Bisnis Media Tidak Lagi Hanya Bergantung pada Iklan

Dian Gemiano, Chief Marketing Officer KG Media Indonesia

Industri media terkena dampak disrupsi yang sangat hebat. Hal ini ditandai dengan jatuhya banyak media cetak dan menjamurnya media daring. Bahkan Kompas Gramedia Media (KG Media) sebagai grup perusahaan besar, juga mengalami masalah yang sama. Dian Gemiano, Chief Marketing Officer KG Media Indonesia, mengatakan bahwa banyak anak perusahaan majalah yang tutup.

Lantas, langkah apa yang mereka lakukan dalam kondisi terjepit perubahan zaman? KG Media melakukan serangkaian gerakan bisnis untuk menyelamatkan diri. Pertama, mentransformasi media cetak ke digital mulai dari segmen news hingga entertainment.

Kedua, menyatukan berbagai portofolio yang ada. "Kami memiliki beragam portofolio bisnis, ada media, hotel, properti, toko buku. Bisnis bidang media yang tadinya terpecah-pecah disatukan menjadi KG Media. Kami sadar bahwa media terdisrupsi sangat berat dan langkah ini relevan," terang Gemi pada acara Ideafest di Jakarta, Sabtu, (5/10/2019).

Langkah ketiga adalah dengan membuat solution unit. Gemi mengatakan, "Kami dan sepakat bahwa integrasi harus menggabungkan added value. Kami memiliki solusi service unit untuk konsultan branding, content marketing, dan lain-lain. Media kini tidak lagi bisa jualan inventory (iklan) saja."

KG Media juga membentuk unit inkubasi, yakni Kompasiana dan Pijaru. Tugas mereka adalah mencari model bisnis baru di media. Menurut Gemi, advertising business model bukan sesuatu yang bisa dipegang keberlanjutannya karena tergerus perusahaan teknologi. "Faktanya, 70 persen duit digital ada di Facebook dan Google. Publisher hanya memperebutkan 30 persennya," ujar dia.

Sementara itu, dalam pendekatan konten, KG Media memiliki dua kutub berseberangan, yakni Kompas dan Tribun. "Kami beruntung punya polarisasi. Prinsip utama founder kami waktu pertama lahir adalah menjadi media netral, di polarisasi media ke kiri dan ke kanan," terang Gemi.

Agar Kompas menjadi netral dan independen, grup harus menjadi independen juga secara finansial. "Untuk menjadi financial independent, saat ini business model media ada di advertising, yakni bergantung pada page view," tambah Gemi.

Singkatnya, page view menjadi sumber finansial bagi media. Dalam KG Media, Tribun menjadi pemain di dalamnya, yakni mengejar volume dan sangat ahli dalam Search Engine Optimization (SEO). "Tribun membuat konten yang banyak disukai orang dan mengerti cara algoritma bekerja. Sementara itu, Kompas bertujuan untuk membuat pengaruh dan mendorong pembuat keputusan. Kedua peran itu tidak bisa disatukan," kata Gemi.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)