Bisnis Inda di Pulau Dewata

Bagi Anda yang menyukai petualangan, saat berlibur ke Bali, sudah pernahkah mencoba rafting menyusuri Sungai Ayung di Ubud? Dijamin Anda akan ketagihan merasakan sensasi berselancar sembari menyaksikan pemandangan elok di sepanjang aliran sungai.

I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo YudhaAdalah I Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yudha, yang biasa disapa Inda, pengelola salah satu bisnis rafting yang tengah moncer, Ayung Rifter Rafting. Setelah menamatkan pendidikan di International College Hotel Management South Australia pada 1999, Inda menata ulang manajemen bisnis keluarganya dengan menguatkan bidang hospitality dan profesionalisme sesuai dengan bidang ilmu yang digelutinya. “Sebelumnya, manajemen keluarga sangat kental, hospitality sangat lemah sehingga sulit untuk bisa bersaing,” katanya menceritakan.

Beragam inovasi dilakukan Inda sehingga membawa bisnis keluarganya di Pulau Dewata ini semakin berkembang. Dari semula hanya rafting, kemudian berkembang dengan merambah bisnis cycling dengan mengibarkan bendera Ayung Cycling, elephant riding (Bali Elephant Camp), tracking (Ayung Trekking), horse riding (Bali Horse Riding), Safari Go Topless, dan terakhir chocolate factory (Pod Chocolate). “Kami kemas semuanya itu dalam satu paket yang dinamakan A True Balinese Experience, pengalaman liburan Bali yang sesungguhnya,” ungkap Inda yang ditemui SWA di Pod Bali Chocolate, Sunset Road, Kuta, Bali.

Inda mengakui, bukan hal yang mudah meneruskan bisnis keluarga saat usianya masih 23 tahun. Pasalnya, karyawannya menganggap Inda sebagai anak atasan, bukan sebagai atasan. Saat itu, Inda menawarkan model bisnis yang didominasi spirit ekowisata dengan memberdayakan masyarakat pedesaan. Hal itu mengacu pada community development yang memadukan sisi konservasi, wisata, dan budaya di Desa Carangsari, Kabupaten Badung, Bali yang juga merupakan desa kelahiran kakeknya, pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai.

Inda tidak hanya disibukkan bisnis keluarganya. Wanita kelahiran Denpasar, 18 Desember 1976, ini juga aktif di berbagai organisasi yang membuat jejaring bisnisnya semakin luas. Seperti pada 2007, ia terpilih sebagai Presiden Junior Chamber International (JCI) Bali, kemudian terpilih sebagai Ketua HIPMI Bali 2013-16. Sebelumnya, Inda juga sempat menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Pariwisata dan Bendahara Umum KNPI Bali.

Di 2005, Inda pernah dipercaya Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Bali yang merupakan lembaga konservasi yang mengelola taman satwa gajah Sumatera. Dari aktivitas itu, ia mendirikan Bali Elephant Camp dengan 60 ekor gajah yang kini sudah bertambah dengan tiga bayi gajah. Ia juga membuat Bali Horse Riding yang awalnya hanya enam ekor kuda, sekarang sudah berkembang menjadi 23 ekor yang bisa ditunggangi untuk menyusuri Pantai Saba, Gianyar.

Keterlibatan di bisnis cokelat berawal dari perjalanan Inda dan suaminya, Tobias Challenger Garitt, ke Eropa. Di sana, keduanya menemukan hampir seluruh produk cokelat di toko dan pabrik cokelat di Paris. Yang menarik, ternyata berbagai cokelat tersebut berbahan baku kakao yang berasal dari Indonesia karena Eropa sama sekali tidak memiliki kebun cokelat, tetapi bisa menjadi produsen cokelat bar terbaik dunia. “Saya jadi teringat gajah-gajah di Bali Elephant Camp, yang dalam setiap tour, kami biarkan menginjak tanaman-tanaman kakao yang tumbuh di areal taman wisata yang tidak pernah kami rawat dengan serius. Kenapa kita yang punya bahan baku malah menyia-nyiakannya. Pemerintah waktu itu juga sedang gencar mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan nilai tambah produk-produk pertanian dan perkebunan,” ungkapnya mengenang.

Inda bersama sang suami pun mulai melakukan riset untuk mengolaborasikan pengolahan cokelat dengan konsep wisata yang sudah mereka geluti bertahun-tahun. “Kami benar-benar mulai dengan trial and error. Lewat riset, kami identifikasi seluk-beluk pengolahan cokelat, mulai dari proses pengolahan biji kakao sebelum diolah menjadi cokelat, mencari mesin produksi, menentukan pangsa pasar, hingga menyusun konsep agar bisa digabungkan dengan produk-produk wisata yang sudah dikembangkan A True Bali Experience,” kata Inda yang sempat mengalami tutup mesin pengolah cokelatnya terlepas dan melayang saat awal keduanya mulai memproduksi cokelat.

Di 2013, pasangan suami-istri ini akhirnya bisa meluncurkan cokelat premium pertamanya yang diberi nama Pod Chocolate dengan perusahaannya bernama PT Bali Chocolate yang lokasi pabriknya menyatu dengan Bali Elephant Camp. “Pod” berarti buah kakao dalam bahasa Latin.

