Bio Farma Targetkan Pertumbuhan Double Digit

PT Bio Farma (Persero) menargetkan penjualan bersih tahun ini naik tipis, yaitu 9% dibanding tahun 2017.

Corporate Secretary PT Bio Farma, Bambang Heriyanto, menyebutkan, pada 2017 lalu, penjualan bersih Bio Farma mencapai Rp 3 triliun.

Selain penjualan bersih, Biofarma juga menargetkan peningkatan laba bersih 10,6%  pada 2018 senilai Rp500 miliar. Target peningkatan juga ditetapkan pada total aset Biofarma, yaitu 20,7% dari total aset pada 2017 yang mencapai Rp 6,5 triliun.

Bambang mengatakan, selama ini penjualan produk Bio Farma yang paling laris di pasaran adalah vaksin polio. Bio Farma pun sudah mengekspor vaksin tersebut ke banyak negara. ''Berbagai produk Biofarma selama ini sudah diakui dunia dan diekspor ke 132 negara,'' ungkap dia.

Bambang menjelaskan, Bio Farma telah merancang tiga strategi perusahaan: strategi produk, pengembangan bisnis dan keuangan. Khusus untuk strategi produk, prioritas utama Biofarma difokuskan pada vaksin dan antisera (blood product dan biosimilar), meningkatkan portofolio produk dan mempertahankan pasar.

Menurutnya, pada 2018 ini Bio Farma semakin mantap untuk masuk dalam industri lifescience. BUMN farmasi ini  mengembangkan produk  lifescience baru, di antaranya sejumlah vaksin baru, imunosera, biosimilar atau antibiodi monoklonal, stem cell, kit diagnostik & blood product. ''Bio Farma sudah lebih dari 127 tahun berkecimpung mendedikasikan diri untuk umat manusia, baik di Indonesia maupun dunia.

Sementara itu, Peneliti Senior Bio Farma, Dr. Neni Nurainy ,mengatakan, produk biopaharmaceutical dan biosimilar atau produk biologi merupakan peluang bagi Indonesia dalam menyongsong era kemandirian bahan baku obat nasional.

Neni mengatakan, dalam mengembangkan obat terdapat beberapa tantangan, di antaranya tantangan global, tantangan dalam negeri dan kemauan IPTEK farmasi Indonesia. Jumlah produk obat di pasaran, kata Neni, semakin sedikit. Sebab, butuh waktu 10 hingga 20 tahun untuk melakukan pengembangan.

“Ada ketidakpastian dikarenakan memerlukan uji klinis agar obat atau produk biologi ini bisa aman dan bisa berkhasiat untuk manusia. Aturan industri biotek makin ketat sekali dan dalam mengembangkan obat harus sejalan dengan regulasi, karena utuk keselamatan dan keamanan utntuk manusia itu sendiri,” kata Neni di Media workshop "Towards a Leading Lifescience Company" bersama Bio Farma di Cirebon, Jawa Barat.

Tantangan dalam negeri, lanjut Neni, pasar farmasi di Indonesia cenderung meningkat, namun alokasi biaya kesehatan di Indonesia dibandingkan Gross Domestic Product  masih rendah, jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya, seperti Malaysia, Singapura , Thailand. Hal tersebut terjadi karena sekitar 90 hingga 95 persen bahan baku yang digunakan untuk memproduksi obat di Indinesia didatangkan dari luar negeri. Untungnya untuk vaksin, bahan aktifnya diproduksi berasal dari dalam negeri.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)