Berbagai Upaya Komunitas HR Menyambut Tren Masa Depan

Perkembangan digital yang makin pesat ditambah pandemi Covid-19 berpengaruh banyak terhadap model manajemen Human Resources (HR) masa depan. Menyadari hal ini, para praktisi maupun akademisi terkait HR saling berembuk dan berkolaborasi di dalam Asosiasi serta komunitas HR untuk dapat membantu memberikan solusi atas kondisi tersebut. Bagaimana cara mereka memberikan sumbangsih nyata bagi perkembangan HR di Indonesia?

Enam perkumpulan HR yakni FTHR (Future HR), Forum Human Capital Indonesia (FHCI) , HR Director Forum, Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM), dan OneHR, menceritakan hal-hal yang telah dan sedang mereka lakukan untuk menyambut tren HR masa depan pada Webinar 'Indonesia HR Trends and Future Readiness Amidst Pandemic Challenges' yang diselenggarakan oleh SWA dan FTHR.

Heriyanto Agung Putra, Ketua Umum PMSM, menyampaikan, pihaknya berusaha tetap produktif dengan mengoptimalkan teknologi agar bisa kontributif kepada semua anggota. PMSM telah menyelenggarakan sekitar 50 acara di tahun 2020 kemarin yang fokusnya menggali proyeksi HR masa depan. Acara diadakan dalam berbagai bentuk, mentoring, webinar, podcast, dan lain sebagainya dengan tujuan memberi nilai lebih kepada anggota dan peserta.

“Intinya adalah kami men-support agar teman-teman HR ini ke depannya menjadi orang yang strategis, tahu cara membuat alignment, dan sadar bahwa organisasi itu bukan hanya HR tetapi satu kesatuan korporasi. Kami berusaha tetap produktif dengan mengoptimalkan teknologi,” ujarnya.

Kemudian Sandra Kosasih, Co-founder OneHR, mengatakan, pihaknya terus membantu para 1.700 anggotanya untuk belajar terus terutama terkait complex problem solving, digital orientation, dan agility yang merupakan proyeksi skills yang paling dibutuhkan tahun 2025 mendatang. Selain itu juga juga membantu untuk mencari pekerjaan khususnya bagi mereka yang saat pandemi kehilangan pekerjaan, di LinkedIn melalui oneHR bersatu untuk lowongan pekerjaan.

“Jadi kami sangat real untuk membantu para HR profesional. Bukan hanya secara ilmu tapi juga secara nyata membantu para HR dalam komunitas supaya lebih berdaya,” tuturnya.

Sementara itu, komunitas HR Director Forum rutin mengadakan pertemuan informal yang belakangan ini lebih banyak membahas bantuan bagi mereka yang terkena Covid-19, tentang cara mengatasinya, cara menjadi donor konvalesen. “Sehingga dampaknya jadi banyak yang menawarkan wadah2 untuk diskusi seputar pandemi dan HR,” ujar Rizak Moeslichan, perwakilan dari HR Director Forum.

Sebagai forum para Direktur HR BUMN, FHCI mencatatkan dua hal penting yang terjadi di hampir semua BUMN terkait pola manajemen SDM selama pandemi, bahwa para leaders ikut turun langsung untuk memberikan empati dan proteksi yang luar biasa kepada karyawan dengan dengan membangun employee wellness, employee wellbeing. Kedua, terjadi akselerasi digital yang besar karena muncul acra kerja baru dan karakteristik pelanggan yang berubah.

“Ini mendorong kita FHCI untuk memberikan value terhadap kondisi ini. Yang sedang kami lakukan adalah bagaimana melakukan adaptasi kebiasaan baru terhadap bisnis maupun karyawan,” ujar Dharma Syahputra dari FHCI.

Lalu Yunus Triyonggo, Chairman dari GNIK, menyebut bahwa pihaknya sangat terbuka bagi siapapun tidak hanya praktisi HR, karena GNIK adalah sebuah platform untuk meningkatkan kompetensi. Dengan ribuan training center yang dimiliki, GNIK ingin SDM Indonesia bisa unggul. Saat ini sudah ada 31 area director, yang bekerja volunteer, semata untuk memikirkan cara meningkatkan kompetensi di wilayah masing-masing. GNIK tengah melaksanakn survei untuk proyeksi kebutuhan SDM di tiga sektor utama (pariwisata, ICT, otomotif) bekerja sama dengan Kemenaker.

“Dari situ kemudian kami akan bergerak ke sertifikasi kompetensi di setiap bidang, kami akan menggerakkan semua LSP. Lalu kami juga sudah ada kerja sama dengan Cornell University, tahun depan akan melakukan survei bersama dalam hal mapping tentang kompetensi bagi anak-anak indonesia,” paparnya.

Audi Lumbantoruan, Founder & Chairman FTHR, mengungkapkan, pihaknya banyak melakukan hal di tengah pandemi ini, antara lain menyelenggarakan webinar future connect hingga 340 sesi yang paling banyak membicarakan tentang visibility terhadap kondisi HR saat ini. Intinya, kata Audi, FTHR ingin menjadi komunitas HR yang berfokus pada human experience.

“Fokus dari FTHR adalah beradaptasi dengan tantangan masa depan. Kami bersyukur bahwa di tahun ini banyak hal yang kami pelajari. Kami merasa perlu adanya kebersamaan belajar dari apa yang kita hadapi,” ujar Audi menutup sesi.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)