Bisnis 3-D Printing SugaCube Besutan Harry Liong

Harry LiongTeknologi semakin canggih. Kita bisa mengabadikan momen-momen penting tidak hanya dengan selfie atau foto bareng di studio. Kini kita bisa mencetak diri kita sendiri atau membuat pantung kita sendiri secara persis sama lewat teknologi 3-D printing atau percetakan tiga dimensi. Pelanggan yang berminat bisa mengirimkan foto atau datang langsung ke studio penyedia teknologi 3-D printing.

Adalah SugaCube yang merupakan perusahaan rintisan yang fokus pada produksi patung tiga dimensi dengan teknologi 3-D printing. Boleh dibilang, di Indonesia belum banyak perusahaan seperti ini sehingga bisa dikatakan SugaCube merupakan salah satu pelopornya.

SugaCube yang didirikan oleh Harry Liong hadir sejalan dengan perkembangan industri seperti fotografi, percetakan, dan bisnis hiburan yang semakin pesat dan kompetitif di Indonesia. Kita bisa melihat sendiri perkembangan industri bridal yang perputarannya sangat cepat. Hal ini sejalan dengan adanya lokasi baru atau berdirinya hotel demi hotel baru yang digunakan untuk pernikahan, pesta, wisuda, dsb. Tak mengherankan, wedding photography pun sudah meledak.

Dari sana kami mikir terutama karena ada market-nya dulu. Sekitar 2013-2014 saya sudah mengamati market-nya kayak gimana. Memang budaya Indonesia agak sedikit spending ke area seperti itu,” ujar Harry. Bahkan, ketika banyak muncul film superhero, banyak juga yang ingin foto berbadan superhero tetapi dengan personalisasi wajahnya alias wajah sendiri. Sejalan dengan itu, munculah alat bernama 3-D scanning yang biasa dipakai untuk museum atau untuk semua peralatan medis. Nah, di 2013, muncul juga bisnis 3-D scanning dan printing di Spanyol.

Untuk mendirikan SugaCube, Harry pun harus banyak belajar, termasuk belajar via YouTube dan melakukan riset selama dua tahun. “Bisnis 3-D adalah sesuatu yang beda, customized, personalized, jadi satu per satu,” kata Harry yang berasal dari keluarga pebisnis tekstil di Bandung. “Selain itu, saya sempat lima tahun di bisnis chroming, atau pewarna lapisan. Itu pabrik saya di Karawang, menyediakan jasa untuk sparepart Yamaha dan Honda. Dari sana belajar soal kimia, mesin, cara kerja yang benar,” ungkapnya.

Latar belakang yang berbeda itu membuat Harry harus belajar banyak cara menggunakan mesin 3-D scanning dan 3-D printing sehingga saat itu ia belum berani memutuskan untuk membeli mesin dan berinvestasi. Pada saat itu pun tidak ada buku, pedoman, atau mata kuliah yang bisa memberi tahu apa yang harus ia lakukan untuk membuat bisnis 3-D scanning dan 3-D printing. Bahkan, di Spanyol pun belum bisa mewaralabakan bisnisnya. Namun, Harry terus belajar pada perusahaan di Spanyol sambil membeli alat atau mesinnya. Setelah itu barulah pada April 2014, ia mulai mendirikan studio SugaCube di Bandung.

Mesin yang dibeli Harry seharga Rp 1,5 miliar, karena memang itu mesin industri yang ukurannya cukup besar, sebesar mobil. Ia harus memesan mesin itu dari Jerman dan Amerika Serikat. Harga mesin Rp 1,5 miliar itu sudah termasuk pelatihan selama beberapa bulan untuk mengoperasikan mesin. Kemudian, ia juga membeli printer 3-D. “Karena tidak ada yang mengajari kami, kami bikin sendiri 3-D scanning-nya. Kami menggunakan 75 kamera untuk investasi. Kami akhirnya pakai 3-D scanning photogrammatery yang mempermudah orang untuk di-scan. Mereka hanya berpose, lalu 75 kamera itu akan mengambil data seluruh tubuhnya secara berbarengan dalam waktu sekejap,” ia menjelaskan. Harga untuk membeli 75 kamera plus software dll. tidaklah murah. Total jenderal, modal awal untuk membesut bisnis ini sebesar Rp 3 miliar, termasuk gedung dan yang lain.

