Berbahaya, Jika Persaingan Hanya Fokus pada Kompetitor

Persaingan  head-to-head  antar merek terjadi di semua lini usaha. Salah satunya yang cukup kontroversial dialami oleh moda transportasi taksi konvensional dan online.

Kini, perusahaan taksi tak hanya bersaing dengan bisnis yang sejenis, masuknya konsep transportasi online juga menjadi lawannya di era disruptif ini. Menurut pengamat pemasaran Tanadi Santoso, yang berbahaya dalam persaingan ini adalah pelaku bisnis hanya fokus pada kompetitor saja. Padahal dari lain penjuru dapat , kompetitor bisa masuk tiba-tiba dan poisisinya merangsek. Hal ini terjadi pada industri startup yang rata-rata masuk dalam persaingan dengan cara seperti ini. Plaku bisnis baru terkaget-kaget saat mereka sudah menjadi besar.

Tanadi juga mengungkapkan bahwa semakin lama kompetisi terjadi, membuat bisnis semakin kompleks. Terlebih adanya kemajuan teknologi akan menyebabkan kecepatan yang luar biasa. “Perusahaan yang dapat terus melakukan inovasi dan mempunyai kemampuan cepat untuk beradaptasi terhadap kondisi baru adalah mereka yang akan mendapatkan keuntungan yang paling besar,” ujarnya. Dalam 10 tahun ke depan, perusahaan akan terus dituntut untuk berkembang, menjadi lebih efektif dan berinovasi dengan lebih dinamis.

Selain itu, persaingan yang terjadi tak hanya bisnis konvensional dan online saja, namun sesama startup kini juga berlomba menjadi yang terbaik. Di dalam negeri, kompetisi antara Go-Jek dan Grab menjadi salah satu contohnya. Persaingan mereka lebih pada berlomba memberikan kebutuhan masyarakat lebih dari transportasi saja. “Seperti Go-Jek dengan Go-Life (Go-Food, Go-Send, Go-Glam, Go-Massage, Go-Clean). Dengan melihat value yang mereka miliki (transportasi) dan melihat kebutuhan pasar, Go-Jek menciptakan pangsa baru bagi mereka,” ungkap Tanadi.

Terkadang kompetisi head-to-head tidak harus selalu dihadapi dengan promosi harga atau promosi above-the-line yang mahal. Salah satu hal efektif yang dilakukan Go-Jek adalah meningkatkan kompetisi mereka dengan berinovasi dan menciptakan value baru yang diminati pelanggan.

“Paling mendasar adalah pimpinan mengetahui keunggulan yang dimiliki perusahaan mereka dan terus melakukan inovasi berbasis pelanggan. Karena itu perusahaan harus dapat bergerak dengan cepat saat berinovasi dengan menggunakan teknik iterasi, yaitu melakukan desain dan test sample market berulang dengan menggunakan masukan dari sample market dan stakeholder yang beragam,” jelasnya.

Menurutnya, cara ini lebih efektif dalam melakukan inovasi karena mampu menurunkan biaya inovasi yang tinggi dan meningkatkan keberhasilan inovasi perusahaan. Tanadi juga menghimbau agar pebisnis memiliki mental yang dapat beradaptasi terhadap VUCA, mengamati fenomena yang ada di sekitar, pengalokasian bujet untuk inovasi, menciptakan kebiasaan baru yang relevan pada perubahan, dan memanfaatkan semua lini bisnis. “Kadang perlu keberanian untuk melangkah, sebuah ‘leap of faith’ dalam mengejar sebuah action baru yang berbeda,” ungkapnya.

 

Reportase: Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)