Setelah semakin serius berbisnis cokelat, Tobias yang akrab dipanggil Tobby pun meninggalkan kesibukannya di bidang travel dan energi alternatif agar bisa secara total menggarap bisnis baru mereka. Tobby menangani mulai dari produksi hingga merancang kemasan, sedangkan Inda bertugas membuka jalur pemasaran. ”Cocok dengan karakter saya yang mudah berkomunikasi dengan orang-orang sekitar,” ujar Inda sambil tersenyum.

Agar bisnis cokelatnya diminati pasar, Inda memberi pengunjung pengalaman melihat proses pembuatan cokelat secara langsung, mulai dari proses pemetikan di lahan perkebunan hingga mencicipi produk akhir melalui paket Fresh Chocolate Making Tour. Selain itu, varian rasa Pod Chocolate pun semakin banyak. Awalnya hanya memiliki lima varian rasa, tetapi sekarang sudah ada sekitar 23 varian rasa cokelat batangan berukuran 45 gram dan 100 gram dengan harga Rp 29.900 dan Rp 49.900 per batang, mulai dari classic bar, nectar bar, hingga truffles dan pralines dengan kandungan cokelat dari 29% white chocolate hingga 80% extra dark chocolate. Khusus nectar bar Pod diramu dengan tambahan komposisi rempah khas Indonesia, seperti kayu manis, daun mint, jahe, kunyit, cabai, pisang, dan rosela.

Tidak hanya chocolate bar, Pod juga memproduksi chocnut spread. Memang, membuat produk premium yang dibungkus dengan kemasan bagus menjadi strategi Inda sebagai pemain baru untuk menembus pasar cokelat yang cukup menggiurkan. Maklum, cokelat merupakan camilan favorit keempat setelah pastry, biskuit, dan permen. Hanya saja, masyarakat Indonesia rata-rata hanya mengonsumsi 300-400 gram cokelat per tahun, jauh di bawah Swiss yang mencapai 8,8 kg atau negara tetangga Malaysia yang mencapai 1,1 kg.

Untuk mendapatkan kakaonya, walaupun sudah ada komunitas petani kakao, Inda mengaku cukup kesulitan merangkul petani yang telanjur trauma dengan harga kakao yang dibeli tengkulak hanya seharga Rp 10 ribu/kg, sedangkan tengkulak bisa menjualnya hingga Rp 30 ribu/kg. Alhasil, banyak petani yang menelantarkan kebun cokelatnya daripada menderita kerugian karena tidak sebandingnya harga jual dengan biaya pemeliharaan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Inda mengajak kerjasama seorang petani yang kebunnya kemudian dikelola dan diintensifkan untuk paket wisata Pod Chocholate Tour. Ketika program ini berjalan cukup baik, barulah petani-petani sekitarnya tertarik untuk merawat dan menjual hasil kakaonya ke pabrik Pod walaupun terkadang Inda masih harus mendatangkan kakao dari daerah lain untuk persediaan bahan baku. Meskipun Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia, pertanian kakao masih dilakukan secara tradisional sehingga produktivitasnya pun rendah. Selain itu, juga karena rendahnya minat petani membudidayakan kakao karena rendahnya pendapatan dari bahan baku cokelat tersebut.

Cara pemasaran, selain di lokasi pabrik, awalnya Inda menyasar hotel-hotel bintang lima di seputaran Bali. “Kami perkenalkan cokelat lokal kelas premium kepada para turis di Bali. Kami berusaha menggantikan cokelat-cokelat impor di hotel berbintang,” ungkapnya.

Setelah hotel berbintang, Inda merambah
supermarket yang pangsa pasarnya adalah wisatawan yang sedang berkunjung ke Bali, duty free shop dan Bandara Ngurah Rai, serta Pod Café and Shop di daerah Sunset Road, Kuta, hingga Surabaya dan Jakarta. “Pod lebih cepat dikenal karena kami berhasil masuk bandara,” ujar Inda yang membuka Linggayoni Butik di Seminyak Village sebagai penyaluran hobinya mendesain pakaian.

Pabrik cokelat pertamanya yang berkapasitas produksi 5 ton per bulan sudah tidak mampu memenuhi permintaan pasar. Akhirnya, pada 2016, Inda membuka pabrik keduanya di jalur wisata Denpasar-Bedugul, Desa Benong Mengwi, yang berkapasitas 45 ton per bulan. ”Kami memang sangat tertib, tidak mau cepat-cepat menikmati hasil. Hasil yang kami peroleh kami pakai untuk memperkuat fondasi. Kami baru bisa memenuhi pasar dalam negeri, tapi memang sudah ada rencana memasarkan ke luar negeri, terutama Jepang,” ujar ibu dua anak penggemar yoga ini. Ia juga berharap suatu saat Pod Chocolate akan menjadi salah satu produk oleh-oleh khas Bali.

Untuk itu, Inda selalu memperhatikan kualitas produk, pelayanan, dan pemasaran tanpa melupakan sustainability bisnisnya. “SDM menjadi aset terbesar kami. Sebagai pemilik, kami hanya mengonsep dan mengevaluasi. Perusahaan ini tidak akan berjalan sendiri tanpa SDM. Secara keseluruhan bisnis yang dijalankan harus ada class and taste sehingga Pod menjadi salah satu leading product,” ujar Inda yang saat ini memiliki 150 pegawai termasuk pegawai harian. (*)

Silawati dan Dede Suryadi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)