Bicara harga yang ditawarkan untuk produknya kepada pelanggan, SugaCube mematok Rp 1,5 juta untuk produk patung 3-D paling kecil ukuran 8 cm. Kemudian, ada juga yang berukuran 12 cm, 15 cm, sampai 20 cm atau ukuran mini junior, mini, dan small-medium. Sebenarnya yang lebih kecil lagi ada, tetapi semakin kecil semakin kurang detailnya. “Sebagai market baru, kami menjual dengan harga Rp 4 juta ke bawah. Kalau request bisa lebih besar sampai 36 cm. Harga paling tinggi untuk satu figur Rp 20 juta. Tapi kalau dia mau buat setengah badan, kami bisa buat dengan harga Rp 30 juta. Harga-harga itu per satu orang,” ujar Harry berpromosi. Adapun target pasar yang dibidik bervariasi, terutama bagi mereka yang ingin melakukan perayaan. Seperti pernikahan, ulang tahun, gathering, wisuda, dan berbagai momen spesial lainnya yang ingin diabadikan.

SugaCube pun mulai dikenal melalui info di televisi, majalah, radio, serta media sosial seperti Facebook dan Instagram. Selain itu, Harry juga bekerjasama dengan beberapa artis untuk membantu bisnis patungnya. “Kalau saya didatangkan ke sebuah talkshow, tidak mungkin saya datang dengan tangan kosong. Jadi, saya bikinkan patung untuk artis yang jadi host-nya supaya audiens bisa melihat kemiripan dengan host-nya. Dan, host-nya itu kemudian posting di media sosial,” katanya.

Promosi sangat penting karena masih banyak yang belum tahu teknologi 3-D printing sudah ada di Indonesia, bahkan banyak yang kaget. Tak sedikit mereka yang ingin membuat patung 3-D harus datang ke Jerman atau Jepang. Padahal, di Indonesia sudah ada. Salah seorang yang kaget dan datang ke SugaCube adalah penyanyi Ariel Noah. Bahkan, Ariel datang dengan membawa patungnya yang dibuatnya di Jerman untuk dilakukan perbandingan dengan produk SugaCube. “Dia (Ariel) langsung kasih lihat saya, bagaimana detail dan warna patungnya dari Jerman. Kami dipinjami Ariel,” kata Harry. Jadi, memang pasar cukup antusias dengan hadirnya terknologi 3-D printing ini.

Untuk omset bisnisnya, Harry mengakui kondisinya naik turun. “Kadang ada bagus, kadang tidak. Sesepi-sepinya sekitar Rp 30 juta-50 jutaan. Kalau lagi besar, bisa Rp 100 juta-200 juta. Itu juga tergantung kalau kami dapat order besar, misalnya satu orang atau perusahaan yang mau order banyak,” ucap Harry. SugaCube setiap tahun tumbuh kurang-lebih 30%. “Tahun lalu, kami sempat ekspor ke Amerika. Walaupun saya sangat bingung kenapa mereka memesan ke kami orang Indonesia,” cetusnya.

Ke depan, dengan teknologi seperti ini, SugaCube akan merambah industri Augmenteed Reality (AR). “Kami juga harus tetap main di dunia digital. Bisa jadi main di konten dll.,” katanya. Hal ini sejalan dengan bisnisnya karena AR itu seperti animasi hasil scan 3-D yang dibuat bergerak secara digital.

Menurutnya, saat ini pun 3-D printing sedang berjalan ke arah melawan dunia yang melakukan mass production. Kenapa mass production, salah satu industri yang saat ini tingkat sampahnya paling besar adalah baju. Industri besar di tekstil, mereka produksi segitu banyak baju dengan sangat cepat, tetapi pemakai dan pembelinya hanya berapa persen. Sisanya mungkin mereka donasi, tapi baju tidak bisa didaur ulang sehingga jadi sampah. “Apa yang 3-D printer lakukan ke depannya, kalau kamu mau, kami bisa print-kan Anda baju by demand. Jadi, pelanggan mau baju tertentu, baru akan di-print di toko terdekat dan dibuat dengan mesin, bukan orang,” katanya serius.

Dalam pandangan Yoris Sebastian, tantangan bisnis seperti SugaCube adalah rentan kompetisi. Kompetitor yang memiliki modal besar tentunya akan dengan mudah meniru karena belum ada competitive advantage-nya. Misalnya, ada korporat yang investasi besar-besaran dengan gampang membeli alatnya sehingga bisa membuat bisnis seperti SugaCube. Maka, SugaCube harus memiliki unique selling preposition dari bisnisnya. “Mereka harus mencari sesuatu yang bisa ditambahkan. Misalnya kalau bikin patung, patungnya dicat menjadi full color. Kalau dia yang mewarnai, pasti paling bagus sehingga menjadi nilai lebihnya,” ujar pengamat industri kreatif ini. Dan yang pasti, bisnis 3-D scanning dan 3-D printing ini akan tumbuh ke depan, kendati alatnya akan semakin murah sehingga kompetisinya akan sengit. (*)

Dede Suryadi dan Nisrina Salma

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)