Event ini terselenggara ketiga kalinya sejak Bekraf berdiri. Penyelenggaraan pertama di Bandung meraup 25 ribu pengunjung. Sementara, acara yang kedua di Surabaya mendatangkan 40 ribu pengunjung. Triawan berharap penyelenggaraan acara ketiga ini jumlah pengunjung semakin bertambah.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)