The Belt and Road Initiative Tingkatkan Hubungan China-Hong Kong-Indonesia

Pada 2013 China memperkenalkan The Belt and Road Initiative atau banyak dikenal umum dengan istilah "jalan sutra baru China" yang bertujuan menghubungkan Asia, Eropa, Timur Tengah dan Afrika dengan jaringan logistik dan transportasi yang luas. China menjanjikan lebih dari US$ 100 miliar untuk membiayai proyek-proyek di bawah inisiatif ini termasuk koridor China-Pakistan senilai US$ 46 miliar dan sebuah kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan China dan Singapura.

Untuk meningkatkan pengetahuan tentang keuntungan The Belt and Road Initiative ini, Hong Kong sebagai bagian dari negara ini, melalui Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) dan Hong Kong Economic and Trade Office (HKTEO) akan mengadakan seminar bertajuk “The Belt and Road Initiative: Connecting China, Hong Kong and Indonesia” pada 26 Juli mendatang di Hotel Grand Hyatt Jakarta. Diharapkan dengan seminar ini akan dipahami apa keuntungan-keuntungan yang didapat dari inisiatif ini terutama bagi Indonesia.

Pada seminar nanti akan hadir Paul Chan (Sekretaris Keuangan Wilayah Administratif Khusus Hong Kong-HKSAR), Wang Liping (Penasihat Menteri Ekonomi dan Komersial Kedutaan Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia, Dino Patti Djalal (Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia), Thomas Lembong (Ketua BKPM), Nicholas Kwan (Direktur Riset HKTDC) dan James Cameron (Co-Head infrastruktur and Real Estate Group HSBC di Asia pasifik.

Indonesia merupakan negara yang berada di dalam inisiatif One Belt, One Road ini. Dari inisiatif ini Indonesia dapat menikmati arus modal, barang, dan jasa yang lancar serta pengembangan ekonomi dan logistik yang lebih besar lagi. Direktur HKTDC Jakarta Leung Kwan Ho menjelaskan sebagai bagian dari China, Hong Kong memainkan peran yang unik sebagai super-connector dalam inisiatif Belt and Road ini. Hong Kong menikmati dukungan penuh dari Pemerintah Tiongkok dan telah diberi akses istimewa ke pasar di China. Peran ini dalam upaya memperkuat kerja sama perekonomian antara Indonesia dan China karena melihat besarnya potensi kerja sama antara Cihna, Hong Kong dan Indonesia.

Kebijakan tol laut yang dikembangkan Pemerintah Indonesia menurut Leung memiliki visi yang sama dengan inisiatif Belt and Road ini, yang bertujuan meningkatkan kemampuan maritim Indonesia. Leung menyebut salah satu contoh keuntungan dari sini adalah menekan shipping cost Makasar ke Jepang hingga 20 persen karena waktu pengiriman yang lebih pendek, yang semula memakan waktu hingga 1 bulan kini hanya 2 minggu. “Lebih banyak ekspor, memudahkan pengembangan di Timur Indonesia juga karena bisnis dan ekonomi tumbuh lebih cepat,” ujarnya. Diharapkan Cina dan Indonesia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membangun hubungan yang lebih erat dan terus meningkatkan konektivitas serta perdagangan maritim antar kedua negara.

“Hong Kong sebagai super-connector dalam inisiatif ini pada waktu bersamaan terus mempertahankan sistem common law yang didukung oleh pengadilan independen, yakni sitem yang memberikan tingkat pajak rendah, dan pasar terbuka yang memungkinkan arus bebas barang, layanan, modal dan pelancong bisnis,” jelasnya.

 

Editor: eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)